ILUSTRASI Syair Barzanji merupakan salah satu karya sastra yang begitu populer di tengah umat Islam, termasuk Muslimin Indonesia. Gubahan dari Syekh Jafar al-Husaini al-Barzanji ini menyuarakan kerinduan dan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW. | DOK REP Musiron
07 Mar 2021, 04:00 WIB

Syair Barzanji, Gema Rindu untuk Nabi

Syekh Ja’far al-Barzanji menulis kitab yang berisi puji-pujian kepada Rasulullah SAW.

 

OLEH MUHYIDDIN

Dalam hati setiap Muslim, terpancar rasa rindu kepada Rasulullah SAW. Syair Barzanji mengungkapkan kerinduan tersebut begitu indahnya. Karya Syekh Ja'far al-Husaini itu menjadi tradisi di berbagai negeri, termasuk Indonesia.

Sang Penggubah Syair Maulid

Terkait

 

Pembacaan teks Barzanji sudah menjadi sebuah tradisi yang diwariskan turun-temurun. Di Indonesia, kebiasaan itu masih cukup kuat di kalangan sebagian Muslimin, khususnya warga Nahdliyin atau—katakanlah—yang berbasis perdesaan.

Barzanji merupakan sebuah syair yang sangat indah, berisi puji-pujian dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Kandungannya mencakup kisah-kisah kehidupan, keteladanan, dan perjuangan Rasulullah SAW, sejak lahir hingga wafatnya beliau.

Teks sastrawi tersebut digubah Syekh Ja’far bin Hasan bin Abdul Karim bin Muhammad al-Barzanji. Sang penggubah sesungguhnya memberi judul pada karyanya itu, ‘Iqd al-Jawahir fii Mawlid an-Nabi al-Azhar (Untaian Permata-Permata tentang Kelahiran Nabi SAW). Akan tetapi, kitab ini kemudian lebih terkenal dengan sebutan al-Barzanji.

“Al-Barzanji” yang melekat pada nama Syekh Ja’far bin Hasan merujuk pada Desa Barzinja, tempat ulama tersebut dilahirkan. Kampung ini termasuk wilayah Kurdistan bagian selatan, dekat Kota Sulaimaniyyah (Irak).

Ia merupakan cicit seorang ulama besar yang mengajar di Madinah al-Munawwarah, Syekh Muhammad bin Abdul Rasul. Bila ditelusuri lebih jauh, nasabnya sampai kepada Rasulullah SAW, yakni melalui Husain bin Ali bin Abi Thalib.

 
Bila ditelusuri lebih jauh, nasabnya sampai kepada Rasulullah SAW, yakni melalui Husain bin Ali bin Abi Thalib.
 
 

Syekh Muhammad berasal dari Shaharzur, sebuah kota kaum Kurdi di Irak. Setelah mengembara ke berbagai tempat, mufti mazhab Syafii ini akhirnya bermukim di Kota Madinah. Mengikuti jejak kakek buyutnya, Syekh Ja’far al-Barzanji juga tumbuh menjadi seorang guru agama. Bahkan, dirinya sampai menjabat imam besar di Masjid Nabawi.

Prof Azyumardi Azra dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII mencatat, Syekh Ja’far al-Barzanji hidup pada 1103-1180 Hijriah atau 1690-1766 Masehi. Namun, ada sumber lain yang menyatakan, tokoh ini lahir di Madinah pada 1126 H atau 1711 M.

Ja’far al-Barzanji memulai pendidikannya dengan mempelajari dan menghafal Alquran. Di antara guru-gurunya pada masa ini ialah Syekh Ismail al-Yamani, Syekh Yusuf as-So’idi, dan Syekh Syamsuddin al-Misri.

Dengan penuh semangat dalam menuntut ilmu, pemuda ini meneruskan pendidikannya di Masjid Nabawi. Ia menimba ilmu kepada banyak ulama besar setempat serta tokoh-tokoh kabilah al-Barzanji yang sedang bermukim di Kota Nabi.

Untuk menyebut beberapa nama, guru-gurunya antara lain adalah Sayyid Abdul Karim Haidar al-Barzanji, Syekh Yusuf al-Kurdi, dan Sayyid Athiyatullah al-Hindi. Dari Madinah, lelaki ini kemudian berhijrah ke Makkah al-Mukarramah. Di kota kelahiran Rasulullah SAW itu, dirinya menetap selama lima tahun.

Hari demi hari dilaluinya dengan belajar ilmu-ilmu agama. Guru-gurunya antara lain ialah Syekh Athaallah bin Ahmad al-Azhari, Syekh Abdul Wahab at-Thanthowi al-Ahmadi, dan Syekh Ahmad al-Asybuli. Di samping itu, Ja’far al-Barzanji juga memperoleh ijazah dari para ulama besar. Misalnya, Syekh Muhammad at-Thoyib al-Fasi, Sayyid Muhammad at-Thobari, Syekh Muhammad bin Hasan al-A’jimi, Sayyid Musthofa al-Bakri, dan Syekh Abdullah as-Syubrawi al-Misri.

Masa mudanya benar-benar dimanfaatkan untuk menuntut ilmu. Beberapa cabang keilmuan dikuasainya, termasuk ilmu-ilmu alat yang amat berperan dalam kepiawaiannya menggubah syair, semisal nahwu, sharaf, mantiq, dan ma’ani. Ia juga mendalami ilmu ushul fikih, fikih, mustala’ah hadis, hadis, tafsir Alquran, serta sirah nabawi.

Tatkala berusia 31 tahun, Ja’far al-Barzanji mulai diangkat menjadi seorang pengajar di Masjid Nabawi. Masyarakat memanggilnya dengan sapaan penuh hormat, “syekh”. Kepadanya, orang-orang meminta fatwa atas pelbagai urusan ibadah dan muamalah. Mazhab fikih yang diajarkannya seturut dengan Imam Syafii.

Reputasinya dikenal Muslimin, khususnya warga dua Kota Suci. Syekh Ja’far al-Barzanji terkenal bukan saja karena ilmu, akhlak dan ketakwaannya, tetapi juga karamahnya. Tidak sedikit Muslim yang sering memintanya berdoa kepada Allah agar mereka dilancarkan dalam berbagai urusan. Dalam hal ini, ada sebuah cerita yang disampaikan generasi sesudahnya.

 
Syekh Ja’far al-Barzanji terkenal bukan saja karena ilmu, akhlak dan ketakwaannya, tetapi juga karamahnya.
 
 

Suatu masa, Madinah dilanda musim kemarau berkepanjangan. Sebelum naik mimbar untuk menyampaikan khutbah Jumat, Syekh Ja’far diminta untuk berdoa memohon hujan.

Dalam khutbahnya itu, sang alim pun memanjatkan doa dengan harapan, Allah SWT meridhai turunnya hujan. Usai shalat Jumat, awan mendung tiba-tiba menutupi langit Kota Nabi. Seketika, hujan turun dengan lebatnya.

Bahkan, guyuran hujan terjadi selama sepekan tak putus-putus. Beberapa orang terkenang akan sebuah peristiwa pada zaman Rasulullah SAW.

Pernah suatu ketika, Nabi SAW diminta untuk berdoa kepada Rabb semesta alam agar hujan turun. Munajat beliau dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Orang-orang larut dalam suka cita. Namun, berhari-hari kemudian mereka mendatangi Nabi SAW kembali. Kali ini, permintaannya adalah supaya hujan dihentikan karena genangan mulai tampak di berbagai sudut kota.

Rasulullah SAW lantas berdoa, memohon hujan reda. Maka langit kembali cerah atas izin Allah. Berkaca dari peristiwa masa lalu itu, sebagian penduduk Madinah meyakini ada berkah dalam doa Syekh Ja’far, yang tak lain seorang keturunan Nabi SAW (habib).

Beberapa orang memujinya dengan bait-bait syair, “Dahulu, al-Faruuq dengan al-‘Abbas ber-istisqa’, memohon hujan. Dan kami dengan Ja’far pun ber-istisqa’, memohon hujan. Yang demikian itu adalah washilah mereka kepada Tuhan. Dan, ini washilah kami, seorang imam yang arif.”

Syekh Ja’far al-Barzanji telah diakui banyak kalangan sebagai teladan yang saleh. Para pembesar Makkah dan Madinah pun menghormatinya dengan sepenuh takzim. Begitu pula dengan pihak istana Kesultanan Turki Utsmaniyah.

Kemasyhuran dan kehebatan sang syekh telah menyebar ke seluruh pelosok dunia Islam. Karangan-karangannya juga diterima dan dipuji para ulama, baik yang sezaman maupun sesudahnya, sehingga tersebarlah tulisan-tulisannya di kalangan para penuntut ilmu.

Ia menjadi salah satu ulama Kurdi dengan kiprah luar biasa dalam sejarah transmisi keilmuan Islam di Tanah Suci. Tak sedikit murid-murid dari Nusantara yang pernah belajar kepada alim ulama Kurdistan di Makkah maupun Madinah.

Satu generasi di atas Syekh Ja’far ialah Ibrahim bin Hasan al-Kurani (1615-1690), yang selama di Kota Nabi mengajarkan beberapa tarekat sekaligus, semisal Syatariyah, Qadiriyah, Naqsabandiyah dan Cistiyah. Dua ulama Indonesia tercatat pernah menjadi santrinya, yakni ‘Abdul Rauf as-Sinkili (1620-1695) dan Muhammad Yusuf al-Makassari (1627-1699).

Menulis syair

Potret kedalaman ilmu hikmah Syekh Ja'far al-Barzanji terpancar melalui salah satu karya besarnya, yang hingga kini masih dibaca umat Islam di seluruh dunia. Itulah ‘Iqd al-Jawahir atau Kitab Barzanji. Buku tersebut menghimpun bait-bait syair karangannya yang mengisahkan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW.

Tentunya, gubahannya itu merupakan salah satu bukti rasa cinta dan rindunya kepada Rasulullah SAW. Dari kitab tersebut, dia berharap seluruh kaum Muslimin dapat meneladani kepribadian sang Uswatun Hasanah.

Tentunya, Kitab Barzanji tidak lepas dari riwayat hidup sang pengarangnya. Akan tetapi, momen popularitasnya melejit berkat penyelenggaraan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Tradisi maulid itu sendiri bermula sejak zaman Sultan Shalahuddin al-Ayyubi (1137-1193). Tokoh yang disebut Saladin oleh orang-orang Eropa itu merupakan pemimpin Islam yang berjasa membebaskan Yerusalem dari cengkeraman Pasukan Salib pada 1187. Kemenangan gemilang itu diraihnya dengan penuh upaya.

Bertahun-tahun sebelumnya Sultan al-Ayyubi mendeteksi Muslimin kala itu cenderung mudah terpecah-belah. Lantaran kurang solidnya umat Islam, kota-kota Muslim pun satu per satu jatuh ke tangan Salibis.

Maka, pemimpin berdarah Kurdistan itu menyadari pentingnya sosok pemersatu. Tentu saja, tidak ada yang lebih pantas mengisi peran tersebut selain Rasulullah SAW. Sang sultan lantas menginisiasi perayaan maulid atau hari lahirnya Nabi SAW. Peringatan Maulid Nabi SAW pertama kali digelar pada 580 H atau 1184 M.

Shalahuddin mengimbau para penyair negerinya untuk menggubah syair puji-pujian bagi Nabi SAW seindah mungkin. Bahkan, raja Muslim ini mengadakan sayembara untuk itu.

Ratusan tahun kemudian, pada abad ke-18 terbitlah Kitab Barzanji gubahan Syekh Ja’far. Sejak saat itu, Muslimin di berbagai negeri kerap membawakan syair-syair mempesona dari kitab tersebut setiap kali tiba perayaan Maulid Nabi.

 
Sejak saat itu, Muslimin di berbagai negeri kerap membawakan syair-syair mempesona dari kitab tersebut setiap kali tiba perayaan Maulid Nabi.
 
 

Dalam ranah sosial-budaya, pengaruh kitab yang ditulis sang habib asal Kurdistan itu masih dapat dijumpai hingga kini. Syekh Ja'far al-Barzanji menempatkan baginda Nabi Muhammad SAW pada posisi sentral.

Karena itu, gambarannya tentang pribadi Al-Musthafa dapat menginspirasi tidak hanya kaum Muslim, melainkan juga seluruh pembaca dari kalangan agama manapun.

Keindahan syair Barzanji menggiring pembacanya untuk menyadari, kebenaran berasal dari Allah Ta’ala. Rabb semesta alam telah mewahyukan Alquran kepada utusan-Nya yang paling mulia, Nabi Muhammad SAW. Sentralitas Rasulullah SAW mampu merekatkan seluruh komponen Muslimin sehingga mereka diharapkan bersatu padu, bahu-membahu membangun rasa persaudaraan (ukhuwah) yang kokoh.

Sang pengarang kitab fenomenal itu berpulang ke Rahmatullah di Kota Madinah. Jenazahnya dikebumikan di kompleks permakaman Baqi'.

Ada beragam pendapat tentang waktu wafatnya. Imam az-Zubaidi dalam Al-Mu’jam al-Mukhtash menyatakan, Syekh Ja’far meninggal pada 1184 H. Adapun Prof Azyumardi dalam penelitiannya menyebutkan, tahun wafat sang alim ialah 1180 H atau sekira 1766 M.


×