IMAN SUGEMA | Daan Yahya | Republika
10 May 2021, 03:50 WIB

Lebaran tanpa Mudik

Ekonom hanya bisa bilang bahwa sebaiknya semua risiko kita perhitungkan terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan.

OLEH IMAN SUGEMA

Lebaran kali ini merupakan yang kedua kalinya tanpa disertai mudik. Biasanya kami sekeluarga mudik ke kampung halaman, di kaki Gunung Ciremai. Itu kami lakukan sebagai sebuah kebiasaan sehingga tidak perlu alasan untuk mudik.

Sibuk atau tidak, punya uang atau tidak, macet atau tidak, pokoknya kami harus mudik. Justru kalau tidak mudik, maka kami harus mempunyai alasan yang kuat supaya bisa dimaklumi oleh sanak keluarga. Sebelum-sebelumnya kami tidak pernah punya alasan. Baru kali ini Covid-19 mampu meyakinkan semua sanak keluarga sehingga kami dapat dispensasi untuk tidak mudik.

Tapi jauh di lubuk hati kami yang paling dalam terasa ada sesuatu yang telah hilang. Lebaran tahun lalu kami terpaksa mengurung diri di rumah, menyelenggarakan shalat Id sendiri, dan tak ada acara saling kunjung. Tidak ketemu keluarga besar dan kawan lama. Walaupun tatap muka bisa disubstitusi dengan video call, tapi tetap terasa ada sesuatu yang hilang. Mudik itu merepotkan tapi asyik. Mungkin itulah yang hilang dari kita.

Terkait

 
Tapi jauh di lubuk hati kami yang paling dalam terasa ada sesuatu yang telah hilang. 
 
 

Sebagai ekonom tentu saya punya alasan tersendiri mengapa tidak mudik rame-rame. Alasan saya sederhana saja, saya ingin agar pemulihan ekonomi lebih cepat terjadi. Memang tak harus ada kaitan langsung antara tidak mudik dengan pemulihan ekonomi. Bahkan ada sebagian teman-teman ekonom yang memiliki pendapat sebaliknya. Tapi perbedaan pendapat itu sangat lazim karena tidak semua hal bisa dihitung secara akurat. Berikut adalah analisis versi saya.

Saya akan mulai dengan memperkenalkan satu istilah, yakni uncalculated risk yang secara sederhana saya definisikan sebagai risiko yang tidak dimasukkan ke dalam perhitungan. Tentunya ketika kita melakukan mudik kita akan memasukkan berbagai pertimbangan untuk kita perhitungkan. Salah satunya adalah risiko terpapar Covid-19. 

Kita secara individual bisa menghindari risiko ini dengan secara ketat mengikuti protokol kesehatan. Risiko terpapar akan tetap ada walaupun berada pada tingkatan yang paling rendah sekalipun.

Akan tetapi secara individu kita juga tahu bahwa informasi dan pengetahuan tentang apa yang akan terjadi dan apa yang akan dilakukan oleh orang lain sangatlah terbatas. Kita bisa menjaga diri, tapi orang lain belum tentu bisa.

Kita tidak bisa memperkirakan dengan pasti berapa proporsi masyarakat yang taat dan tidak taat prokes. Itulah yang dimaksud dengan uncalculated risk. Kita harus menanggung risiko yang diakibatkan oleh tindakan orang lain yang tidak kita ketahui secara pasti sejak dari awal.

Dengan pola penyebaran Covid-19 seperti sekarang ini, saya memperkirakan ada sekitar 90 juta sampai 100 juta orang yang tidak taat prokes. Saya berada dalam posisi serba tidak tahu tentang siapa yang taat dan siapa yang tidak taat.

Namun yang bisa saya pastikan adalah sebuah hukum yang sudah pasti berlaku, yakni semakin banyak orang yang mudik semakin banyak pula yang akan kesulitan untuk taat terhadap prokes. Artinya risiko penyebaran Covid-19 akan semakin besar.

 
Itulah yang dimaksud dengan uncalculated risk. Kita harus menanggung risiko yang diakibatkan oleh tindakan orang lain yang tidak kita ketahui secara pasti sejak dari awal.
 
 

Yang kita tidak tahu adalah seberapa besar? Nah itulah pangkal masalahnya. Kita tidak memiliki informasi yang akurat mengenai hal ini. Dalam istilah ekonomi situasi ini disebut incomplete information atau informasi yang tidak lengkap.

Dalam situasi di mana informasi tidak lengkap, teori ekonomi menyatakan bahwa langkah terbaik adalah menghindar. Dalam kasus sekarang ini tentu itu diterjemahkan sebagai menghindari mudik. Sesederhana itu. Tentu langkah ini memiliki konsekuensi bahwa sektor transportasi dan ekonomi daerah akan terganggu secara sementara. Jumlah orang yang bepergian berkurang. Jumlah orang kota yang belanja di desa juga berkurang.

Tetapi kerugian ekonomi ini mungkin bisa sedikit dikompensasi dengan cara, misalkan, mentransfer sebagian uang yang biasa dibelanjakan pada saat mudik kepada handai taulan di kampung kita masing-masing. Tidak seluruh dampak negatifnya hilang dengan sendirinya tentu, tapi minimal itu bisa mengurangi tingkat keparahan akibat kita tidak mudik. Dan perlu Anda ingat bahwa dampaknya hanya one shot saja.

Tetapi alternatifnya memang terlalu buruk untuk kita imajinasikan. Bagaimana kalau orang-orang kota yang mudik sebagian adalah yang berstatus OTG. Setelah periode mudik selesai, semakin banyak saudara-saudara kita yang di pelosok desa sekalipun kemungkinan terpapar Covid-19.

Bagaimana kalau kejadiannya seperti di India? Saudara kita yang tadinya menyambut kita dengan penuh senyum kebahagian akhirnya akan menyesali kedatangan kita. Mengapa kalian orang-orang kota tega-teganya menjadi agen penyebar penyakit?

 
Tetapi alternatifnya memang terlalu buruk untuk kita imajinasikan. Bagaimana kalau orang-orang kota yang mudik sebagian adalah yang berstatus OTG.
 
 

Kalau sudah seperti ini, malang tak bisa ditolak. Kebahagianpun berubah menjadi penderitaan yang berkepanjangan. Pemulihan ekonomi yang hampir sudah di depan mata, hilang sirna tiba-tiba.

Sekarang pilihan berada di tangan kita masing-masing. Apakah memilih untuk menderita sejenak karena kehilangan kesempatan mudik. Atau kita memilih mudik dengan kemungkinan terjadinya ledakan kasus Covid-19 yang tidak bisa ditangani oleh tenaga kesehatan yang serba terbatas seperti di negara kita ini.

Ekonom hanya bisa bilang bahwa sebaiknya semua risiko kita perhitungkan terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan. Tetapi sehebat-hebatnya kita menghindari risiko secara individual, kita masih akan terpapar oleh risiko yang diakibatkan oleh tindakan orang lain. Itulah yang disebut dengan risiko yang tidak bisa kita perhitungkan sejak dari awal.  

Akhir kata, selamat menikmati Lebaran tanpa mudik. Semoga kita semua berada dibawah lindungan-Nya. Amin. 


×