Sejumlah pasien remaja dan anak menunggu untuk konsultasi di Klinik Keswara Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Jawa Barat, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (27/2/2020). Klinik tersebut ikut merawat anak dan remaja kecanduan gawai. | NOVRIAN ARBI/ANTARA FOTO
20 Feb 2021, 03:15 WIB

Fenomena Gunung Es Masa Layar

Orang tua harus paham betul berapa lama anak-anak menggunakan gawai.

OLEH BINTI SOLIKAH, INAS WIDYANURATIKAH

Setahun lebih pandemi Covid-19 mulai menampakkan dampak-dampak sampingan terhadap anak-anak dan remaja. Di sela-sela ancaman kesehatan yang belum juga mereda, gejala-gejala dampak negatif penggunaan gawai yang berlebihan membuat orang tua dan guru kewalahan. Republika coba menyoroti fenomena tersebut. Berikut tulisan bagian ketiganya.

Fenomena kecanduan gawai pada anak-anak dan remaja sedianya sudah mengkhawatirkan sebelum pandemi. Sejumlah rumah sakit kejiwaan mencatat pada 2019 ada peningkatan signifikan jumlah pasien anak-anak dan remaja yang dikonsultasikan terkait kecanduan telepon genggam. 

Datang pandemi, jumlah yang mengadu ke rumah sakit dan klinik konsultasi menurun. Salah satu yang menunjukkan catatan tersebut adalah Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) dr Arif Zainudin, Solo, Jawa Tengah. Sebanyak 35 pasien kecanduan ponsel yang berobat tiga bulan belakangan lebih sedikit dari sebelumnya.

Terkait

Kabar baik? Belum tentu, menurut Kepala Instalasi Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja RSJD dr Arif Zainudin, Aliyah Himawati. Ia melihat hal itu karena orang tua tidak membawa anak-anak berobat ke rumah sakit.

Fenomena serupa yang juga terjadi di bangsal pengobatan lain di berbagai rumah sakit seturut kekhawatiran penularan Covid-19. "Jadi, mungkin seperti fenomena gunung es. Mereka tidak membawa anak-anak berobat ke sini, tapi kondisi di luar bagaimana kami tidak bisa memantau," kata Aliyah saat dihubungi Republika, Kamis (18/2).

photo
Perawat memberikan penjelasan kepada orang tua dan pasien anak yang kecanduan bermain gawai di Klinik Psikiatri Anak dan Remaja Terpadu, Rumah Sakit Marzoeki Mahdi, Kota Bogor, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. Pada 2019, pasien anak usia sekolah SD dan SMP yang kecanduan bermain gawai meningkat 20 persen dari biasanya 2 hingga 3 pasien menjadi 5 hingga 7 pasien per bulan. - (ANTARA FOTO)

Pandemi dan ketakutan ke rumah sakit juga membuat pasien-pasien yang tiba pada 2019 tak lagi bisa dipantau atau melakukan kontrol rutin. "Dan, mereka di rumah tidak ada pantauan. Ada satu-dua yang masih melanjutkan kontrol, yang pernah sakit masih ada yang kontrol melanjutkan terapi. Sebenarnya, kami ada layanan telemedicine, tapi selama ini belum ada yang datang dengan telemedicine," ujar Aliyah. 

Menurut dia, jika pasien sudah dibawa ke RSJD untuk terapi, artinya tingkat kecanduan gawai tergolong berat. Merujuk buku panduan, Aliyah menyebut pendampingan terhadap pasien kecanduan gawai dilakukan kurang lebih enam bulan.

Salah satu akibat kecanduan gawai, yakni emosi labil, sehingga penanganan pertama dilakukan dengan menstabilkan emosi dan perilaku yang menyimpang biasanya dengan beberapa langkah.

 
Salah satu akibat kecanduan gawai, yakni emosi labil, sehingga penanganan pertama dilakukan dengan menstabilkan emosi.
 
 

Langkah pertama, dengan obat. Setelah pasien lebih tenang, proses terapi lebih fokus pada terapi perilaku. "Biasanya setelah terapi, mereka berangsur membaik. Tapi, karena kondisi pandemi ini sekarang anak-anak tidak bisa lepas dari gawai, mereka masih bermain ponsel, tapi mereka bisa bertanggung jawab menyelesaikan tugas-tugas sekolah," ujar dia. 

Pada akhirnya, fenomena meningkatnya waktu di depan layar anak-anak dan remaja pada masa pandemi serta potensi negatif yang menyertainya berpulang kepada para orang tua.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen-PPPA) meminta orang tua harus ambil bagian mengontrol fenomena ini. Deputi Perlindungan Anak Kementerian PPPA, Nahar mengingatkan, ketergantungan pada gawai bisa menyebabkan anak menjadi lebih agresif. "Perkembangan fisik, psikologis, kecerdasan, dan kemampuan bersosialisasi atau berinteraksi sosial cenderung terhambat karena aktivitas berkurang," kata Nahar. 

Hal ini berhubungan karena terlalu banyak menggunakan gawai akan mengurangi jam istirahat anak dan juga terpengaruh radiasi dari gawainya. Anak juga memiliki kecenderungan untuk mengalami pikun digital karena kecepatan konten di media membuat anak memiliki attention span atau rentang perhatian yang pendek.

 
Anak juga memiliki kecenderungan untuk mengalami pikun digital karena kecepatan konten di media membuat anak memiliki rentang perhatian yang pendek.
 
 

"Sehingga, anak menjadi sulit fokus pada satu hal, mudah berganti fokus, menurunkan kemampuan konsentrasi dan memori," ujar Nahar menambahkan. 

Di luar itu, anak juga berisiko tinggi terpapar konten pornografi atau kekerasan yang tidak cocok untuk mereka. Anak juga berpotensi menjadi korban perundungan dan eksploitasi seksual di dunia maya, seperti grooming dan sexting.

“Karena tadi, semua pembelajaran ini melalui online, dengan handphone sebagai medianya. Jadi, otomatis tingkat ancaman gangguan kecanduan anak-anak semakin tinggi,” katanya menjelaskan. 

Menurut Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kota Bogor, Sumedi, orang tua harus paham betul berapa lama anak-anak menggunakan gawai. “Anak usia berapa, paling lama berapa jam sehari, di luar belajar daring secara kewajiban ya. Orang tua di rumah harus punya aturan,” ujar Sumedi.

Tak hanya itu, peran guru juga penting sebagai pendidik. Tidak hanya memberi edukasi ketika belajar, Sumedi menyarankan, guru juga semestinya memberi wejangan dan perhatian meski tidak bisa bertatap muka secara langsung. “Nggak hanya tok ngasih materi, bagaimanapun ini diingat anak-anak. Gurunya yang beri wejangan, perhatian,” tuturnya.

photo
Hannania Muntaz (14 tahun), siswi kelas 7E SMPN 4 Yogyakarta didampingi orang tua mengikuti hari pertama sekolah secara daring dari rumah di Mergangsan, Yogyakarta, Senin (13/7/2020). Hari pertama sekolah di Yogyakarta menggunakan sistem daring. - (Wihdan Hidayat / Republika)

Salah satu orang tua di DI Yogyakarta, Wasingatu Zakiyah mengatakan, keseimbangan penggunaan gawai tersebut tak mustahil dicapai. "Setelah (shalat) Subuh, harus ada kesepakatan terkait daring. Bagaimana mereka mengakses screen, baik laptop maupun ponsel, dan itu hanya pada saat mereka ada jadwal sekolah. Setiap pagi kami berkumpul, apa jadwal hari ini. Misalnya, jam sekian si adik ada Zoom, jam sekian si kakak Google Classroom," kata Zakiyah kepada Republika, Selasa (16/2). 

Zakiyah juga melibatkan anak-anaknya dalam berbagai kegiatan, mulai dari budidaya ikan hingga kegiatan menanam. "Justru, pada saat jam-jam istirahat itu mereka harus mengecek tanaman-tanaman dan ikan-ikannya. Setelah itu kembali on screen lagi," ujar Zakiyah yang juga salah satu pengelola Madrasah Diniyah Kalimosodo, Kabupaten Sleman.

Anak-anaknya juga dilibatkan dalam pekerjaan rumah, seperti kegiatan memasak, membersihkan rumah, hingga mencuci piring. "Harus dilibatkan anak dalam semua kegiatan sesuai usianya. Kegiatan outing dan kegiatan dalam rumah diperlukan supaya ada keseimbangan dan tidak terikat dengan game ataupun on screen," kata Zakiyah.


×