Tumpeng gorontalo. Pangan bisa jadi solusi krisis jika dari hulu ke hilir sistem pangan dikelola dengan ramah iklim. | Dok Omar Niode
07 Mar 2021, 09:05 WIB

Kenali Pangan dengan Konsep Ramah Iklim

Pangan bisa jadi solusi krisis jika dari hulu ke hilir sistem pangan dikelola dengan ramah iklim.

OLEH GUMANTI AWALIYAH

 

Pangan ternyata bisa jadi salah satu penyebab krisis iklim, seperti cuaca ekstrem yang tidak seperti biasanya terjadi. Bagaimana bisa?

Sistem pangan yang demikian itu adalah yang tidak bertanggung jawab karena menghilangkan keanekaragaman hayati. Namun, jangan khawatir, karena di sisi lain, pangan bisa jadi solusi krisis jika dari hulu ke hilir sistem pangan dikelola dengan ramah iklim.

Terkait

Amanda Katili dari Climate Reality Indonesia menjelaskan, makanan menjadi benang merah dari masalah hidup yang berkelanjutan. Untuk itu, ada beberapa solusi yang diajukannya, seperti konsumsi pangan dari pertanian ramah iklim yang hemat air dan energi.

Solusi lainnya adalah mengurangi limbah dan konsumsi daging merah, meningkatkan tradisi lokal, mendukung petani serta nelayan, mengurangi plastik, dan mendaur ulang berbagai bahan yang sudah dipakai. 

Amanda mengatakan, makanan ramah iklim tentu jarang didengar oleh masyarakat. Namun, kriteria tadi jadi patokannya. “Semua aktivitas manusia dan salah satunya industri pangan yang banyak diterapkan saat ini pada kenyataannya berkontribusi pada peningkatan bencana alam, seperti banjir, longsor di Indonesia,” kata dia saat peluncuran e-book Memilih Makanan Ramah Iklim +39 Resep Gorontalo, Ahad (14/2).

Sistem pangan dan sektor pertanian, Sekretaris Omar Niode Foundation Terzian Ayuba Niode menambahkan, menjadi kontributor utama penghasil emisi metan dan nitrogen oksida. Sumber emisinya dari fermentasi pencernaan ternak, pengolahan tanah menggunakan mesin-mesin berat, serta pembakaran lahan.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Climate Reality Indonesia (climaterealityina)

Beberapa peneliti telah menyimpulkan bahwa pertanian organik menjaga populasi dan menciptakan keragaman flora dan fauna untuk kelanjutan sistem produksi pangan. “Dengan pandemi Covid-19 makin membuktikan adanya kebutuhan mendesak untuk mengubah sistem pangan dunia karena pandemi sekarang terjadi akibat menularnya penyakit dari hewan ke manusia (zoonosis),” ujar Terzian.

Untuk itu, dia melanjutkan, makanan perlu diubah. Idealnya adalah mengarah ke pangan berbasis nabati dan mengurangi konsumsi daging merah serta makanan olahan. “Pola makan ramah iklim menganjurkan masyarakat secara sukarela mengurangi gas rumah kaca dan iklim, dengan memilih makanan yang baik. Tidak sulit menemukannya. Makanan ramah iklim yang bisa menyelamatkan bumi.”

Lewat e-book tersebut, Omar Niode Foundation ingin mengajak masyarakat memilih makanan ramah iklim. Dalam e-book dicontohkan makanan ramah iklim, seperti dari resep Gorontalo yang dapat dicoba.

Pakar kuliner William Wongso juga mendukung upaya pelestarian budaya kuliner nusantara seperti yang dilakukan Omar Niode Foundation. Satu hal yang tidak dapat dilakukan lewat internet adalah mencari rasa, karena pengalaman itu harus dicoba langsung.

“Namun, kita dapat menginformasikan budaya kuliner bangsa Indonesia yang beragam ini lewat internet dan menarik orang untuk mencoba,” ujar William.

William menambahkan, dengan makin majunya peradaban, kita tidak boleh mengabaikan budaya kuliner bangsa Indonesia. Upaya peningkatan citra tradisi kuliner Indonesia pun wajib dilakukan agar dikenal dalam peta kuliner dunia. 

Pelestarian kuliner nusantara, menurut Wakil Ketua DPR Rachmat Gobel, tentu positif bagi tradisi di Tanah Air. Menurut dia, upaya mendorong pemilihan makanan lokal ramah iklim bisa menyelamatkan lingkungan dan membantu perekonomian daerah.

“Membeli produk lokal berarti ada permintaan,sehingga membantu petani mempertahankan mata pencahariannya,” kata dia.

 

photo
Pahangga. Pangan bisa jadi solusi krisis jika dari hulu ke hilir sistem pangan dikelola dengan ramah iklim. - (Dok Omar Niode)

Menekan Jejak Karbon

Selain menutrisi tubuh, setiap makanan yang kita konsumsi juga meninggalkan jejak karbon yang bisa menyumbang efek rumah kaca dan pemanasan global. Makanan yang kita makan bertanggung jawab pada sepertiga jejak karbon global. Rantai jejak karbon makanan berasal dari pertanian, pabrik pengolahan makanan, serta transportasi distribusi dan bibit.

Karena itulah, gaya hidup rendah karbon dapat mengurangi jejak karbon, emisi gas rumah kaca yang dilepaskan oleh pribadi, atau kelompok dalam kegiatannya. Pola makan cerdas yang menganjurkan masyarakat untuk sukarela membantu menyelamatkan Bumi dengan mengurangi kandungan gas rumah kaca juga bisa menjadi solusi.

photo
Putungo atau jantung pisang sangat populer di Gorontalo. Pangan bisa jadi solusi krisis jika dari hulu ke hilir sistem pangan dikelola dengan ramah iklim. - (Dok Omar Niode)

Namun, mengubah pola makan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena itu, sebagai upaya mendukung budaya kuliner sekaligus menjaga bumi, Amanda Katili Niode dari Climate Reality Indonesia dan ahli teknologi pangan Zahra Khan meluncurkan sebuah e-book berjudul Memilih Makanan Ramah Iklim +39 Resep Gorontalo

Dalam buku tersebut terdapat resep-resep yang dibuat perinci sehingga membudahkan pembaca dan pecinta kuliner mencoba memasaknya. Semua resep tersebut memilihkan makanan ramah iklim, khususnya makanan tradisional Gorontalo.

“Diharapkan melalui buku ini masyarakat bisa teredukasi dan mulai bergerak memilih makanan yang ramah iklim seperti pangan khas Gorontalo,” kata Amanda.

 
Diharapkan melalui buku ini masyarakat bisa teredukasi dan mulai bergerak memilih makanan yang ramah iklim seperti pangan khas Gorontalo.
 
 

Ada ratusan jenis makanan tradisional Gorontalo, tapi dalam penelitian Ketua Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan Gorontalo Dr Arifasno Napu, baru ada 80 jenis yang teridentifikasi dengan baik dan dibagi dalam empat kelompok, yaitu makanan pokok, lauk pauk, sayuran, dan makanan ringan atau kue. Proses dan semua bumbu dalam makanan tradisional Gorontalo adalah alami dan kaya rempah. 

Tidak kurang dari 30 jenis bahan, bumbu, dan rempah dalam makanan tradisional Gorontalo. Contoh hidangannya adalah pilitode ihu (terong santan kuning), iloni cakalang kemiri, dan tabu moitomo (kuah hitam). Bahan yang umum adalah jantung pisang (putungo), ubi hutan, jagung, dan ikan. Sup jagung binthe biluhuta bahkan sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 

photo
Foto Payangga Garo Rica, makanan khas Gorontalo berbahan dasar ikan endemik dari Danau Limboto. - (Dok Omar Niode)

“Kalau jantung pisang memungkinkan diolah sebagai pengganti protein hewani, misalnya gohu putungo, ilabulo putungo, dan lainnya,” kata Amanda. Ada juga makanan berbahan ikan, seperti iloni cakalang, ikan kuah asam, dabu-dabu ikan, dan lainnya.

Pakar dan pelaku kuliner Chef Ragil Imam Wibowo yakin masyarakat antusias untuk mencoba resep-resep baru, apalagi bahannya berdampak baik bagi lingkungan. “Kita mampu membuat perubahan signifikan melalui pilihan bahan pangan. Pandemi ini juga memaksa kita untuk lebih banyak menggunakan bahan lokal di sekitar kita,” kata Chef Ragil.

 
Kita mampu membuat perubahan signifikan melalui pilihan bahan pangan. Pandemi ini juga memaksa kita untuk lebih banyak menggunakan bahan lokal di sekitar kita.
 
 

Salah satu makanan khas Gorontalo yang ramah iklim dalam e-book itu adalah Payannga Garo Rica. Makanan ini berbahan ikan payangga, cabai rawit dan cabai keriting dihaluskan, bawang merah dan bawang putih dihaluskan, minyak kelapa, kemangi, daun bawang, bawang goreng, serta garam dan gula secukupnya. 

Mengolahnya dimulai dengan memarinasi ikan bersih dengan jeruk, kemudian digoreng sampai garing. Lalu, bawang halus ditumis, dan setelah wangi, masukkan cabai halus. Tambahkan garam dan gula dan angkat setelah matang. Setelah itu, ikan goreng dan bawang goreng diaduk merata dengan bumbu matang, dan sajikan dengan taburan daun bawang dan kemangi di atasnya.


×