Warga membawa nisan keluarganya di area pemakaman khusus Covid-19 di TPU Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (15/7/2021). Survei menunjukkan ketidakamanan yang dirasakan masyarakat saat pandemi adalah nyata dan serius. | ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT
12 Sep 2021, 19:47 WIB

Pengalaman Ketidakamanan Pandemi

Survei menunjukkan ketidakamanan yang dirasakan masyarakat saat pandemi adalah nyata dan serius.

OLEH YUSUF WIBISONO, Direktur IDEAS; FEBBI MEIDAWATI, Peneliti IDEAS; AHSIN ALIGORI, Peneliti IDEAS; MUHAMMAD ANWAR, Peneliti IDEAS

Dalam tiga bulan terakhir, gelombang kedua pandemi Covid-19 yang mengganas secara luar biasa telah menciptakan begitu banyak duka dan lara anak bangsa. Serangan virus varian Delta merebak di Indonesia sejak Juni 2021, berpuncak pada Juli 2021 dan mulai melandai pada Agustus 2021.

Duka dan derita yang dialami masyarakat di puncak pandemi yang tak terkendali ini tergambar dalam indikator yang dikembangkan IDEAS: skala pengalaman ketidakamanan pandemi (pandemic insecurity experience scale/PIES).

Merasa khawatir tertular virus hingga terdampak secara tidak langsung dari puncak gelombang kedua berupa lumpuhnya layanan kesehatan dasar dan non-Covid-19, merepresentasikan ketidakamanan pandemi ringan (mild pandemic insecurity). Lebih jauh, pengalaman terpapar virus dan mengalami positif Covid-19, kemudian kesulitan mendapakan obat, tabung oksigen hingga ditolak rumah sakit sehingga terancam keselamatan dirinya, merepresentasikan ketidakamanan pandemi moderat (moderate pandemic insecurity).

Terkait

Dan terjauh, ketidakamanan pandemi parah (severe pandemic insecurity) terjadi ketika individu telah mengalami kehilangan orang yang dicintainya akibat Covid-19, baik teman dekat, tetangga, kerabat hingga keluarga inti.

Untuk menggali dan memahami ketidakamanan yang dirasakan masyarakat di tengah pandemi yang tidak terkendali, IDEAS melakukan survei daring pada 29 Juli–30 Agustus 2021 dan berhasil mendapatkan 1.764 responden yang tersebar di 33 provinsi dan 209 kabupaten-kota. Namun demikian, survei ini didominasi oleh kelas menengah perkotaan, yaitu 87,1 persen responden bertempat tinggal di Jawa dengan 57,7 persen di antaranya berlokasi di Jabodetabek, 88,2 persen responden berpendidikan di atas SMA (diploma, S1, dan S2-S3) dan 45,2 persen responden berpenghasilan rata-rata di atas Rp 5 juta per bulan.

Survei ini memberikan informasi terkini tentang pengalaman ketidakamanan yang dialami masyarakat di puncak gelombang kedua pandemi yang lalu. Survei ini menggunakan rancangan non-probability sampling melalui kuesioner daring yang disebarkan secara berantai (snowball) melalui media sosial.

Dengan demikian, informasi dari survei ini merupakan gambaran sebagian individu yang berpartisipasi dalam survei, tidak mewakili kondisi seluruh masyarakat.

photo
Skala Pengalaman Ketidakamanan Pandemi (Data IDEAS) - (IDEAS/Dialektika Republika)

Ketidakamanan Ringan

Ketidakamanan pandemi skala ringan (mild insecurity experience) didekati dalam PIES dengan dua variabel utama, yaitu merasa khawatir tertular virus dan terdampak oleh lumpuhnya sistem kesehatan akibat serangan virus gelombang kedua. Variabel merasa khawatir tertular virus dalam PIES ditunjukkan oleh tiga indikator, yaitu mengenakan alat pelindung diri yang lebih ketat, membatalkan rencana bepergian, dan menolak ajakan pertemuan sosial. 

Dengan tiga indikator ini, ketidakamanan pandemi skala ringan di tengah gelombang kedua terkonfirmasi secara amat kuat di hampir semua responden. Sebesar 95,3 persen responden mengaku pernah mengalami setidaknya salah satu dari tiga indikator di atas, dengan 69,4 persen di antaranya mengaku pernah mengalami tiga indikator di atas sekaligus. Hanya 4,7 persen responden yang mengaku sama sekali tidak mengalami satu pun dari tiga indikator tersebut.

Dalam tiga bulan terakhir, sebanyak 87,9 persen responden mengaku pernah mengenakan masker medis/masker ganda atau alat pelindung diri yang lebih ketat ketika berada di tempat umum karena merasa khawatir akan tertular Covid-19. Sebanyak 83,7 persen responden mengaku pernah membatalkan rencana bepergian dan memilih tetap di rumah karena khawatir akan tertular Covid-19.

Sedangkan 80,1 persen responden mengaku pernah menolak ajakan kumpul-kumpul/pertemuan sosial atau menolak kedatangan orang yang hendak berkunjung ke rumah Anda karena merasa khawatir tertular Covid-19.

photo
Merasa Khawatir di Tengah Pandemi yang tak Terkendali. Pengalaman ketidakamanan ringan di tengah gelombang kedua Covid-19. (Data IDEAS) - (IDEAS/Dialektika Republika)

Sementara itu, variabel terdampak oleh lumpuhnya sistem kesehatan akibat serangan virus gelombang kedua, dalam PIES ditunjukkan oleh tiga indikator, yaitu membatalkan rencana pergi berobat ke fasilitas kesehatan, kesulitan mendapatkan layanan kesehatan karena dokter tidak ada/rumah sakit tidak beroperasi normal dan gagal mendapat layanan kesehatan karena RS penuh dengan pasien Covid-19. 

Dengan tiga indikator ini, ketidakamanan pandemi skala ringan yang menunjukkan lumpuhnya sistem kesehatan di tengah gelombang kedua ini terkonfirmasi cukup kuat. Sebesar 60,9 persen responden mengaku pernah mengalami setidaknya salah satu dari tiga indikator di atas, dengan 8,5 persen di antaranya mengaku pernah mengalami tiga indikator di atas sekaligus.

Namun sebanyak 39,1 persen responden mengaku sama sekali tidak mengalami satu pun dari tiga indikator tersebut. 

Dalam tiga bulan terakhir, sebanyak 51,6 persen responden mengaku diri/anggota keluarganya pernah membatalkan rencana pergi untuk berobat ke puskesmas atau rumah sakit karena mendengar kabar puskesmas/RS penuh dengan pasien Covid-19. Sebanyak 25,1 persen responden mengaku diri/anggota keluarganya pernah terhambat/kesulitan mendapatkan layanan kesehatan dasar (seperti imunisasi anak atau persalinan ibu hamil) atau layanan kesehatan non-Covid-19 (seperti ISPA, demam berdarah, diabetes, atau stroke) dikarenakan dokter tidak masuk atau rumah sakit tidak menerima pasien/tidak beroperasi secara normal.

Sedangkan 15,0 persen responden mengaku diri/anggota keluarganya pernah pernah ditolak/gagal mendapatkan layanan kesehatan dasar atau layanan kesehatan non-Covid-19 dikarenakan rumah sakit penuh dengan pasien Covid-19.

photo
Pengalaman Terdampak Akibat Pandemi yang Tak Terkendali - (Survei IDEAS)

Ketidakamanan Moderat

Ketidakamanan pandemi skala moderat (moderate insecurity experience) didekati dalam PIES dengan dua variabel utama, yaitu pengalaman terinfeksi virus dan merasa terancam keselamatan jiwa di tengah gelombang kedua. Variabel pengalaman terinfeksi virus dalam PIES ditunjukkan oleh enam indikator, yaitu tetangga/teman dekat terpapar virus, kerabat terpapar virus, anggota keluarga inti terpapar virus, responden terpapar virus, mengalami reinfeksi virus, dan telah mendapat vaksinasi tapi tetap terpapar virus. 

Dengan enam indikator ini, ketidakamanan pandemi skala moderat di tengah gelombang kedua terkonfirmasi secara amat kuat. Sebesar 95,5 persen responden mengaku pernah mengalami setidaknya salah satu dari enam indikator di atas, dengan 6,7 persen di antaranya mengaku pernah mengalami enam indikator di atas sekaligus. Hanya 4,5 persen responden yang mengaku sama sekali tidak mengalami satu pun dari enam indikator tersebut. 

Dalam tiga bulan terakhir, sebanyak 91,4 persen responden mengaku ada tetangga/teman dekat mereka yang pernah terpapar Covid-19. Sebanyak 73,1 persen responden mengaku ada kerabat dekat mereka (bapak-ibu mertua, kakak-adik ipar, kakek-nenek, paman-bibi, sepupu) yang pernah terpapar Covid-19.

photo
Pengalaman Terinfeksi Virus di Tengah Pandemi yang tak Terkendali. Pengalaman ketidakamanan moderat di tengah gelombang kedua Covid-19. (Data IDEAS) - (IDEAS/Dialektika Republika)

Sedangkan 43,7 persen responden mengaku ada anggota keluarga inti mereka (anak, istri-suami, ayah-ibu, adik-kakak) yang pernah terpapar Covid-19. Dan 20,4 persen responden mengaku bahwa dalam tiga bulan terakhir diri mereka sendiri pernah terpapar Covid-19. 

Lebih jauh, dalam tiga bulan terakhir, 35,8 persen responden mengaku ada di antara responden, keluarga, kerabat, atau tetangga /teman dekat mereka yang pernah kembali terpapar Covid-19 (reinfeksi). Di saat yang sama, 65,1 persen responden mengaku ada di antara responden, keluarga, kerabat atau tetangga/teman dekat responden yang sudah mengikuti vaksinasi secara penuh tapi tetap terpapar Covid-19.

Temuan ini cukup mengejutkan tapi mengonfirmasi fakta bahwa imunitas individu yang berasal dari vaksin maupun infeksi sebelumnya tidaklah bertahan selamanya. Meski vaksin sangat membantu mencegah pemburukan kondisi akibat virus, tapi vaksin yang kini tersedia bukanlah transmission-blocking vaccine, sehingga tidak cukup mampu mencegah orang terinfeksi dan menyebarkan virus ke orang lain. 

Sementara itu, variabel merasa terancam keselamatan diri di tengah serangan virus gelombang kedua, dalam PIES ditunjukkan oleh lima indikator, yaitu kesulitan mendapatkan vitamin/obat Covid-19, kesulitan mendapatkan vaksinasi Covid-19, kesulitan mendapatkan layanan ambulans/tabung oksigen/donor plasma konvalesen, kesulitan mendapatkan perawatan Covid-19 di RS, dan terpaksa melakukan isolasi dan perawatan Covid-19 secara mandiri di rumah. 

photo
Terancam Keselamatan di Tengah Pandemi yang tak Terkendali. Pengalaman ketidakamanan moderat di tengah gelombang kedua Covid-19. (Data IDEAS) - (IDEAS/Dialektika Republika)

Dengan lima indikator ini, ketidakamanan pandemi skala moderat yang menunjukkan lumpuhnya sistem kesehatan yang mengancam jiwa penyintas Covid-19 di tengah gelombang kedua ini terkonfirmasi cukup kuat. Sebesar 65,6 persen responden mengaku pernah mengalami setidaknya salah satu dari lima indikator di atas, dengan 7,7 persen di antaranya mengaku pernah mengalami lima indikator di atas sekaligus. Namun tercatat 34,4 persen responden mengaku sama sekali tidak mengalami satu pun dari lima indikator tersebut. 

Dalam tiga bulan terakhir, 30,7 persen responden mengaku diri/anggota keluarga/kerabatnya pernah mengalami kesulitan/gagal mendapatkan vitamin dan obat-obatan untuk pengobatan Covid-19. Sebanyak 33,4 persen responden mengaku diri/anggota keluarga/kerabatnya pernah mengalami kesulitan/gagal mendapatkan vaksinasi Covid-19.

Sedangkan 33,7 persen responden mengaku diri/anggota keluarga/kerabatnya pernah mengalami kesulitan/gagal mendapatkan layanan ambulans/tabung oksigen/donor plasma konvalesen untuk pengobatan Covid-19.

Lebih jauh, dalam tiga bulan terakhir, 34,6 persen responden mengaku diri/anggota keluarga/kerabatnya pernah mengalami kesulitan atau gagal mendapatkan perawatan di rumah sakit untuk pengobatan Covid-19 karena rumah sakit penuh. Di saat yang sama, terdapat 32,3 persen responden yang mengaku diri/anggota keluarga/kerabatnya pernah menginginkan perawatan Covid-19 di rumah sakit, tapi terpaksa harus melakukan isolasi dan pengobatan Covid-19 secara mandiri di rumah.

photo
Pengalaan Terinfeksi Virus di Tengah Pandemi yang tak Terkendali. Pengalaman ketidakamanan moderat di tengah gelombang kedua Covid019. (Data IDEAS) - (IDEAS/Dialektika Republika)

Ketidakamanan Parah

Ketidakamanan pandemi skala berat/parah (severe insecurity experience) didekati dalam PIES dengan variabel tunggal: kehilangan orang yang dicintai di tengah gelombang kedua. Variabel kehilangan orang yang dicintai dalam PIES ditunjukkan oleh empat indikator, yaitu tetangga/teman dekat meninggal karena terpapar virus, kerabat meninggal karena terpapar virus, anggota keluarga inti meninggal karena terpapar virus, dan meninggal karena terpapar virus tanpa mendapat perawatan di RS. 

Dengan empat indikator ini, secara mengejutkan, ketidakamanan pandemi skala berat/parah di tengah gelombang kedua terkonfirmasi dengan kuat. Sebesar 70,1 persen responden mengaku pernah mengalami setidaknya salah satu dari empat indikator di atas, dengan 3,2 persen di antaranya mengaku pernah mengalami empat indikator di atas sekaligus. Hanya 29,9 persen responden yang mengaku sama sekali tidak mengalami satu pun dari empat indikator tersebut. 

Dalam tiga bulan terakhir, sebanyak 60,8 persen responden mengaku ada tetangga/teman dekat mereka yang meninggal dunia karena terpapar Covid-19. Sebanyak 29,8 persen responden mengaku ada kerabat dekat mereka (bapak-ibu mertua, kakak-adik ipar, kakek-nenek, paman-bibi, sepupu) yang meninggal dunia karena terpapar Covid-19. Sedangkan 5,9 persen responden mengaku ada anggota keluarga inti mereka (anak, istri-suami, ayah-ibu, adik-kakak) yang pernah terpapar Covid-19.

 
Dalam situasi pandemi, kebijakan yang paling dibutuhkan dan diharapkan adalah melindungi setiap nyawa anak bangsa. Tiada artinya perputaran uang dan pertumbuhan ekonomi jika hal itu akan membunuh kita.
 
 

Secara mengejutkan, dalam tiga bulan terakhir, 30,6 persen responden mengaku ada tetangga/teman dekat/kerabat/anggota keluarga responden yang meninggal dunia karena terpapar Covid-19 tanpa mendapat perawatan di rumah sakit. Temuan ini mengkonfirmasi berbagai pemberitaan tentang banyaknya kasus kematian Covid-19 di luar RS. Lapor Covid-19, per 7 Agustus 2021, melaporkan kematian isolasi mandiri dan di luar rumah sakit mencapai 3.013 kasus di 18 provinsi.

Secara keseluruhan, temuan survei kami menunjukkan bahwa ketidakamanan yang dirasakan masyarakat di tengah pandemi adalah nyata dan serius, dari tingkat ringan hingga parah, yang secara kuantitatif tergambar dalam pandemic insecurity experience scale (PIES) yang kami kembangkan.

Dalam situasi pandemi, kebijakan yang paling dibutuhkan dan diharapkan adalah melindungi setiap nyawa anak bangsa. Tiada artinya perputaran uang dan pertumbuhan ekonomi jika hal itu akan membunuh kita.

Pertumbuhan ekonomi hanyalah alat, tujuan akhir yang harus dikejar adalah kualitas dan kebahagiaan hidup masyarakat. Faktor terpenting yang berkontribusi untuk itu adalah tetap hidup, tidak mati karena pandemi.


×