Ulama membutuhkan informasi yang komprehensif tentang vaksin dan program vaksinasi. Vaksinasi Covid-19 bagi ulama tahap selanjutnya dikoordinasikan dinas kesehatan masing-masing daerah. | Thoudy Badai/Republika
28 Feb 2021, 20:17 WIB

Ulama Butuh Sosialisasi Vaksin

Banjir hoaks mengenai vaksin membuat masyarakat semakin terpecah.

OLEH IMAS DAMAYANTI

Masih adanya kecurigaan dan kabar simpang siur mengenai vaksin Covid-19 yang bersumber dari segelintir agamawan dinilai akibat kurangnya sosialisasi. Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Prof KH Ahmad Satori Ismail menjelaskan, para ulama amat butuh informasi valid mengenai vaksin.

Kiai Satori pun menegaskan, pemerintah tak bisa sepenuhnya menyalahkan adanya segelintir ulama yang belum memercayai efektivitas dan keamanan vaksin. Dia justru mempertanyakan mengenai sosialisasi program vaksinasi yang dilakukan pemerintah.

"Rakyat ini sebenarnya banyak nurut. Mungkin banyak hal-hal informasi dan hoaks-hoaks yang berkembang, sehingga kita ini agak susah (sependapat). Sehingga orang pun mulai agak kurang percaya, ragu dengan vaksin," kata Kiai Ahmad Satori saat dihubungi Republika, Rabu (24/2).

Terkait

Dia meyakini sudah menjadi pemikiran umum jika kesehatan merupakan nikmat yang diinginkan masyarakat. Menurut Kiai Satori, kesehatan merupakan nikmat terbesar kedua setelah kehidupan yang dianugerahkan Allah Ta'ala kepada manusia. Maka dari itu, dia berpendapat, jika informasi mengenai vaksin banyak bermuatan kebaikan, sudah pasti hal itu akan mudah dicerna oleh khalayak ramai.

 
Kalau mereka terpengaruh hoaks, mereka harus diberi tahu yang sebenarnya. Inilah tugas pemerintah, tugas kita bersama. Ya, ulama, dai, media, semua.
PROF KH SATORI ISMAIL, Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia
 

 

Menurut dia, banjir hoaks mengenai vaksin membuat masyarakat semakin terpecah. "Kalau mereka terpengaruh hoaks, mereka harus diberi tahu yang sebenarnya. Inilah tugas pemerintah, tugas kita bersama. Ya, ulama, dai, media, semua," kata dia.

Di sisi lain, dia menyoroti tentang informasi Covid-19 yang berkembang dari hari ke hari. Turunnya angka kematian akibat Covid-19 seiring masih dibukanya aktivitas sosial-ekonomi memberikan kesan bahwa herd immunity telah terbentuk. Hal itulah yang kemudian dinilai menambah keraguan masyarakat mengenai efektivitas vaksin.

Di Ikadi, dia menyebut, para dai kerap berusaha memberikan informasi penanganan Covid-19 berikut vaksin yang digalakkan pemerintah. Namun, dia menggarisbawahi perhatian pemerintah masih kurang kepada para dai dan ulama tentang sosialisasi vaksin.

"Kita tahu MUI (Majelis Ulama Indonesia) sudah mengatakan bahwa vaksinnya halal. Tapi ketika ulama kurang diperhatikan terkait hal itu (informasi menyeluruh mengenai vaksin), ya susah juga jadinya," kata dia.

Untuk itu, dia mengimbau kepada pemerintah untuk menampakkan kesungguhan dan kejujuran terkait program vaksinasi yang ada. Jangan sampai program vaksinasi yang digalakkan justru menjadi ajang meraup hal-hal tertentu dari segelintir kalangan yang mencoba bermain api dalam sekam.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Rabithah Alawiyah (rabithah_alawiyah)

Ketua Umum Rabithah Alawiyah Habib Zen bin Umar Smith mengatakan, sebagai Muslim, sudah seyogianya umat menjalankan ikhtiar dalam menghindari wabah atau penyakit. Dia pun mengutip hadis Nabi Muhammad SAW sebagaimana yang diriwayatkan Imam Muslim.

Yakni, dalam delegasi Tasqif (yang akan dibai'at Rasulullah SAW) terdapat seorang lelaki yang berpenyakit kusta. Maka, Rasulullah SAW mengirim utusan untuk mengatakan kepadanya, "Kami telah menerima bai'atnya, karena itu Anda boleh pulang."

Artinya, kata Habib Zen, janganlah seorang Muslim menantang sesuatu yang sudah jelas membahayakan jiwa, keturunan, dan lingkungannya. Vaksinasi, menurut dia, adalah salah satu bentuk ikhtiar yang perlu dilakukan. "Setelah itu kita tetap jaga, dengan langkah-langkah pencegahan, dan berdoa, kalau ini sudah dijalankan, kita bertawakkal kepada Allah," kata dia.

Rabithah Alawiyah, kata Habib Zen, terus mengimbau umat untuk mau melakukan vaksinasi ini sebagai bagian dari ikhtiar seorang Muslim. Sepanjang vaksin tersebut sudah melalui kajian halal dari MUI, tak ada alasan bagi siapa pun untuk menghindarinya. "Halalnya sudah keluar dari MUI, faktor keamanannya juga sudah ada dari BPOM, sehingga faktor kehati-hatian sudah terpenuhi," kata Habib Zen.

 
Halalnya sudah keluar dari MUI, faktor keamanannya juga sudah ada dari BPOM, sehingga faktor kehati-hatian sudah terpenuhi,
HABIB ZEN BIN UMAR SMITH, Ketua Umum Rabithan Alawiyah
 

 

Namun, apabila terdapat kalangan yang masih ragu terhadap masalah kesehatan, yang bersangkutan dapat menanyakan hal itu kepada para ahli. Mereka bisa berkonsultasi kepada para dokter spesialis wabah atau virus, atau menanyakan kehalalannya kepada para ulama fikih.

Habib Zen juga berpesan kepada setiap pihak untuk tidak berprasangka buruk terhadap program vaksinasi. "Pemikiran itu sah-sah saja, tetapi jangan memengaruhi umat yang ingin ikhtiar dan berusaha menghindari wabah atau penyakit ini. Rabithah tidak bisa memaksa, tetapi kami akan menganjurkan agar makin banyak orang yang memiliki kekebalan," ujar dia.

photo
Vaksinasi Covid-19 bagi ulama tahap selanjutnya dikoordinasikan dinas kesehatan masing-masing daerah. - (Putra M Akbar/Republika)

Habib Zen pun mengingatkan kembali publik perihal banyaknya masyarakat Indonesia yang telah kehilangan sejumlah kolega, keluarga, hingga sahabat dan rekan kerja akibat pandemi yang terjadi. Untuk itu dia menilai, vaksinasi menjadi kesempatan baik yang perlu sama-sama disikapi dengan baik oleh setiap elemen.

"Jadi, saya mengimbau bagi siapa pun, janganlah percaya dengan informasi palsu tentang vaksin ini. jangan lupa jika informasi yang tidak benar itu kita sebarkan, maka kita ikut menanggung dosanya. Jadi, intinya, tanyalah segala sesuatu kepada ahlinya," kata dia.


×