IMAN SUGEMA | Daan Yahya | Republika
11 Jan 2021, 03:00 WIB

Petak Umpet Covid-19

Kita harus pandai-pandai bermain petak umpet dengan korona.

OLEH IMAN SUGEMA

 

Awal tahun 2021 dimulai dengan sebuah kejutan besar. Tepat hari ini pemerintah memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) Jawa-Bali. Artinya, pemerintah memandang bahwa terlalu berbahaya untuk membiarkan masyarakat terpapar risiko tertular Covid-19.

Sudah menjadi tugas negara untuk melindungi rakyatnya dari bahaya penyebaran virus. Tentu saja hasil akhirnya sangat bergantung pada kesadaran kita semua untuk menaati protokol kesehatan. Semakin banyak yang taat, semakin kecil risiko penyebarannya.

Terkait

Kaidah tersebut tentulah sangat mudah untuk diucapkan dan dipahami. Namun pada kenyataannya, sangatlah sulit bagi kita semua untuk menerapkannya. Sejauh ini, hasil estimasi dari data yang kami miliki menunjukkan bahwa tidak kurang dari 90 juta rakyat Indonesia ternyata kurang patuh terhadap protokol kesehatan.

Mereka pada umumnya paham tentang imbauan untuk memakai masker, sering cuci tangan pakai sabun, dan menghindari kerumunan. Paham bukan berarti sanggup melakukan. Paham saja tidak cukup.

Yang paling penting adalah konsistensi menerapkan protokol kesehatan oleh segenap lapisan masyarakat. Pejabat dan pemuka masyarakat seyogianya tampil memberikan teladan. Kata-kata dan imbauan hanya sampai di telinga dan otak saja. Yang kita perlukan adalah aksi nyata.

 
Yang paling penting adalah konsistensi menerapkan protokol kesehatan oleh segenap lapisan masyarakat.
 
 

Apalagi saat ini di Inggris dijumpai varian baru virus Covid-19. Tampaknya, sang virus terus bermutasi dan ada ketidakpastian yang sangat nyata tentang bentuk akhir dari mutasi tersebut. Kita belum bisa mengetahui dengan pasti tentang jumlah jenis varian yang akan muncul.  

Celakanya, perkembangan ilmu pengetahuan tentang penyakit manusia selalu tertinggal di belakang. Kita menjadi lebih tahu hanya bila penyakit itu timbul. Kita tahu bahwa virus selalu bermutasi, tetapi kita belum bisa memprediksikan arah mutasi serta berbagai konsekuensi yang ditimbulkannya. Seberapa jauh bahaya yang ditimbulkan oleh varian baru virus korona hanya bisa kita ketahui setelah ada orang yang terjangkiti.  

Begitu pula dengan vaksin. Vaksin hanya bisa dibuat bila sudah ada kasus penyakit. Konsekuensinya adalah vaksin yang rencananya akan diedarkan ke masyarakat belum bisa dibuktikan secara empiris ilmiah sanggup mencegah penyebaran virus korona jenis baru yang berasal dari Inggris. Vaksin yang akan diedarkan dalam jangka dekat ini hanya terbukti secara klinis efektif bagi virus korona yang sudah menyebar di Indonesia saat ini.

Tentunya sangatlah wajar kalau masyarakat awam seperti saya sangat menginginkan untuk segera mengetahui apakah vaksin yang siap edar ini mampu menangkal semua varian virus korona. Kalau Anda menanyakan itu kepada seorang virolog yang jujur dan andal pasti jawabannya adalah belum tahu sampai ada uji klinis yang baru.

Jawaban yang pasti baru akan kita peroleh setelah ada bukti-bukti empiris yang dikumpulkan oleh para ilmuwan. Harap dicatat, jangan tanya masalah ini kepada ahli survei, politisi ataupun ekonom, termasuk saya.

Karena jawaban yang pasti belum bisa kita peroleh dalam jangka dekat ini, hanya dua hal yang bisa kita lakukan. Pertama adalah kita secara sadar mengikuti program vaksinasi yang akan segera dilakukan oleh pemerintah.

Setidaknya vaksin ini secara klinis sudah terbukti efektif terhadap strain virus korona yang sudah menyebar selama hampir setahun ini. Perdebatan mengenai tingkat efektivitasnya akan selalu menjadi kontroversi. Maklum, ini merupakan sebuah panggung besar dan berbagai kepentingan sedang bertikai.  

Kedua, sambil menunggu vaksin dan hasil uji klinis terhadap jenis virus korona yang baru, maka kita tidak boleh lepas dari protokol kesehatan. Bahkan nantinya protokol ini harus senantiasa ditaati walaupun kita semua sudah divaksin.

 
Jangan heran bila nanti akan ada PSBB lagi kalau seandainya vaksin tak mampu menangkal virus hasil mutasi yang baru.
 
 

Jangan heran bila nanti akan ada PSBB lagi kalau seandainya vaksin tak mampu menangkal virus hasil mutasi yang baru. Jangan salahkan ahli vaksin dan para dokter. Sampai saat ini ilmu pengetahuan belum bisa mendahului alam. Perubahan ilmu pengetahuan selalu mengikuti perubahan alam.

Yang perlu kita sadari bersama bahwa segenap lapisan masyarakat perlu beradaptasi dengan perkembangan virus. Korona akan selalu bermutasi dan selalu berada di sekitar kita.

Kita harus pandai-pandai bermain petak umpet dengan korona. Dan hukum alam adalah sebuah kepastian: hanya yang mau beradaptasi saja yang akan selamat. Yang susah move-on akan selalu menjadi korban. Itulah kenyataan hidup yang akan kita hadapi.


×