Keluarga menunjukkan foto Pilot Sriwijaya Air SJ 182 Captain Afwan di rumahnya, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ahad (10/1). | ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya
11 Jan 2021, 03:05 WIB

Pesan Da Aan dan Asa Keluarga Diego

Pilot SJ 182 tersebut dikenal sebagai pribadi yang tak lepas dari ibadah.

 

OLEH FEBRIAN FACHRI, ALKHALEDI KURNIALAM

Setinggi apa pun aku terbang tidak akan mencapai surga bila tidak shalat lima waktu.

Kutipan penuh makna tersebut sudah sejak beberapa waktu lalu terpampang sebagai tampilan gambar kontak Whatsapp Kapten Afwan. Tak sekadar gambar, sehari-harinya pensiunan penerbang TNI Angkatan Udara tersebut memang dikenal sebagai pribadi yang tak lepas dari ibadah.

Terkait

Sebentar lagi, Afwan memasuki usia 55 tahun. Namun, garis takdirnya membawa pada kejadian nahas yang menimpa pesawat Boeing 737-500 milik maskapai Sriwijaya Air pada Sabtu (9/1) sore.

"Taat sekali shalat lima waktu. Di rumahnya hampir setiap pagi selalu diputar muratal ayat Alquran. Beliau sosok yang pemurah dan selalu membantu keluarga yang sedang kesulitan," ujar jurnalis Republika, Akbar, yang juga merupakan keponakan Kapten Afwan, Ahad (10/1).

Akbar mengatakan, sosok Kapten Afwan juga pengurus masjid di sekitar rumahnya. "Belakangan kalau ada acara kumpul-kumpul keluarga, beliau selalu didapuk untuk mengisi tausiah," kata Akbar.

photo
Bupati Bogor Ade Yasin (kiri) mengunjungi keluarga Pilot Sriwijaya Air SJ 182 Capt Afwan di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ahad (10/1). C - (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)

Akbar juga menuturkan, istri pamannya itu, Pipit, menceritakan, ada yang ganjil pada diri Afwan sebelum bertolak pada Sabtu tersebut. Tak seperti kebiasaannya 15 tahun terakhir, Da Aan (begitu dia dipanggil oleh keluarganya --Red), pergi tergesa-gesa dan tanpa sempat disetrika bajunya. Sebelum berangkat, dia juga menyampaikan ucapan permintaan maaf.

Lalu setelah sampai di bandara, Da Aan juga melakukan video call dengan tiga putrinya. Ini hal yang tak lazim dilakukannya. Lalu setiap kali landing, Da Aan selalu menelepon istrinya. Namun, telepon itu tak kunjung datang, Sabtu.

Teguh Joko M, seorang rekan Afwan, menceritakan, setiap ada pertemuan, Kapten Afwan kerap membagikan ayat-ayat Alquran. “Mengingatkan kita sebagai manusia jangan meninggalkan shalat dan percaya kepada Allah,” kata Teguh kepada Republika di kediaman Afwan di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (9/1) malam.

Selain itu, Teguh juga hafal kebiasaan rekannya yang selalu mencari mushala untuk beribadah, sesegera mungkin setelah landing. “Subuhnya juga di lingkungan sini berjamaah,” ujarnya.

photo
Keluarga Co Pilot pesawat Sriwijaya Air SJ 182 Diego Enrile Mamahit berjalan menuju tempat penyerahan data ante mortem guna keperluan identifikasi di RS Polri, Jakarta, Ahad (10/1). - (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Sejauh ini, keluarga Kapten Afwan masih menunggu kabar resmi mengenai keberadaannya. Mohammad Akbar menjelaskan, direksi dari Sriwijaya Air sempat melakukan kontak dengan pihak keluarga. Dari hasil kontak tersebut, keluarga masih menunggu informasi yang lebih jelas dan detail dari pihak maskapai. 

“Semua masih mencari informasi yang lebih detail dan valid. Jadi, kita juga belum berani mendahului info-info yang takutnya di kemudian hari jadi blunder buat kita semua,” katanya.

Kakak sepupu dari Afwan, Yarni Mahmud, yang berada di Nagari Sungai Jambu, Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat, masih berharap ada keajaiban dari Allah SWT supaya Afwan selamat. "Semoga nasib baik agar Afwan bisa berkumpul lagi dengan keluarga," kata Yarni, Ahad (10/1).

Yarni menuturkan, Afwan adalah figur yang santun dan peduli dengan sanak saudara, baik yang berada di rantau maupun kampung halaman. Afwan terakhir pulang kampung ke Sungai Jambu empat tahun yang lalu saat mengemudikan pesawat yang mendarat di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Sumbar.

Ketua RT setempat, Agus Pramudibyo, mengaku terakhir bertemu dengan Kapten Afwan, atau yang biasa disapanya sebagai Pak Haji, pada Jumat (8/1). Dia menceritakan, meski sibuk menjalani profesinya sebagai pilot, Kapten Afwan sering berbaur dengan warga saat libur. “Baik orangnya. Beliau tinggal di sini sekitar 10 tahun. Orangnya membaur, aktif di masyarakat dan agama,” ujarnya.

photo
Keluarga Co Pilot pesawat Sriwijaya Air SJ 182 Diego Enrile Mamahit menunjukan foto diri kru pesawat tersebut di tempat penyerahan data ante mortem guna keperluan identifikasi di RS Polri, Jakarta, Ahad (10/1). - (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Sementara, optimisme masih disuarakan keluarga Diego Mamahit, kopilot yang bertugas mendampingi Afwan dalam pesawat tersebut. Sambil menahan tangis, kakak Diego, Chris Mamahit, mendatangi Posko Ante Mortem-DVI Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Ahad (10/1).

Ia datang bersama orang tua dan seorang saudarinya. "Pada dasarnya kami tetap percaya bahwa Diego pasti selamat. Tuhan baik, Diego itu orang baik. Dia sayang sama keluarganya, dia sayang sama kita semua. Kami percaya sampai detik ini Diego selamat," katanya seusai menyerahkan data-data Diego untuk keperluan identifikasi di Rumah Sakit Polri, Ahad (10/1).

Chris meyakini, adiknya telah telah terlatih untuk menghadapi situasi apa pun di dalam pesawat. "Dia bisa berjuang. Dia sudah diajari buat recovery kalau terjadi kejadian terburuk apapun," katanya.

Dia mengaku selalu memberi tahu Diego untuk mengecek kelaikan kondisi pesawat sebelum terbang. Chris bahkan sempat mengancam adiknya untuk tidak mencoba terbang jika mengetahui ada kerusakan pada pesawat yang akan ia awaki.

photo
Kerabat dan rekan dari pramugari Sriwijaya Air SJ 182 Mia Tresetyani mengikuti Kebaktian Doa Bersama di Denpasar, Bali, Ahad (10/1). Kegiatan tersebut dilakukan untuk menguatkan keluarga dan mendoakan seluruh awak kabin serta penumpang sekaligus memohon kelancaran proses pencarian dan evakuasi Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak yang mengalami kecelakaan pada Sabtu (9/1). - (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)

"Dia selalu bilang sama saya, ‘Saya nggak akan jalan kalau pesawatnya rusak’. Saya pegang kata-kata dia. Saya sampai ancam dia, 'Kalau pesawatnya rusak, kamu jangan jalan ya!’," ujarnya sambil terisak.

Chris telah menyerahkan sampel darah hingga sidik jari Diego kepada Tim DVI RS Polri Kramat Jati. "Saya katakan sekali lagi adik saya selamat. Ini hanya untuk keperluan SOP Polri," katanya. 

Mantan ketua umum PB HMI Mulyadi P Tamsir juga diketahui berada di dalam pesawat S SJ182. Mulyadi terbang menggunakan maskapai tersebut bersama istri yang baru ia nikahi dan mertuanya. "Iya benar. Rombongan empat orang: Pak Mulyadi P Tamsir, Makrufatul, Khasanah, Andi Syifa Kamila. Mohon doanya (agar) selamat dunia akhirat," kata mantan ketua umum PB HMI Arief Rosyid, Sabtu (9/1).

Ketika mendengar kabar jatuhnya pesawat tersebut, Arief mengaku mencoba menghubungi nomor telepon Mulyadi, tapi memang sudah tidak aktif. Menurut Arief, ia terakhir berkomunikasi dengan Mulyadi saat melakukan tes PCR di klinik miliknya pada Kamis (7/1). 


×