Foto seorang anak Suriah di pengungsian di Idlib, beberapa waktu lalu. | AP Photo/Felipe Dana

Internasional

16 Mar 2021, 03:10 WIB

Suriah Kini 'Negeri Antre'

Setiap warga setidaknya harus mengantre lima jam untuk memperoleh bahan bakar.

DAMASKUS -- Konflik sipil Suriah telah memasuki tahun kesepuluh. Perpecahan belum berakhir dan negara tersebut kian tersedot dalam krisis serta kemiskinan.

Antrean panjang di pom bensin di kota-kota Suriah kini jadi pemandangan yang lumrah. Setiap warga setidaknya harus mengantre lima jam untuk memperoleh bahan bakar.

Barang seperti obat-obatan, susu bayi, dan popok kian sulit ditemukan. Di jalanan, semakin banyak pengemis berkeliaran meminta makanan atau uang dari pengendara yang melintas.

"Kehidupan di sini adalah potret penghinaan dan penderitaan sehari-hari," kata seorang wanita yang tinggal di Damaskus. Suaminya baru saja kehilangan pekerjaan di toko elektronik bulan lalu.

Wanita yang menolak identitasnya diungkap karena alasan keamanan itu mengungkapkan ia mengajar paruh waktu untuk membantu memenuhi kebutuhan. Dengan dua anak dan seorang ayah lanjut usia, dia menyebut hidup menjadi kian sulit.

photo
Sejumlah perempuan berjalan di permukiman di Idlib yang luluh lantak akibat pengeboman. - (AP Photo/Felipe Dana)

Seorang aktivis media Suriah yang menggunakan nama samaran Omar Hariri mengungkapkan jatah roti, bensin, gas untuk memasak, dan solar hampir tidak memenuhi sepuluh persen kebutuhan warga. Antrean berjam-jam telah menjadi gaya hidup baru di Suriah.

"Saya memiliki seorang kerabat yang mendapat giliran untuk bensin pada Januari setelah dua bulan cuaca dingin berlalu, dan dia terpaksa membeli dari pasar gelap dengan harga yang jauh lebih tinggi," kata Hariri.

Tahun lalu, harga makanan di Suriah meningkat 230 persen. Banyak keluarga hidup tanpa daging dan buah-buahan selama berbulan-bulan. Gaji pegawai negeri kini hanya berkisar antara 15-20 dolar AS per bulan. Tahun lalu, mereka masih menerima 170 dolar AS setiap bulan.

PBB mengatakan, saat ini lebih dari 80 persen warga Suriah hidup dalam kemiskinan. Sebanyak 60 persen di antaranya berisiko mengalami kelaparan. Nilai mata uang pound Suriah pun terus terpuruk di hadapan dolar AS.

"Ketika Anda menggabungkan semua ini, tidak mengherankan jika kita melihat kerawanan pangan, meningkatnya kelaparan," kata kepala ekonom di Program Pangan Dunia PBB Arif Hussein.

 
Ketika Anda menggabungkan semua ini, tidak mengherankan jika kita melihat kerawanan pangan, meningkatnya kelaparan
 
 

Presiden Suriah Bashar al-Assad telah menyalahkan sanksi ekonomi Amerika Serikat (AS) sebagai salah satu penyebab terjadinya krisis di negaranya. Kendati demikian, Assad bakal mencalonkan diri untuk masa jabatan presiden tujuh tahun keempatnya pada musim semi mendatang.

Beberapa pihak telah mempertanyakan apakah dia dapat bertahan dalam kemerosotan ekonomi yang dalam. Dia pun harus menghadapi kemarahan rakyat di daerah-daerah yang telah dikuasai pemerintah. Kini tingkat kemiskinan lebih buruk daripada titik mana pun selama 10 tahun konflik.

Di daerah-daerah yang dikendalikan Pemerintah Suriah, warga menyebut harga bisa naik beberapa kali dalam sehari. Mereka mengandalkan "kartu pintar" elektronik untuk mengamankan barang-barang bersubsidi dan dijatah yang mencakup bahan bakar, tabung gas, teh, gula, beras, dan roti.

"Dalam 10 tahun perang, rezim (Suriah) tidak menawarkan satu konsesi pun. Ada perasaan umum bahwa segala sesuatunya bisa menjadi lebih buruk. Tak ada cakrawala, tak ada harapan," ujar Ibrahim Hamidi, seorang jurnalis Suriah yang bekerja untuk surat kabar Arab Saudi, Asharq Al-Awsat.

Sejarah

Pada Maret 2011, unjuk rasa meletup di Daraa, Suriah. Mereka memprotes penahanan sekelompok remaja yang dtuduh membuat grafiti antipemerintah di dinding sekolah mereka. Pada 15 Maret, unjuk rasa juga meletup di Kota Tua Damaskus.

Pasukan keamanan melepaskan tembakan ke arah massa di Daraa. Empat orang tewas dan mereka menjadi korban pertama dalam aksi memprotes pemerintah. Unjuk rasa meluas, demikian pula penumpasan kian hebat.

Perang saudara pun meletup. Kondisi ini diperburuk dengan pergerakan militan yang mengklaim sebagai Negara islam Irak dan Suriah (ISIS). Pada 30 Juni 2014, ISIS mendeklarasikan wilayah kekuasaan di sebagian Irak dan Suriah.

Konflik kemudian menarik sejumlah negara lain sehingga menjadikan Suriah sebagai lokasi perang proksi yang menarik sebagai negara seperti Amerika Serikat (AS), Turki, Rusia, Inggris, Prancis, dan kelompok sekitarnya seperti Hizbullah di Lebanon.

Pada 19 Desember 2018, AS mengumumkan ISIS berhasil dikalahkan. Pada 26 Oktober 2019, pemimpin ISIS, Abu Bakar Al-Baghdadi dilaporkan tewas dalam operasi AS di Idlib, Suriah. Namun, masih ada sejumlah serangan di sejumlah negara yang mengatasnamakan ISIS.  ';

×