Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar berpose saat wawancara khusus bersama Republika di ruangannya di Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa (28/7). Dalam wawancara tersebut membahas tentang progres renovasi Masjid Istiqlal | Republika/Thoudy Badai
21 Apr 2021, 02:32 WIB

Hikmah di Balik Penolakan Doa

Allah mendengar doa hamba-Nya

PROF KH NASARUDDIN UMAR; Imam Besar Masjid Istiqlal

Setiap  orang selalu memohon  agar  doanya diijabah Allah SWT.  Akan tetapi, tidak semua doa itu diijabah oleh-Nya. Apa arti di balik pengabulan dan penerimaan sebuah doa? Apakah pengabulan doa berarti tanda cinta Tuhan atau sebaliknya? Atau penolakan doa berarti tanda benci Tuhan terhadap diri kita?

Penolakan atau tertundanya sebuah doa boleh jadi disebabkan beberapa hal, antara lain, sebagai berikut. Pertama, Allah SWT mencintai hamba yang bersangkutan, karena itu Dia menolak permohonannya. Yang bersangkutan diminta untuk ke langit dan di langit pasti lebih banyak pilihan yang mahabaik dibanding apa yang dimohonkannya di bumi.

Allah SWT tidak ingin mengabulkan permohonan itu agar yang bersangkutan tidak asyik bermain dan menikmati hasil doanya lalu lupa naik ke langit. Kita terkadang menanggapi seorang pemohon dengan memberikan permintaannya segera agar dia tidak datang lagi.

Terkait

Kedua, Allah SWT memandang tidak terlalu penting bagi yang bersangkutan apa yang dimohonnya. Permohonan itu lebih dibutuhkan oleh anak-anak atau cucu kesayangannya pada kemudian hari. Ia hanya menjadikannya sebagai kebutuhan sekunder, sedangkan anak dan atau cucunya menjadikannya sebagai kebutuhan primer. Karena itu, Allah SWT tidak menurunkan kepadanya, tetapi kepada anak atau cucunya.

Ketiga, Allah SWT memandang persyaratan untuk dikabulkan sebuah doa dari hamba, tetapi tidak terpenuhi  persyaratan itu oleh hamba yang bersangkutan. Misalnya, doanya setengah hati atau tidak serius. Seolah doanya hanya formalitas belaka karena ia merasa aman (save dari berbagai kemungkinan risiko terjelek. Karena mungkin ia pejabat atau memiliki harta atau uang yang banyak.

Banyak faktor yang menjadi sebab ditolak atau diterimanya doa seseorang. Ada faktor subjektif dan ada faktor objektif. Bagaimana mungkin Allah SWT mau menerima doa seseorang sementara pakaian, tempat, bahkan energi yang menggerakkan dirinya dalam berdoa berasal dari barang yang tidak halal.

Rumah yang digunakan berdoa hasil korupsi, sajadah yang digunakan berdoa hasil sogokan, dan energi yang digunakan mengangkat kedua tangan dalam berdoa bersumber dari harta yang syubhat atau mungkin haram.

Boleh jadi pula Allah SWT memandang permohonan yang bersangkutan berakibat buruk baginya. Misalnya, akan menjadikan dirinya menjadi sombong dan angkuh sehingga menjauh dari Tuhannya. Bahkan, mungkin bisa jika permohonannya dikabulkan akan menyebabkan masuk penjara atau dikenakan hukuman yang memalukan lainnya dari dan oleh masyarakat.

Meskipun demikian, seorang hamba tetap diminta untuk terus berdoa, karena seperti dikatakan Nabi  Muhammad SAW: “Al-Du’a mukh al-‘ibadah  (Doa adalah intinya ibadah)”.

Orang yang tidak mau atau malas berdoa termasuk orang yang sombong di mata Allah SWT karena seolah-olah ia tidak membutuhkan Tuhan dan merasa mampu memfasilitasi dirinya sendiri. Teruslah berdoa, diterima atau ditolak tetap memiliki manfaat luar biasa bagi yang bersangkutan, minimum berfungsi sebagai induk segala ibadah. Allahu a’lam.


×