Dua mobil listrik diparkir di halaman rumah dinas Gubernur Jawa Barat, Gedung Pakuan, Kota Bandung, usai diserah terimakan, Selasa (29/12). Mobil listrik tersebut rencananya akan dipakai sebagai salah satu kendaraan dinas Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa | Edi Yusuf/Republika
11 Feb 2021, 10:06 WIB

Mobil Listrik Makin Dilirik

Mobil listrik dinilai canggih, trendi, dan dilengkapi dengan fitur keamanan mutakhir.

Makin ke sini, peminat mobil listrik terus meningkat. Tak heran, sejumlah pabrikan pun mulai percaya diri untuk serius menekuni pasar electric vehicle (EV). Salah satu pabrikan yang cukup agresif dalam pasar EV adalah Nissan. Salah satu komitmen itu diwujudkan lewat riset yang dilakukan dalam mengetahui sejumlah respons pasar terhadap produk EV.

Riset itu dilakukan dengan menggandeng perusahaan konsultan bernama Frost & Sullivan. Associate Partner, Senior Vice President, Intelligent Mobility, Frost & Sullivan Asia Pacific Vivek Vaidya mengatakan, data dari penelitian terbaru atas responden di ASEAN memang menunjukkan peningkatan minat yang sangat signifikan terhadap mobil listrik.

"Riset konsumen di Thailand, Filipina, Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan Singapura mengungkapkan bahwa hampir dua pertiga atau sekitar 64 persen responden di seluruh Asia Tenggara mengatakan bahwa mereka lebih mempertimbangkan kendaraan listrik dibandingkan lima tahun lalu. Bahkan, 66 persen konsumen di seluruh wilayah tersebut percaya bahwa mereka pasti akan memakai mobil listrik sebagai bagian dari kehidupan mereka dalam waktu dekat," kata Vivek Vaidya dalam webinar "Nissan FUTURES - Electrification and Beyond", pekan lalu.

Lewat riset yang dilakukan pada 2020 itu, mayoritas responden sangat tertarik menggunakan EV karena sejumlah produk EV hadir sebagai produk canggih yang dilengkapi dengan fitur keamanan mutakhir.

Terkait

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh OTOPROJECT (otoproject)

Selain itu, responden tertarik menggunakan EV karena alasan lingkungan dan pertimbangan biaya operasional dan perawatan yang lebih rendah. Uniknya, riset ini justru menunjukkan bahwa fitur keselamatan yang menjadi keunggulan yang paling menarik bagi responden.

Nah, untuk urusan insentif, dia melanjutkan, insentif yang paling menarik konsumen adalah insentif potongan pajak untuk EV. "Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah memiliki peran yang sangat strategis dalam mendorong pertumbuhan EV di wilayahnya masing-masing," ujarnya.

Selanjutnya, insentif lain yang juga cukup didambakan adalah adanya jalur khusus untuk EV, parkir gratis, dan diskon untuk tarif tol. Secara khusus, riset itu pun menyoroti responden Indonesia secara lebih spesifik. Ia mengatakan, 50 persen pemilik kendaraan non-listrik di Indonesia menyatakan bahwa mereka pasti akan mempertimbangkan kendaraan listrik sebagai pembelian mobil berikutnya dalam tiga tahun ke depan. 

"Dampak positif terhadap lingkungan dan teknologi keselamatan menjadi faktor utama bagi masyarakat Indonesia untuk mempertimbangkan kendaraan listrik. Selain itu, 44 persen responden Indonesia berpendapat bahwa kendaraan listrik itu keren dan trendi, sedangkan 58 persen responden percaya bahwa biaya perawatan untuk kendaraan listrik lebih murah dibandingkan mobil konvensional," kata dia.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Akun resmi Kementerian BUMN RI (kementerianbumn)

Meski demikian, riset yang melibatkan 3.000 responden ini juga terus mendalami soal hal apa saja yang masih membuat masyarakat enggan untuk beralih menggunakan EV. Sejumlah barrier itu di antaranya soal kekhawatiran kehabisan daya baterai di tengah jalan. 

Hal ini cukup reasonable, mengingat, EV memang masih memiliki keterbatasan dari sisi daya jelajah. Sehingga, fleksibilitas berkendara sangat ditentukan oleh kemampuan electric range dan ketersedian infrastruktur charging station.

Namun, dia melanjutkan, perkembangan teknologi EV dan pembangunan charging station yang terus berjalan telah berhasil menekan persentase atas barrier tersebut. Ia menyebutkan, pada 2018, barrier itu berada pada level 73 persen. Kini responden mulai tak terlalu khawatir dan membuat ketakutan itu turun menjadi berada pada level 54 persen.

"Barrier selanjutnya yang masih berada di benak responden adalah soal keamanan teknologi kelistrikan dalam EV serta soal perawatan jangka panjang dari mobil tersebut," ujarnya. 

Tentu, ini jadi tantangan pabrikan untuk membuktikan bahwa EV merupakan kendaraan yang aman dan mudah dalam hal perawatan jangka panjang.

photo
Seorang pengemudi mengisi daya mobil listrik dengan memanfaatkan aplikasi PLN Charge.IN di di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) PLN di Kantor PLN Disjaya, Gambir, Jakarta, Jumat (29/1). PLN meluncurkan aplikasi charge.IN yang memudahkan para pemilik kendaraan listrik dalam hal pengisian daya serta dapat menunjukkan lokasi SPKLU maupun besaran pengisian daya.Prayogi/Republika. - (Prayogi/Republika.)

Menyimpan Banyak Potensi 

Beragam hasil dari riset ini tentu jadi dorongan bagi Nissan untuk terus menghadirkan produk ramah lingkungan yang sesuai dengan selera pasar. Informasi soal barrier pun otomatis disikapi dengan beragam inovasi dan langkah untuk membuktikan sejumlah keunggulan dari EV.

Regional Vice President Nissan ASEAN Isao Sekiguchi mengatakan, ASEAN adalah wilayah yang sangat dinamis dan merupakan wilayah yang memiliki masyarakat kelas menengah yang bertumbuh dengan sangat cepat.

"Hal ini tentu sangat berkaitan dengan jumlah permintaan mobil baru di ASEAN," kata Isao Sekiguchi. 

Karena, banyak masyarakat kelas menengah yang "naik kelas" dan mulai memikirkan untuk membeli mobil sebagai sarana penunjang mobilitas sehari-hari. Karena itu, Nissan menilai ASEAN merupakan wilayah yang sangat strategis dan menyimpan potensi pasar yang sangat besar. Pabrikan Jepang ini pun mencoba mangkomodasi pasar itu dengan menawarkan produk EV yang mutakhir dan ramah lingkungan.

"EV memiliki sejumlah keunggulan karena mobil ini bebas noise dan bebas polusi. Apalagi, EV dikenal sebagai kendaraan yang fun to drive karena mampu menyajikan torsi secara instan," ujarnya.

Di Indonesia sendiri, Nissan mencoba menawarkan produk ramah lingkungan lewat produk All-new Nissan Kicks e-POWER. Produk ini merupakan compact SUV bertenaga listrik pertama dengan teknologi e-POWER yang memungkinkan pengendara menikmati sensasi berkendara mobil listrik tanpa perlu charger eksternal. 

Menurut dia, pada sistem e-POWER, roda sepenuhnya digerakkan oleh motor listrik, sementara mesin bensinnya hanya digunakan untuk recharging baterai dan mengalirkan listrik untuk motor. Tak hanya itu, mobil yang ditawarkan dengan harga Rp 449.000.000 (on the road DKI Jakarta) ini juga dibekali dengan Nissan’s Safety Shield System yang mencakup fitur intelligent forward collision warning dan intelligent emergency braking system.

Selanjutnya, Nissan juga akan menambah penawaran untuk pasar Indonesia lewat kehadiran Nissan Leaf. Ia menekankan, salah satu EV yang cukup diminati dalam pasar global itu akan dihadirkan di Indonesia dalam beberapa bulan ke  depan.


×