Adiwarman Karim | Daan Yahya | Republika
04 Jan 2021, 03:10 WIB

Bersabarlah, Kemenangan Sangat Dekat

Bersabarlah, kemenangan sangat dekat. Allah punya rencana lain yang lebih indah.

OLEH ADIWARMAN A KARIM

 

Jenderal Douglas MacArthur dalam keadaan sangat terjepit oleh serangan Jepang ke Filipina terpaksa lari bersama keluarga dan pasukannya menuju Australia. Hampir saja tertangkap ketika kapalnya menyelinap ke Mindanao untuk kemudian terbang dengan pesawat Boeing B17.

Setibanya di Melbourne, dia berkata, "Saya berhasil lolos, dan saya akan kembali." Bersabarlah, kemenangan sangat dekat.

Terkait

Ketika Belanda lari dari Indonesia akibat serangan Jepang, kebijakan stick and carrot diterapkan. Untuk mendapat simpati, rakyat dikelabui dengan slogan "Saudara Tua" yang akan melindungi dan membebaskan dari penjajahan. Sebelum Jepang mendarat di Indonesia, tiap hari siaran radio Tokyo mendengungkan lagu "Indonesia Raya" dan menganjurkan rakyat Indonesia mengibarkan bendera Merah Putih untuk menyambut kedatangan tentara Jepang. Kemudian dibentuklah tentara PETA.

Pada saat yang sama, romusha, sebutan bagi rakyat yang dipekerjakan secara paksa sangat menderita pada masa penjajahan sejak 1942 hingga 1945. Mereka dikirim untuk bekerja di berbagai tempat di Indonesia serta Asia Tenggara.

Masa yang pendek, tapi sangat intens karena terlibat dalam pusaran Perang Dunia II. Bersabarlah, kemenangan sangat dekat. Indonesia kemudian merdeka, bukan karena berhasil mengalahkan Jepang. Allah punya rencana lain yang lebih indah.

 
Bersabarlah, kemenangan sangat dekat. Indonesia kemudian merdeka, bukan karena berhasil mengalahkan Jepang. Allah punya rencana lain yang lebih indah.
 
 

Ketika Masyumi dibubarkan, banyak ulama dipenjarakan, umat Islam dalam keadaan sangat tertekan. Kemudian banyak kiai dan santri NU yang syahid menjadi korban keganasan fitnah politik, asa umat Islam tertutup awan gelap. Yang benar seakan salah, yang salah seakan benar.

Bersabarlah, kemenangan sangat dekat. Bukan karena Masyumi dan NU dapat mengalahkan. Allah punya rencana lain yang lebih indah.

Ketika bertahun-tahun para petani hidup sulit di perdesaan, kemudian perekonomian dihantam badai krisis moneter tahun 1998, rupiah terjun bebas, ketakutan merasuki pikiran. Entah apa jadinya dengan petani, keadaan normal saja hidup sudah sulit, apalagi ada krisis moneter.

Bersabarlah, kemenangan sangat dekat. Bukan karena petani melakukan inovasi dalam budidaya dan pemasaran kopra, sawit, karet dan komoditas ekspor lainnya. Allah punya rencana lain yang lebih indah.

Ketika perekonomian Indonesia merosot tajam akibat Covid-19, bahkan keadaan resesi tidak terhindarkan, pendapatan negara jeblok, pengeluaran negara melangit, daya beli masyarakat tertahan, bisnis terhenti, kegalauan berkecamuk tanpa arah, tanpa tahu kapan Covid-19 akan berakhir.

Tahun 2021 diperkirakan perekonomian membaik dengan pertumbuhan 4 sampai mendekati 5 persen karena adanya perbaikan ekonomi global dan stimulus fiskal oleh pemerintah. Bersabarlah, kemenangan sangat dekat. Bukan karena kehebatan pemerintah semata. Allah punya rencana lain yang lebih indah.

 
Bersabarlah, kemenangan sangat dekat. Bukan karena kehebatan pemerintah semata. Allah punya rencana lain yang lebih indah.
 
 

The Economist Intelligence Unit dalam artikelnya "US policy towards South-east Asia under Biden" memperkirakan tiga kebijakan AS untuk kawasan Asia Tenggara. Pertama, merajut kembali kerja sama keamanan kawasan untuk mengurangi ketegangan di Laut Cina Selatan.

Kedua, menurunnya pengaruh ekonomi AS di kawasan tidak akan diperbaiki dengan cara AS bergabung ke dalam pakta kerja sama ekonomi kawasan.

Ketiga, penegakan hak asasi manusia akan menjadi alat tekan diplomasi dalam kerja sama keamanan dan ekonomi sebagai bagian dari kebijakan luar negeri AS berbasis nilai (values-based). Reaksi pertama telah muncul atas keputusan pengadilan memenjarakan aktivis HAM Saudi, Loujain al Hathoul.

Jake Sullivan, calon penasihat keamanan nasional kabinet Biden, menegaskan "Pemerintahan Biden-Harris akan berdiri tegak melawan setiap pelanggaran HAM di manapun terjadi." Sepanjang kampanye Biden memang menegaskan "HAM akan menjadi inti dari kebijakan luar negeri AS".

Gregory Gordon, profesor Chinese University of Hong Kong, dalam artikelnya "For the Biden Presidency, Promoting Human Rights in Asia" menjelaskan tiga jenis pelanggaran HAM. Pertama, HAM paling dasar disebut juga negative rights, yaitu mencegah pemerintah menyakiti rakyatnya, misalnya penyiksaan dan extrajudicial killing.

Kedua, HAM tingkat dua disebut juga positive rights, yaitu kewajiban pemerintah menyediakan fasilitas sosial ekonomi, misalnya fasilitas kesehatan dan kondisi kerja yang layak.

Ketiga, HAM tingkat tiga atau disebut solidarity rights, yaitu kewajiban pemerintah melindungi hak kepentingan bersama, misalnya lingkungan yang bersih dan kedamaian.

Biden akan dilantik tengah hari pada 20 Januari 2021. Diperkirakan Februari mulai dilakukan kunjungan kenegaraan atau pejabat tinggi ke negara-negara mitra strategis. Pesan penting tentang penegakan HAM yang dirangkai dengan kerja sama keamanan dan ekonomi akan disampaikan.

Di sisi lain, Cina yang selama empat tahun terakhir telah menjelma menjadi mitra strategis di puluhan negara berkembang dengan guyuran investasi dan pinjaman, tentu tidak akan tinggal diam. Matt Ferchen, peneliti Mercator Institute for China Studies, dalam risetnya "How China Is Reshaping International Development" menjelaskan perbedaan diplomasi Cina dan AS.

 
Cina menggunakan instrumen komersial, yaitu investasi, kredit, dan perdagangan. Sedangkan, AS menggunakan instrumen bantuan internasional.
 
 

Cina menggunakan instrumen komersial, yaitu investasi, kredit, dan perdagangan. Sedangkan, AS menggunakan instrumen bantuan internasional. Dengan pendekatan ini, Cina membangun slogan kerja sama komersial yang "win-win" dan setara.

Ferchen juga mengutip Xi Jinping bahwa "pembangunan adalah prioritas utama dan basis mencapai keamanan abadi. Tetapi adalah keliru bila meyakini pembangunan akan menyelesaikan semua masalah dengan sendirinya".

Chunyang Pan, peneliti East China University of Science and Technology, beserta tim risetnya dalam artikel mereka "Does China’s Outward Direct Investment Improve the Institutional Quality of the Belt and Road Countries?" menemukan hal menarik.

Pertama, investasi Cina di negara mitra tidak memperbaiki "control of corruption", "government effectiveness", dan "political stability". Kedua, investasi Cina memperbaiki "regulatory quality" dan "rule of law".

Ini sangat menarik. Hukum prosedural membaik, hukum hakiki tidak membaik yang tercermin dari tiga hal tersebut. Eleanor Albert, peneliti George Washington University, dalam artikelnya "Indonesian Special Envoy Visits China in Show of Cooperation" menyimpulkan hubungan 70 tahun Indonesia-Cina dan kemitraan strategis ekonomi saat ini masih dibumbui dengan sentimen anti-Cina dan ketegangan di Laut Cina Selatan.

Mudah diduga, AS akan menawarkan kerja sama keamanan dan ekonomi dalam bingkai HAM. Cina akan melanjutkan kemitraan strategis dengan memperbaiki sentimen anti-Cina melalui pembentukan opini wajah Islam di Cina dan Cina adalah negara terbesar kedua populasi Muslim dunia setelah Indonesia.

Bersabarlah, kemenangan sangat dekat. Bukan karena kita mampu mengalahkan. Allah punya rencana lain yang lebih indah. Nasrun minallah wa fathun qarib wa bassyiril mu’minin.


×