Sejumlah anggota Komunitas Sepeda Tua Indonesia Surabaya mengayuh sepeda melintasi Jalan Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (17/8/2021). Dari ribuan pahlawan kemerdekaan, hanya sedikit yang namanya terukir di buku-buku sejarah. | ANTARA FOTO/Didik Suhartono

Tuntunan

07 Nov 2021, 03:33 WIB

Bukan Sekadar Pahlawan

Dari ribuan pahlawan kemerdekaan, hanya sedikit yang namanya terukir di buku-buku sejarah.

OLEH A SYALABY ICHSAN

November kerap dikenang sebagai bulan pahlawan. Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya menjadi momentum betapa bulan ini penuh dengan jejak darah para pejuang.

Teriakan takbir Allahuakbar dari suara Bung Tomo, seorang orator dari Gerakan Rakyat Baru, lewat gelombang radio menghidupkan asa arek-arek Suroboyo. Ancaman pasukan sekutu yang mengultimatum agar mereka menyerah sebelum 10 November 1945, pukul 06.00 WIB pagi, tak dihiraukan. Mereka lebih memilih bertempur dengan senapan dan bambu runcing menghadapi pesawat-pesawat tempur pasukan sekutu. 

Ribuan nyawa menjadi korban perang tak sebanding itu. Meski kalah dalam pertempuran tak seimbang, para pejuang tetap menegakkan kepala. Pasukan Inggris bahkan bisa dipukul mundur sementara.

Di sisi lain, pertempuran yang terjadi hanya tiga bulan setelah proklamasi memperlihatkan kepada dunia jika bangsa Indonesia ada. Dengan bekal Resolusi Jihad dari para kiai untuk melanjutkan perang fi sabilillah, kaum pejuang bertekad untuk melanjutkan perjuangan hingga tetes darah penghabisan.

Dari ribuan pahlawan kemerdekaan, hanya sedikit yang namanya terukir di buku-buku sejarah. Kementerian Sosial bahkan mencatat hanya 191 orang yang menyandang gelar pahlawan hingga 2020.

Tidak sedikit para pejuang yang bahkan memilih tidak dimakamkan di taman makam pahlawan. Bung Tomo dan Bung Hatta menjadi contoh tokoh pejuang yang berwasiat agar dimakamkan di tempat permakaman umum bersama rakyat yang mereka bela.

Wasiat dari mereka menandakan keikhlasan mendalam para pejuang akan baktinya. Di dalam sirah, kita juga saksikan betapa dalam ketawadhuan para mujahid yang berjuang hanya karena Allah SWT.

Salah satu contohnya adalah Abdullah Ibnu al-Mubarak, seorang ulama mujahid yang menampakkan keperwiraannya dengan wajah tertutup imamah. Keharuman nama Ibnu Mubarak, seorang ulama dan saudagar yang hidup pada 118 Hijriyah, terekam dalam kitab Siyar al-A’lam an-Nubala. Dalam kitab tersebut diceritakan sebuah peperangan antara kaum Muslimin melawan Romawi.

photo
Anggota TNI bersama petugas kebersihan melakukan aksi bersih di Taman Makam Pahlawan (TMP) Panaikang di Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (4/10/2021). Aksi bersih TMP tersebut untuk dalam rangka menyambut HUT ke-76 TNI pada 5 Oktober 2021. - (ANTARA FOTO/Arnas Padda/yu/foc.)

Enam mubariz (pasukan) Muslimin gugur di tangan seorang tentara Romawi bertubuh tinggi besar. Setelah itu tak ada lagi tentara Muslim yang berani menyambut tantangan pasukan dari Romawi itu.

Tiba-tiba di antara keheningan tersebut majulah salah seorang penunggang kuda dengan gagah perkasa menyambut tantangan sang jawara. Pertarungan satu lawan satu itu tampak tak seimbang.

Tentara Romawi dengan tubuhnya yang perkasa melawan seorang pasukan Muslimin dengan tubuh biasa-biasa saja. Meski demikian, kedigdayaan si penunggang kuda ternyata istimewa. Dia bisa menjatuhkan tentara Romawi itu dalam waktu singkat. Semangat juang pasukan Muslimin pun meningkat berkat si penunggang kuda nan misterius. 

Setelah tidak ada satu pun pasukan Romawi yang berani menghadapinya, dia kembali ke pasukan dengan memutar dan menghilang di antara pasukan. Tidak ada satu pasukan kaum Muslimin yang mengenalinya hingga dia mengatakan kepada Abdullah bin Sinan: “Wahai hamba Allah, jangan engkau ceritakan kejadian ini kepada seorang pun selama aku masih hidup.”

Sang penunggang kuda tersebut tak lain adalah sang alim Ibnu al-Mubarak, sosok yang wara’ dan amat menjauhi popularitas. 

photo
Prajurit TNI mengikuti upacara ziarah nasional dan dilanjutkan tabur bunga di Makam Pahlawan, Banda Aceh, Aceh, Senin (4/10/2021). Upacara ziarah nasional dilanjut tabur bunga di Makam Pahlawan dengan menerapkan protokol kesehatan itu dalam rangka menyambut HUT ke-76 TNI tanggal 5 Oktober 2021. - ( ANTARA FOTO/Ampelsa/foc.)

Kisah kepahlawanan di atas menandakan betapa besar upaya para ulama dan pejuang untuk menjaga ketulusan niat berjuang karena Allah SWT. Apa yang disabdakan Rasulullah SAW dalam hadisnya dari Abu Hurairah dan diriwayatkan Imam Muslim, an-Nasa’i, Imam Ahmad, dan Baihaqi hendaknya bisa menjelaskan hal tersebut. 

Syahdan, seorang mujahid bersama alim dan dermawan dipanggil menghadap Allah. Orang yang merasa mati syahid pada saat hari perhitungan pun ditanya Allah SWT. “Apa yang telah kau perbuat dengan berbagai nikmat itu?” Mujahid itu menjawab, “Saya telah berperang karena-Mu sehingga saya mati syahid,” ujarnya.

Allah Ta’ala pun menyangkalnya, “Kau telah berdusta. Kau berperang agar namamu disebut manusia sebagai orang yang pemberani. Dan ternyata kamu telah disebut-sebut demikian.”

Bukan surga yang diperoleh, mujahid itu justru diseret wajahnya dan dilempar ke neraka jahanam. Dia ditempatkan di neraka bersama sang alim dan dermawan tersebut karena amalnya dikotori oleh sifat riya yang menyelimuti hatinya. 

Mahabenar Allah Ta’ala yang firman-Nya dibacakan Abu Hurairah dalam awal hadis tersebut. Ayat ini seakan menjadi hikmah pelajaran atas kisah tersebut.

"Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan." (QS Hud ayat 15-16).

Wallahu a’lam.


×