Muhasabah | Republika
21 Jan 2021, 10:03 WIB

Muhasabah Nasional untuk Kemaslahatan Bangsa

Muhasabah menjadi jalan untuk kemajuan bangsa.

JAKARTA -- Seruan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amirsyah Tambunan agar dilakukan muhasabah nasional menyusul banyaknya musibah di Tanah Air mendapat sambutan baik. Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendukung seruan tersebut.

Muhasabah berasal dari akar kata hasaba-yuhasibu-muhasabah yang berarti menghitung. Secara istilah, muhasabah adalah evaluasi diri dengan menghitung amal-amal yang telah kita lakukan. Muhasabah adalah salah satu cara untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik dari hari ke hari.

Muhasabah nasional yang dimaksud oleh Sekjen MUI di atas adalah upaya introspeksi diri seluruh warga dan pemerintah Indonesia, berzikir memohon ampunan dan berdoa agar Allah membuka pintu rahmat-Nya kepada negeri ini.  

Ketua PP Muhammadiyah, Dadang Kahmad, mengatakan, dalam menyikapi musibah yang datang bertubi-tubi hendaknya masyarakat tetap bersabar, terus berdoa, dan saling menolong untuk meringankan beban.

Terkait

"Semuanya sebagai peringatan kepada manusia untuk segera kembali ke jalan Allah, melaksanakan semua perintah dan menjauhi segala yang dilarang-Nya. Maka, setuju dengan MUI bahwa semua umat Islam dan umat lainnya sebaiknya melakukan muhasabah, baik sendiri maupun berjamaah," ujar Dadang kepada Republika, Rabu (20/1).

Seperti diketahui, saat ini beberapa wilayah di Indonesia dilanda bencana alam, mulai dari banjir, gempa bumi, hingga erupsi gunung berapi. Selain menelan korban jiwa, bencana-bencana alam tersebut juga mengakibatkan banyak warga menderita luka-luka serta menimbulkan berbagai jenis kerugian fisik.

Tak hanya bencana alam, musibah lain berupa kecelakaan pesawat Sriwajaya Air SJ 182 juga menambah kisah tragis pada pembuka tahun ini. Dalam pandangan Ketua Bidang Dakwah dan Masjid PBNU KH Manan Ghani, muhasabah nasional dapat diisi dengan pelaksanaan shalat, zikir, doa, dan mau’zhoh hasanah guna mengingatkan seluruh bangsa untuk bersatu dan saling menolong dalam menghadapi ujian ini.

Dia juga berharap dari pelaksanaan muhasabah ini, masyarakat Indonesia dapat tetap tegar dan sabar dalam menghadapi segala cobaan. “Semoga Indonesia dapat menjadi bangsa adil, makmur, dan diridhai Allah SAW,” ujarnya.

Sementara itu, Sekjen MUI Amirsyah Tambunan yang pertama kali menyerukan muhasabah nasional menyatakan, muhasabah tersebut bisa dilakukan secara mandiri oleh setiap Muslim di Indonesia. Sebab, menurut dia, yang terpenting adalah lahirnya kesadaran kolektif untuk memperbaiki kesalahan.

"Doa bisa dilakukan masing-masing, yang penting lahir kesadaran kolektif memperbaiki kesalahan, baik dalam bentuk tamak, rakus, tabzir, dan lain-lain," kata dia.

Ia menjelaskan, dalam khazanah literatur Islam, kata ‘muhasabah’ mengandung arti yang begitu dalam. Bila dipahami esensinya, muhasabah mengandung arti introspeksi diri atas apa yang telah dilakukan oleh siapa pun dan apa yang harus diperbaiki demi masa depan yang lebih baik.

"Muhasabah nasional dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya semua komponen bangsa harus mempunyai kesadaran kolektif untuk mengintrospeksi bahwa musibah, seperti tanah longsor dan banjir, ada sebab-akibat," ujar dia.

 
Semua komponen bangsa harus mempunyai kesadaran kolektif untuk mengintrospeksi bahwa musibah, seperti tanah longsor dan banjir, ada sebab-akibat.
 
 

Ia mencontohkan, tanah gundul menjadi penyebab tanah longsor. Curah hujan yang besar, sementara daya tampung permukaan tanah terbatas menyebabkan air meluap sehingga terjadilah banjir.

Dengan mengetahui sebab-akibat, menurut dia, seluruh umat manusia harus memperbaiki kekeliruan, seperti membiarkan hutan menjadi gundul.

Setiap orang beriman, Amirsyah menambahkan, harus sadar bahwa segala macam musibah adalah bentuk ujian dari Allah. "Maka, perlu dilakukan doa bersama, semoga musibah segera berlalu, dan memperolah hikmah di balik musibah."


×