Didin Hafidudin | Daan Yahya | Republika
21 Nov 2020, 02:00 WIB

Menguatkan Akhlak dalam Bermuamalah

Tegaknya umat dan bangsa sangat tergantung pada akhlaknya.

OLEH KH DIDIN HAFIDHUDDIN

Kita sama-sama menyadari bahwa bahwa salah satu fenomena buruk yang terjadi di sebagian masyarakat kita pada saat sekarang ini, adalah sering tersebarnya berita buruk yang menghujat, menghina, bahkan memfitnah yang lain, tanpa ada klarifikasi atau tabayyun sebelumnya.

Jika fenomena buruk ini dibiarkan, dipelihara bahkan dikembangkan, akan menghancurkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara di masa mendatang. Seorang pujangga Islam, Syauqi Beik menyatakan, bahwa tegaknya umat dan bangsa itu sangat tergantung pada akhlaknya. Jika beres akhlaknya maka akan beres bangsa itu, dan jika rusak serta hancur akhlaknya akan hancur pula bangsa tersebut

Dalam kaitan ini, kita memahami bahwa salah satu tujuan utama diutusnya Rasulullah SAW ke muka bumi ini, adalah dalam rangka menyempurnakan akhlak mulia. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad, dari Abu Hurairah, beliau bersabda: “Innamâ bu’istu Liutammima Makârimal Akhlâk.”

Terkait

 
Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya diantara mereka. Dan yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik kepada istrinya.
 
 

Dan beliau pun adalah seorang Nabi dan Rasul yang memiliki akhlak yang agung dan mulia, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Qalam [68] ayat 1 sd 4: “Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis (1) Berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila (2) Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya (3) Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung (4).”

Dalam sebuah hadits sahih riwayat Imam Turmuzi, Rasulullah saw bersabda: “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya diantara mereka. Dan yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik kepada istrinya.”

Seluruh perintah dan larangan dalam Islam bertujuan terbentuknya akhlak mulia pada setiap pribadi muslim serta terhindarnya dari akhlak yang buruk dan tercela. Perintah shalat pada setiap muslim sebagai contoh, bertujuan agar terhindar dari perbuatan fakhsyak (dosa besar) dan kemunkaran, baik dalam hubungan dengan Allah maupun dengan sesama manusia (mu`amalah ma’annas).

Perhatikan firman-Nya dalam QS Al-Ankabut [29] ayat 45: “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (Alqur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” 

Surat aL-Hujuraat (Surat ke 49)

Surat al-Hujuraat atau Surat ke 49 yang termasuk Surat Madaniyyah (diturunkan setelah Nabi Hijrah ke Madinah) sering disebut "Surat Akhlak" dan kadangkala disebut "Surat Muamalah". Artinya isi surat ini sebagian besar berkaitan dengan akhlak dalam muamalah, hubungan manusia dengan Rasulullah SAW, manusia yang agung dan mulia serta dengan sesama manusia lainnya, antara lain sebagai berikut:

Pertama, kaum muslimin diperintahkan untuk selalu memghormati Rasulullah SAW, harus punya akhlak dalam berkomunikasi dengan beliau. Tidak boleh disamakan seperti manusia biasa. Sebagaimana firman-Nya dalam QS al-Hujurat [49] tersebut ayat 2: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.”

 
Islah dengan adil ini adalah bagian penting dari sendi masyarakat beradab. Tanpa keadilan tidak mungkin Islah bisa dilakukan. 
 
 

Kedua, ketika ada berita buruk tentang seseorang atau satu kelompok, maka lakukan check atau recheck, sebelum mengambil tindakan. Boleh jadi berita tersebut tidak benar, atau sering disebut berita sampah. Seperti termaktub dalam QS al-Hujurat [49] ayat 6, apalagi ketika sumber berita itu orang atau institusi yang selalu tidak fair terhadap umat Islam.

Ketiga, ketika terjadi perselisihan antara dua orang atau dua kelompok, lakukanlah Islah (mendamaikan) dengan cara adil. Islah dengan adil ini adalah bagian penting dari sendi masyarakat beradab. Tanpa keadilan tidak mungkin Islah bisa dilakukan.

Firman-Nya dalam surat al-Hujurat [49] ayat 9: “Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu'min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Keempat, orang yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan, tidak boleh saling menghina dan saling merendahkan martabat, antara yang satu dengan yang lainnya. Sebab boleh jadi yang dihinakan lebih mulia martabatnya, dibanding yang menghinakannya. Sesungguhnya seluruh manusia itu sama derajatnya dalam pandangan Allah SWT. Yang membedakannya hanyalah ketaqwaan kepada-Nya yang disertai dengan amalan shaleh di tengah-tengah kehidupan.

Dalam sebuah hadits sahih, Rasulullah SAW bersabda: “Wahai sekalian manusia kalian semua berasal dari Adam. Dan Adam berasal dari tanah. Tidaklah orang Arab lebih baik dari orang ‘Ajam (non-Arab) dan tidak pula orang yang berkulit putih lebih baik dari orang yang berkulit hitam, kecuali ketaqwaanya kepada Allah SWT.”

 
Mari kita tegakkan akhlak dalam bermuamalah, saling menghargai, saling mencintai, dan saling menolong antara sesama kita, apalagi antara sesama umat dan sesama anak bangsa.
 
 

Kelima, sesama orang yang beriman dilarang saling mencurigai satu dengan yang lainnya, sebab sebagian dari kecurigaan itu, apalagi tanpa alasan, hanya akan melahirkan dosa dan kesalahan. Dilarang pula melalukan tajassus (saling melaporkan dan saling memfitnah dengan keburukan). Karena perbuatan tersebut dianggap memakan daging saudaranya sendiri yang sudah menjadi bangkai.

Firman-Nya dalam Surat al-Hujurat [49] ayat 12: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

Mari kita tegakkan akhlak dalam bermuamalah, saling menghargai, saling mencintai, dan saling menolong antara sesama kita, apalagi antara sesama umat dan sesama anak bangsa. Jangan dibiarkan sifat hasad, dengki, iri hati, sombong dan takabbur, merajalela pada hati dan opikiran kita.

Insya Allah kelak akan lahir masyarakat dan bangsa Indonesia, terutama generasi mendatang yang hati dan pikirannya dipenuhi dengan damai dan cinta sesama, disertai semangat bersinergi dan berkolaborasi dalam kebaikan dan ketakwaan.

Perhatikan firman-Nya dalam QS at-Taubah [9]: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma`ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Wallahu a’lam bi ash-shawab


,
×