Ilustradi dunia digital | Pixabay
18 Feb 2021, 07:34 WIB

Ambil Alih Kehidupan dari Dunia Digital

 Mengurangi akses ke media sosial 30 menit sehari, sudah mengurangi risiko terjadinya depresi. 

Dengan makin intensifnya penggunaan internet di Indonesia, upaya menjaga keseimbangan antara dunia maya dan dunia nyata pun kini diperlukan. Banjir informasi, kelelahan fisik akibat terlalu lama melihat layar, dan kurangnya interaksi nyata seperti sebelum masa pandemi, membuat konsep digital detox kini dikenal luas. 

Melakukan digital detox berarti membatasi akses dunia digital termasuk media sosial, gim daring, googling dan lain-lain. Hal ini dapat dilakukan dengan cara full digital detox atau sama sekali tidak bersentuhan dengan dunia digital, dan partial digital detox yang berarti pembatasan akses dengan dunia digital untuk hal tertentu.

Menurut Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial RS Jiwa Dr H Marzoeki Mahdi Bogor, dr Lahargo Kembaren SpKJ, langkah pertama yang perlu dilakukan, apabila kita berniat melakukan digital detox adalah menentukan waktu melakukannya. “Riset menunjukkan, mengurangi akses ke media sosial 30 menit sehari, sudah mengurangi risiko terjadinya depresi,” katanya.

Terkait

Kemudian, Lahargo menambahkan, menentukan pembatasan waktu bisa dilakukan dengan cara tidak mengakses media sosial sama sekali selama satu pekan, satu bulan, tiga bulan, enam bulan atau satu tahun. Ini dilakukan dengan konsisten. 

Termasuk juga, tidak mengakses media sosial saat di sekolah, tempat kerja, di jalan. Kemudian, berhenti menggunakan gawai satu jam sebelum tidur atau ketika berada di meja makan. 

Langkah berikutnya dalam digital detox adalah menghilangkan distraksi yang bisa menyebabkan kita mengakses media sosial. Caranya, dengan menghapus aplikasi media sosial di gawai, laptop, komputer, menghilangkan notifikasi media sosial, mematikan gawai secara berkala. 

Misal, saat di kantor, dalam perjalanan, saat di rumah, menaruh gawai di ruangan lain, atau di dalam lemari yang sulit terjangkau dan beraktivitas di luar tanpa membawa berbagai jenis perangkat pintar.

Ancaman Nyata Kesehatan

photo
Ilustrasi pemanfaatan teknologi digital - (Pixabay)

Banyak dampak buruk yang berpotensi menjadi ancaman nyata apabila kita terlalu hanyut dalam kehidupan digital. Psikolog klinis Ohana Space Veronica Adesla mengatakan, digital fatigue atau kelelahan digital bisa berpengaruh pada psikologis dan fisik. 

Pengaruh pada fisik, contohnya mengalami sakit di bagian leher, punggung, pinggang karena kesalahan posisi memegang ponsel atau laptop secara terus-menerus.

Kemudian, mata juga pasti terpengaruh. Ia mengatakan terlalu melihat layar gadget bisa menyebabkan mata kelelahan, juga kepala pusing karena pengaruh sinar dari layar gawai.

“Apa yang terburuk apa secara fisik? Tentunya kalau sampai merasa pusing, seperti vertigo gitu ya. Itu sudah tahap buruk apalagi kalau kelihatan beneran ini kayaknya mulai tidak beres. Itu juga artinya mulai pengaruh lebih parah,” kata Veronica.

Selanjutnya secara psikologis, terlalu hanyut dalam dunia digital juga bisa berhubungan dengan anxiety dan depresi. Ia menyebutkan, gejala yang dirasakan adalah mungkin mudah marah, menjadi lebih sensitif, menjadi lebih teriritasi atau mudah terpancing marah, gelisah dan cemas.

Seperti, mudah tersulut emosi karena perkara yang sederhana. Hal itu, dimungkinkan karena kita sudah merasa terlalu lelah dengan diri sendiri, dengan berbagai informasi yang menghujani. 

Ditambah lagi, banyak pula hal yang harus dikerjakan secara digital. “Karena di rumah, boundaries tidak jelas, bisa megang laptop terus, habis itu mengurus anak, habis itu mengurusi kerja lagi,” ujarnya.

Untuk mengatasi hal ini, dan membuat hidup lebih seimbang, Veronica menyarankan, agar seseorang memiliki waktu sekitar lima sampai 10 menit untuk beristirahat dari gawai atau apapun itu. Waktu istirahat ini dapat digunakan untuk misalnya, menyapa anak, membuat minuman, atau berjalan-jalan di rumah.

Lalu, kita juga bisa mengatur batasan. Meski di rumah, Veronica menegaskan, harus ada batasan kapan harus mengerjakan pekerjaan, kapan lepas dari pekerjaan, kapan memegang gadget dan lepas dari gadget sehingga tidak terus-menerus selama 24 jam tujuh hari berkutat dengan pekerjaan dan gawai. 

 
Jangan melakukan bullying, meledek atau merendahkan mereka yang melakukan digital detox. Karena hal itu bukan menunjukkan, mereka lemah atau kurang tangguh, tapi justru menunjukkan bahwa mereka tahu apa hal apa yang menjadi stresor dan berusaha menanggulanginya.
 
dr Lahargo Kembaren SpKJ, Kepala Instalasi Rehabilitasi RS Jiwa Dr H Marzoeki Mahdi, Bogor
   

 

Tiga Pilihan Teknik

Untuk melakukan digital detox kita bisa melakukan tiga teknik. Yakni, digital fast, recurrent digital abstinence dan a specific detox.

1. Digital fast

Untuk melakukan teknik ini, kita perlu menentukan limit waktu untuk tidak menyentuh media sosial sama sekali. Misal, beberapa hari, pekan atau bulan. 

2. Recurrent digital abstinence

Untuk teknik ini, kita perlu memilih satu hari dalam sepekan bebas untuk membebaskan diri media sosial. 

3. A specific detox

Adalah jeputusan untuk sepenuhnya menutup salah satu aplikasi tertentu yang dirasa benar-benar membuat stres dan menghabiskan waktu. 

 


×