Pebulutangkis Indonesia Anthony Sinisuka Ginting merayakan kemenangan dalam pertandingan final Piala Thomas di Aarhus, Denmark, Ahad (17/10/2021). | EPA-EFE/Claus Fisker DENMARK OUT
18 Oct 2021, 03:55 WIB

Piala Thomas Pulang ke Indonesia

Bulu tangkis Indonesia akhirnya bisa mengembalikan kejayaannya di Piala Thomas.

JAKARTA -- Bulu tangkis Indonesia akhirnya bisa mengembalikan kejayaannya di Piala Thomas. Dalam partai final Piala Thomas 2020 di Ceres Arena, Aarhus, Denmark, Ahad (17/10) malam WIB, Indonesia sukses mengalahkan juara bertahan Cina 3-0. 

Keberhasilan ini mengakhiri penantian panjang bulu tangkis Indonesia yang selama 19 tahun tak pernah meraih trofi Piala Thomas, setelah terakhir kali menjadi kampiun pada 2002. Kemenangan di Denmark juga membuat Indonesia semakin memimpin sebagai negara yang paling sering menjuarai Piala Thomas.

Indonesia telah mengoleksi 14 gelar juara Piala Thomas, mengungguli Cina di posisi kedua dengan 10 trofi dan Malaysia di tempat ketiga dengan lima trofi. Indonesia bahkan pernah menjadi penguasa Piala Thomas dengan memenangkan lima turnamen tersebut secara beruntun pada periode 1994-2002. Namun, setelah itu dominasi Indonesia dihentikan Cina. Jepang dan Denmark sempat muncul sebagai juara sebelum akhirnya Cina kembali merengkuh trofi pada Piala Thomas 2018 di Bangkok, Thailand.

Dalam laga final kemarin, Indonesia sukses meraih poin pertama lewat Anthony Sinisuka Ginting. Ginting menaklukkan Lu Guang Zu 18-21, 21-14 dan 21-16. Pertarungan Ginting dengan Lu berlangsung ketat sejak awal. Lu mendapatkan poin pertama lewat bola silang yang langsung disamakan Ginting dengan smes untuk membuat skor imbang 1-1.

Ginting memainkan kombinasi permainan net dan bola lob yang kemudian diakhiri dengan smes atau netting. Namun ternyata, Lu bertahan dengan sangat baik. Bahkan, lawan yang menempati peringkat ke-27 dunia bermain dengan cara serupa.

Beberapa kali bola smes menyilang yang ditempatkan di samping gagal dikembalikan Ginting. Ginting juga kerap membuat kesalahan sendiri, termasuk netting gagal yang membuat ia tertinggal 8-11 saat interval.

Pertarungan sangat ketat untuk mengamankan gim pertama. Namun, saat skor 18-19 untuk keunggulan Guang Zu, smes Ginting menyangkut di net. Lu mengamankan gim pertama dengan smes ke sisi kanan Ginting yang tak bisa dikembalikan.

Ginting kemudian mengubah sedikit permainan pada gim kedua. Jika sebelumnya ia mengakhiri serangan dengan smes, kini Ginting lebih banyak mengandalkan tipuan. Ginting mengubah permainan menjadi lebih ofensif. Penempatan bolanya yang sulit membuat pengembalian Lu tanggung dan disantap Ginting dengan smes kencang.

photo
Pebulutangkis Indonesia Anthony Sinisuka Ginting beraksi dalam pertandingan final Thomas Cup diAarhus, Denmark, Ahad (17/10/2021). - (EPA-EFE/CLAUS FISKER )

 Poin kemenangan Ginting didapatkan dari challenge atas pengembalian Lu yang keluar, tapi dinyatakan masuk oleh hakim garis. Challenge sukses Ginting memberikan poin pertama untuk tim Thomas Indonesia. 

Ginting mengaku sempat merasakan tekanan saat tampil sebagai tunggal pertama. "Jujur saya nervous di gim pertama yang selalu tertinggal dan kalah pada gim pertama. Pastinya ada pressure," ujar Ginting seusai laga dalam keterangan PBSI yang diterima Republika.  

Ia bersyukur karena bisa bermain lebih baik pada gim kedua dan ketiga. Dia mengaku sangat nyaman dan bisa menikmati permainan.

Tim Thomas Indonesia lalu memimpin 2-0 setelah Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto mengalahkan He Ji Ting/Zhou Hao Dong 21-12 dan 21-19 dalam waktu 43 menit. Fajar/Rian sempat membuka permainan dengan canggung.

 Pengembalian yang menyangkut di net membuat He/Zhou mendapatkan poin pembuka. Kesalahan serupa kembali terulang sehingga membuat lawan menambah angka dan pertandingan menjadi ketat. Namun, setelah imbang 8-8, Fajar/Rian mulai mengambil kendali dan menutup interval gim pertama 11-8.

Fajar/Rian menutup gim pertama 21-12 dalam waktu 16 menit. Pada gim kedua, He/Zhou bermain lebih agresif yang mengejutkan Fajar/Rian.

Penempatan bola di sisi yang sulit dijangkau diakhiri dengan smes keras saat bola pengembalian Fajar/Rian tanggung membuat pasangan Cina ini terus unggul. Namun, Fajar/Rian cepat memperbaiki permainan dan kemudian menyamakan kedudukan menjadi 7-7.

 Sejak ini, kedua pasangan saling kejar mengejar poin. Kendati demikian, Fajar/Rian bisa menjaga ketenangan dan mengamankan kemenangan setelah pengembalian oleh He menyangkut di net.    

"Kami bersyukur bisa menyumbangkan angka kemenangan bagi Indonesia. Kami tidak menyangka bisa diturunkan di partai final Piala Thomas dan sebagai ganda pertama serta bisa menyumbang angka," ujar Fajar. 

Berkat kemenangan Fajar/Rian, Indonesia tinggal membutuhkan satu poin untuk membawa pulang trofi Piala Thomas. Indonesia menggantungkan harapan kepada Jonatan Christie.

 Tunggal putra peringkat 7 dunia itu sukses memastikan Indonesia membawa pulang trofi Piala Thomas, dengan mengalahkan Li Shi Feng yang merupakan peringkat 65 BWF, dengan skor 21-14, 18-21, dan 21-14.

Semua tampaknya mudah saja bagi Jojo saat ia mengumpulkan poin demi poin. Namun, setelah unggul 7-0, Li kemudian bangkit. Ia memaksa Jojo mengeluarkan kemampuan terbaiknya setelah bermain ulet mengejar semua penempatan lob dan netting Jojo. Meski demikian, Jojo mampu mengamankan gim pertama 21-14.

Keadaan berbalik 180 derajat pada gim kedua. Li justru yang mendikte permainan Jojo. Pada gim penentuan, pertarungan kembali seru. Li dengan smes menyilangnya diladeni permainan net Jojo. Kedua pemain bergantian unggul. Namun, kondisi Li yang menurun karena gangguan di paha kiri, dimanfaatkan Jojo dengan baik untuk memastikan kemenangan Indonesia. 

Evaluasi

Sedangkan Piala Uber 2020 dinilai telah menunjukkan bahwa Indonesia memiliki pebulu tangkis muda putri yang mempunyai potensi besar untuk berprestasi di masa depan. Potensi itu harus terus dijaga dan dikembangkan oleh para pemangku kepentingan terkait. 

Pengamat bulu tangkis nasional Daryadi menilai, hal tersebut menjadi sisi positif dari perjalanan tim Indonesia di Piala Uber yang berlangsung di Denmark. Meski harus terhenti di perempat final, para pemain muda yang tampil di ajang tersebut dinilai cukup menjanjikan. Dalam babak delapan besar di Ceres Arena, Jumat (15/10), Indonesia harus mengakui keunggulan Thailand dengan skor 2-3. 

Daryadi mengatakan, beberapa pemain muda yang diturunkan di Piala Uber, antara lain, Putri Kusuma Wardani (19 tahun) dan Ester Nurumi Tri Wardoyo (16 tahun). Ia merasa, kurang tepat jika para pemain muda tersebut dibebankan target tinggi. 

"Kalau niatnya mau cari pengalaman atau uji coba, ya. Tapi jangan muluk-muluk. Harus sampai semifinal, final, ya jangan. Kalau sekadar buat menambah pengalaman, ini yang kita dapatkan," kata Daryadi yang juga seorang komentator, Ahad (17/10).

Ia memprediksi, pemain-pemain muda tersebut bisa bersaing di level yang lebih tinggi sekitar tiga atau empat tahun lagi. Secara khusus, Daryadi menyebut, Putri Kusuma mempunyai peluang untuk terus berkembang. Pemain tersebut berada di peringkat ke-126 dunia, tapi masih bisa mengimbangi lawan dalam kelompok 50 besar. 

Dalam perempat final, Putri kalah dua gim langsung 9-21, 21-23 oleh wakil Thailand, Busanan, yang menempati peringkat ke-13 dunia dalam waktu 45 menit. Menurut dia, hal tersebut menjadi modal berharga.

"Dia harus menaikkan peringkatnya lagi karena kalau dia masih di 126, dia tidak bisa bermain di level yang lebih tinggi. Kalau dia mau main di super 500 atau bahkan 300, dia akan kesulitan. Paling tidak, dia harus main dari kualifikasi," katanya.  

Daryani menilai, pasangan Siti Fadia Silva Ramadhanti (20 tahun) dan Ribka Sugiarto (21 tahun) juga merupakan masa depan Indonesia. Siti/Ribka pada perempat final Piala Uber mampu mempersembahkan poin dengan memetik kemenangan 21-19, 15-21, dan 21-15.   

Daryadi berharap, para pemain dapat terus menaikkan peringkatnya dengan aktif tampil di turnamen-turnamen level bawah. Dengan begitu, potensi mendapatkan kemenangan dan jam terbang akan lebih banyak. Pada puncaknya, mereka bisa tampil di turnamen super 500, 700, dan 1000.

Putri Kusuma mengaku, mendapat pengalaman berharga saat memperkuat Tim Piala Uber karena dapat bertemu dengan pemain-pemain top dunia. "Saya bisa merasakan dan mendapat pengalaman banyak dari pemain-pemain top dunia. Kalau tidak di sini, entah di mana saya bisa dapat pengalaman berharga," ujar Putri dalam keterangan resmi PP PBSI. 

Kekalahan Putri membuat Indonesia tertinggal 1-2 dari Thailand pada perempat final Piala Uber. Setelah kehilangan gim pembuka dengan skor terpaut jauh 9-21, Putri bangkit pada gim kedua dengan berusaha mengendalikan permainan untuk memimpin 11-5. Namun, juara Spain Masters itu tidak mampu mempertahankan keunggulannya. Tujuh poin beruntun dari Busanan membuat pemain Thailand itu membalik kedudukan dengan memimpin 12-11.

Putri sempat menyamakan poin 15-15, 17-17, dan 20-20. Ia bahkan lebih dulu mencapai game point 21-20 sebelum lawan membatalkannya dengan menyamakan kedudukan 21-21. Dua kali pengembalian yang gagal dari putri memenangkan Busanan dengan skor 23-21.

Meskipun gagal menyumbangkan poin, Putri sebagai pemain muda tetap bersyukur bisa tampil di ajang besar seperti perebutan Piala Uber ini. Sebab, tanpa rangking yang cukup tinggi, dia kesulitan bisa bertanding di turnamen kelas super 500 ke atas dan bertanding dengan pemain-pemain top dunia.

Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PP PBSI Rionny Mainaky menilai, kekalahan tim bulu tangkis beregu putri Indonesia di perempatan final karena para pemain tidak bisa mengatasi tekanan, terutama di sektor tunggal. Tiga pemain tunggal yang diturunkan menghadapi Thailand tidak satu pun yang menyumbang angka bagi Tim Indonesia.

Padahal, dari awal, Rionny mengatakan, sangat mengharapkan pemain tunggal pertama Gregoria Mariska Tunjung bisa menyumbang poin yang sangat menentukan bagi perjalanan tim Uber Indonesia. "Sangat disayangkan Gregoria malah kalah. Padahal, dia membuka permainan dengan meyakinkan. Dia awalnya bisa mengontrol dan menang," ujar Rionny, akhir pekan lalu. 

Karena sebuah kesalahan di gim kedua, permainan Gregoria menjadi hilang. Menurut Rionny, anak didiknya menjadi bermain penuh tekanan. Pola mainnya mengikuti pola lawan dan tidak bisa keluar dari tekanan.

 
Ini catatan buat saya. Kenapa dia tidak bisa mengatasi tekanan. Padahal, dia diharapkan bisa menyumbang poin. Gregoria itu harapan kita
 
 

"Ini catatan buat saya. Kenapa dia tidak bisa mengatasi tekanan. Padahal, dia diharapkan bisa menyumbang poin. Gregoria itu harapan kita," ujar Rionny.

Untuk Putri Kusuma Wardani dan Ester Nurumi Tri Wardoyo juga serupa, mereka tidak bisa keluar dari tekanan. "Pressure Putri KW terlalu berat. Di gim kedua sebenarnya bisa mengatasi keadaan dan memimpin dalam pengumpulan poin. Namun, karena kesalahan sendiri dan hilang sampai lima poin, memberi angin kepada lawan untuk bangkit. Meski dia bisa menyusul, finishing-nya di gim kedua tidak bagus," katanya. 

Untuk Ester, dia menilai, gim pertama bisa bermain bagus. Namun, karena tak bisa mengatasi tekanan, dia gagal. Sebagai sesama pemain muda melawan wakil Thailand, siapa yang bisa menguasai tekanan lebih baik, dialah yang akan menang.

"Sayang, Ester tak bisa keluar dari tekanan. Ini juga karena pengaruh jam terbang pengalaman. Di gim kedua, lawan benar-benar mengontrol permainan dan Ester jadi susah untuk bangkit," kata Rionny.

Dengan kegagalan tersebut, Rionny menyebut, akan melakukan evaluasi lebih dalam terhadap permainan pemain tunggal putri. Pasalnya, sebagai pemain muda, perjalanan mereka ke depan masih panjang.

"Kita tidak bisa bilang lagi kalah tidak apa-apa. Harus segera diperbaiki benar-benar. Dicari kenapa kalah dan tidak bisa mengelola tekanan di lapangan. Karena ketiga pemain ini adalah harapan kita di tunggal putri Indonesia," kata Rionny. 

Sumber : Antara


×