Petugas kesehatan menunjukkan jarum suntik dan kartu vaksinasi Covid-19 untuk pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di Aula Dinas Kesehatan Kota Bandung, Jalan Supratman, Kota Bandung, Selasa (12/1). | ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
13 Jan 2021, 03:15 WIB

Hari Ini Vaksinasi Covid-19 Dimulai

Menkes mengungkapkan kendala dalam distribusi vaksin Covid-19.

 

JAKARTA -- Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan, proses vaksinasi Covid-19 akan dilakukan hari ini, Rabu (13/1). Total Sebanyak 1,48 juta tenaga kesehatan (nakes) di seluruh Indonesia akan divaksin pada periode Januari-Februari 2021.

"Diharapkan ini bisa mulai besok (hari ini—Red), pekan ini, kemudian rolling mudah-mudahan di akhir Februari ini bisa selesai," kata Budi dalam rapat dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (12/1). 

Budi mengatakan, sebanyak 566 ribu tenaga kesehatan akan disuntik vaksin pada Januari. Sekitar 900 ribu selebihnya akan divaksin pada tahap kedua, yaitu Februari. "Total 1,46 juta (nakes) atau sekitar 3 juta dosis kita bisa lakukan di Januari-Februari," ujarnya. Alasan tenaga kesehatan menjadi prioritas penerima vaksin karena mereka berisiko tinggi terpapar Covid-19.

Terkait

Pada tahapan pertama Januari-April 2020, pemerintah juga memprioritaskan vaksinasi terhadap 17,4 juta petugas publik dan 21,5 juta lansia. “Dengan alasan yang sama tadi. Bukan alasan ekonomi, bukan alasan politik, bukan alasan sosial, tapi lebih ke alasan kemanusiaan," kata Menkes.

Vaksinasi kelompok lansia, menurut dia, harus menunggu vaksin Pfizer dan Astra Zeneca tiba pada April. Sebab, vaksin Sinovac hanya diujikan pada orang berusia 18-59 tahun. Meski begitu, vaksin Coronavac buatan Sinovac telah mendapatkan izin guna darurat (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sekaligus fatwa halal Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada Senin (11/1).

Sebanyak 1,2 juta dosis vaksin telah mulai didistribusikan ke 34 provinsi pada pekan lalu. Seiring keluarnya EUA dari BPOM, vaksin-vaksin itu mulai disalurkan ke kabupaten/kota. 

Menurut Menkes, sempat ada kendala pengiriman ke delapan provinsi karena keterbatasan jaringan distribusi rantai dingin serta kapasitas penyimpanan di daerah. Hingga Selasa (12/1), ada dua provinsi yang belum rampung menerima distribusi vaksin, yakni Sumatra Utara dan Sumatra Selatan. 

photo
Petugas menggotong kardus vaksin Covid-19 untuk didistribusikan ke kabupaten/kota di Gudang Farmasi Dinkes Provinsi Banten, Serang, Selasa (12/1). - (ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman)

“Yang kami khawatirkan, ini baru batch 1,2 juta. Kalau nanti kami kirim batch 1,8 juta, nanti tinggi lagi tekanannya. Apalagi dengan 17 juta,” kata dia di Kompleks Parlemen Senayan, kemarin. Menurut dia, pemerintah berencana menggandeng pihak swasta untuk menyelesaikan persoalan ini.

Sementara itu, Sekretariat Presiden menyatakan, Presiden Joko Widodo siap menjalani vaksinasi Covid-19 pada hari ini di Istana Kepresidenan Jakarta. Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono menyebutkan, tim kedokteran kepresidenan telah memastikan kondisi tubuh Presiden cukup fit dan sehat untuk menjalani vaksinasi Covid-19.

"Teknis vaksinasinya sama seperti simulasi yang sempat dilakukan Presiden tempo hari di puskesmas," ujar Heru, Selasa (12/1).

Mengenai pihak-pihak dan pejabat yang akan divaksin bersama dengan Presiden, Heru menyampaikan, daftarnya telah dipegang oleh Menteri Sekretaris Negara Pratikno.

 
Ada tiga kelompok yang mendapatkan suntikan vaksin Covid-19 pertama di Indonesia.
 
 

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito sempat menyampaikan, ada tiga kelompok yang mendapatkan suntikan vaksin Covid-19 pertama di Indonesia. Mereka adalah pejabat publik pusat dan daerah, pengurus asosiasi profesi tenaga kesehatan serta pimpinan kunci dari institusi kesehatan di daerah, dan tokoh agama di daerah. 

Vaksinasi Covid-19 ditargetkan akan dilakukan terhadap 70 persen populasi Indonesia atau 182 juta penduduk. Angka itu adalah batas minimal vaksinasi untuk mencapai kekebalan kawanan.

Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Harif Fadhillah menyatakan, kesiapan perawat mendapatkan vaksinasi meningkat seiring dengan keluarnya izin darurat dari BPOM. "Saya kira ini mendongkrak, menghilangkan keraguan-keraguan, mereka jadi siap divaksin," katanya saat dihubungi Republika, Selasa (12/1).

Harif menyatakan, pihaknya belum berencana menyiapkan sanksi bagi perawat yang enggan divaksin. Meski begitu, pendisiplinan bisa dilakukan secara kasuistis. “Karena itu kan pada tataran etika. Jika terbukti ada pelanggaran, bisa mendapatkan teguran, peringatan," katanya.

 
Pihaknya belum berencana menyiapkan sanksi bagi perawat yang enggan divaksin.
 
 

Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) juga menyambut baik vaksinasi setelah keluar izin guna dari BPOM. "Sejak hari ini, mari, bismillah, kita mulai dan dukung pelaksanaan vaksinasi Covid-19," kata Ketua Umum PB IDI Daeng M Faqih, Senin (11/1).

PB IDI mengimbau untuk menghentikan polemik vaksinasi karena kesimpulan prosedur keilmuan sudah didapatkan. IDI telah mendengarkan, memperhatikan, dan mengikuti semua proses prosedur keilmuan yang sudah dilakukan untuk memberikan EUA vaksin Covid-19 Sinovac. Mulai dari penelitian, uji klinik, sampai penilaian yang dilakukan oleh otoritas.

Episentrum Siap Vaksinasi

Daerah-daerah yang menjadi episentrum penularan Covid-19 mulai menyiapkan vaksinasi. Penyuntikan perdana vaksin Covid-19 buatan Sinovac dijadwalkan pada Kamis (14/1) hingga Jumat (15/1).

Di DKI Jakarta, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria mengatakan, vaksinasi rencananya dilakukan pada Jumat (15/1) pagi. “Dimulai dari tenaga kesehatan dan tokoh-tokoh agar menjadi contoh masyarakat," kata Ariza, sapaan akrabnya, di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (12/1).

Merujuk data Komite Penanganan Covid-19, DKI Jakarta hingga Selasa (12/1), merupakan daerah dengan kasus Covid-19 terbanyak di Indonesia pada angka 208.583 kasus dengan 3.516 kematian.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Pemprov DKI Jakarta (dkijakarta)

Sebelumnya, Ariza menyebut, pelaksanaan vaksinasi di Jakarta bakal dilaksanakan pada Kamis, 14 Januari 2021. "Rencananya, tanggal 14 (Januari 2021), tapi banyak tokoh menyampaikan itu hari Kamis ya, banyak yang puasa Senin-Kamis, jadi disepakati hari Jumat pagi," ujar dia.

Dia menambahkan, tokoh-tokoh yang nantinya akan disuntik vaksin Covid-19 itu terdiri atas pejabat pemda, Polda Metro Jaya, Kodam Jaya, serta Forkopimda. “Tinggal mengatur tempatnya, apakah di rumah sakit, puskesmas, atau di tempat masing-masing. Kalau saran dari menkes kan di rumah sakit," ujarnya.

Sejauh ini Pemprov DKI telah menerima 39.200 dosis vaksin Covid-19. Pemprov DKI juga telah menyiapkan 453 fasilitas kesehatan sebagai tempat pelaksanaan vaksinasi Covid-19. Pada tahap pertama, ada sekitar 119.145 tenaga kesehatan di Ibu Kota yang akan divaksinasi.

Di Jawa Barat, menurut Gubernur Ridwan Kamil, vaksinasi akan dilakukan pada Kamis (14/1). "Sesuai arahan, kepala daerah, gubernur, wali kota, tokoh masyarakat sebagai simbol keteladanan itu akan dimulai hari Kamis," ujar Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil.

Emil mengatakan, dia akan mendampingi wakil gubernur Jabar. Kemudian, kapolda Jabar juga berkenan untuk menjadi contoh dan ulama pun sudah beberapa menyatakan kesiapannya. "Nah kita fokus pada penyelesaian ini walaupun yang namanya vaksin tidak 100 persen bisa menyelesaikan masalah ini. Jadi harus dikombinasi tetap dengan 3M," katanya. 

Jawa Barat saat ini merupakan provinsi dengan kasus Covid-19 terbanyak kedua sebesar 99.045 kasus dengan 1.230 kematian. Untuk tahap I, Pemprov Jabar direncanakan mendapat 38 ribu dosis dari total 97 ribu dosis, yang akan disuntikkan kepada tenaga kesehatan.

Dari data Satgas Covid-19 Jawa Barat, di Jawa Barat terdapat 152.827 tenaga kesehatan (nakes). Kebutuhan paling banyak ada di Bandung dengan 20.533 nakes. Disusul Kota Depok dengan 12.229 nakes. Sebanyak 11 ribu vaksinator akan dikerahkan dalam pelaksanaan vaksinasi.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, pejabat Pemprov Jatim bersama dengan para dokter, tokoh agama, dan civitas akademika akan jadi yang pertama divaksin pada Kamis (14/1). Rencananya, vaksinasi tersebut akan dilaksanakan di RSUD Soetomo.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by khofifah indar parawansa (khofifah.ip)

"Prioritas tahap pertama sesuai surat dari Kementerian Kesehatan adalah Surabaya, Sidoarjo dan Gresik," kata Khofifah di Surabaya, Selasa (12/1).

Sembari menunggu vaksin tersebar luas di seluruh penjuru Jawa Timur, menurut Khofifah, masyarakat harus terus menerapkan protokol kesehatan dengan baik. Jawa Timur berada di posisi ketiga terbanyak kasus Covid-19 sebesar 93.405. Meski begitu, jumlah kematian di Jawa Timur merupakan yang tertinggi, yakni 6.511 kematian.

photo
Vaksin dan Nakes di Episentrum - (Republika)

Jawa Timur mendapat jatah total 77.760 vaksin Covid-19 pada gelombang pertama. Khofifah menyatakan, jika satu orang harus menjalani vaksinasi dua kali, untuk tahap pertama hanya 38.880 SDM kesehatan Jatim yang mendapat jatah vaksin.

Padahal, jumlah SDM kesehatan di Jawa Timur saat ini berjumlah 196.459 orang. Artinya, menurut dia, vaksin Covid-19 tahap pertama ini baru cukup untuk 19,79 persen SDM kesehatan di Jatim.

Di Jawa Tengah, sebanyak tiga kabupaten/kota bakal melaksanakan vaksinasi tahap pertama. "Kota Semarang, Kota Solo, dan Kabupaten Semarang akan menjadi tiga daerah pertama, yang melaksanakan vaksinasi pada 14 Januari 2021," kata Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di Semarang, Selasa (12/1).

Sejauh ini tercatat 92.764 kasus Covid-19 di Jateng dengan total 3.774 kematian. Dinas Kesehatan Jateng sebelumnya melansir, total ada sekitar 31.255 tenaga kesehatan, yang mula-mula divaksin di Jateng. Sebanyak 2.785 tenaga vaksinator telah siap di provinsi tersebut. Jateng sejauh ini telah menerima 62.560 dosis vaksin Sinovac.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Ganjar Pranowo (ganjar_pranowo)


×