Lanskap Kota Konya di Turki. Tampak Museum Mevlana dengan ciri khasnya, kubah runcing berwarna hijau. | DOK EPA/Sedat Suna
08 Nov 2020, 08:46 WIB

Keanggunan Konya, Kota Tokoh Sufi Dunia

Di kota Konya inilah, tokoh sufi Jalaluddin Rumi menyebarkan ajaran cintanya.

 

OLEH HASANUL RIZQA

Berbagai manuskrip Arab dari masa lampau menyebutnya sebagai Quniya. Kota yang dimaksud saat ini lebih dikenal dengan nama Konya. Inilah salah satu kota tertua yang masih dihuni di dunia. Riwayat sejarahnya merentang sejak zaman tiga ribu tahun sebelum Masehi (SM).

CL Cahen dan Goodwin dalam Historic Cities of the Islamic World (2008) menerangkan, Konya mencapai puncak kegemilangan sejak diperintah Dinasti Seljuk. Pada abad ke-13, kota tersebut menjadi pusat peradaban Persia-Islam di tengah situasi ancaman serangan bangsa Mongol.

Terkait

Banyak tokoh besar yang turut mendukung perkembangan itu. Di antaranya adalah penyari-sufi Jalaluddin Rumi. Karya agungnya, Matsnawi, digubahnya kala bermukim di kota seluas 38 ribu kilometer persegi itu.

Kini, Konya termasuk wilayah Republik Turki. Lokasinya berada di dataran tinggi Anatolia Tengah, atau sekitar 250 km dari arah selatan Ankara. Jauh sebelum Islam datang, daerah tersebut telah dikuasai berbagai rezim pemerintahan. Mulai dari bangsa Frigia, Persia, Hellenistik—melalui ekspansi Aleksander Agung pada abad keempat—hingga Romawi Timur atau Bizantium.

Alih-alih Konya, masyarakat Roma kala itu menamakannya sebagai Iconium. Barulah pada abad ke-11, orang-orang Turki di bawah bendera Kesultanan Seljuk berhasil merebut kawasan subur tersebut.

photo
Seorang perempuan berhijab memandangi menara Museum Mevlana di Kota Konya. Di bawah kubah berwarna hijau itu, terdapat makam Jalaluddin Rumi. - (DOK EPA/Sedat Suna)

Menurut Cahen dan Goodwin, sejak 1190 Konya telah meneguhkan statusnya sebagai sebuah pusat peradaban Islam. Penguasa Seljuk tidak hanya mendirikan berbagai masjid besar di sana, tetapi juga madrasah, universitas, dan perpustakaan umum. Otoritas setempat juga mengizinkan dibukanya tempat-tempat perkumpulan kaum sufi (khanqah).

Umumnya, setiap khanqah selalu bersebelahan dengan masjid dan madrasah. Ekosistem itu terus dipelihara rezim-rezim sesudahnya, termasuk Daulah Turki Utsmaniyah yang berjaya sejak awal abad ke-14.

Popularitas Konya tak mungkin lepas dari ketokohan Jalaluddin Rumi. Sosok yang bernama asli Jalaluddin Muhammad itu sesungguhnya lahir di Balkhi, kini termasuk wilayah negara Afghanistan. Namun, ayahnya, Bahauddin Walad, kemudian memboyong keluarganya ke arah barat untuk menghindari invasi Mongol. Mereka lantas menetap di Konya yang saat itu dipimpin seorang penguasa Seljuk yang sangat mencintai ilmu pengetahuan, yakni Alauddin Kayqubad.

Sebagian besar hidup Rumi dihabiskan di Konya. Fokusnya tercurah untuk dunia tasawuf sejak kedatangan Burhanuddin Muhaqqiq—yang juga sahabat ayahnya—ke kota tersebut pada 1232. Ia sempat merantau ke luar daerah untuk belajar fikih mazhab Hanafi. Sesudah itu, dirinya kembali pulang untuk mengajar di Madrasah Khudavandgar.

photo
Pengguna jalan mengamati kaligrafi Rasulullah SAW dan para sahabat di pusat Kota Konya, Turki. - (DOK EPA/Sedat Suna)

Pada 1244, Rumi berjumpa dengan seorang salik misterius, Syamsi Tabrizi. Pertemuan itu berdampak begitu besar bagi kehidupannya kemudian. Ia tak hanya menjadi seorang alim yang memahami fikih dan tasawuf, tetapi juga sangat lancar menggubah karya sastra, untuk mengomunikasikan pelbagai hikmah sufistik kepada khalayak luas.

Rumi wafat pada 17 Desember 1273 di Konya. Lautan manusia mengiringi pemakamannya. Tidak hanya dari kalangan Muslim, tetapi juga komunitas Kristen dan Yahudi setempat. Hal itu menandakan sifat universal dari ajaran-ajarannya, yang termaktub dalam berbagai karya gubahannya.

Pemerintah kota Konya kemudian mendirikan bangunan besar yang meliputi makam Rumi dan Bahauddin Walad. Bangunan tersebut dilengkapi dengan kubah khas arsitektur Turki berwarna hijau toska. Dahulu, namanya adalah Yesil Turbe (Makam Hijau), tetapi kini lebih dikenal sebagai Museum Mevlana. Itu merujuk pada panggilan Rumi semasa hidupnya, “Maulana”.

 
Pesona Konya tentunya bukan hanya pada Museum Mevlana. Bentang kota tersebut juga dipenuhi berbagai bangunan ikonik dan bersejarah.
 
 

Hingga kini, Museum Mevlana terkenal sebagai salah satu destinasi wisata dunia. Normalnya, jumlah wisatawan yang mengunjungi situs tersebut mencapai satu juta orang per tahun. Tidak hanya menyuguhkan berbagai warisan karya dari sang sufi-maestro, tempat itu juga menjadi pusat kegiatan budaya yang bertemakan tasawuf. Secara rutin, tiap tanggal 17 Desember ada pertunjukan tari Samaa (Whirling Dervishes) yang menampilkan sejumlah penari yang bergerak melingkar-lingkar.

Dari kejauhan, keanggunan mausoleum itu sudah tampak. Sebuah kerucut hijau toska besar menghiasi atap gedung tua itu. Seakan-akan, kubah khas Turki itu bersaing dengan menara masjid di sebelahnya.

photo
Masjid Selimiye merupakan salah satu masjid besar dan bernilai historis di Konya, Turki. - (DOK WIKIPEDIA)

Tepat di bawah kerucut itu, terdapat makam sang sufi dan sastrawan besar Persia. Berdampingan dengan makam Rumi, ada pula kuburan ayahandanya dan putra sulungnya, Sultan Walad—yang dikenang antara lain sebagai pencipta Whirling Dervishes.

Sebelum memasuki ruang makam, setelah memasuki pintu utama, pengunjung akan langsung bertemu sebuah taman berhias kolam. Itulah simbol dari “Malam Penyatuan.” Istilah itu diciptakan Rumi yang pernah menyebut kematiannya sebagai momen penyatuan diri dengan Tuhan. Di taman itu pula, tarian Samaa dipertunjukkan setiap tanggal 17 Desember untuk memperingati hari wafatnya Rumi.

photo
Bangunan bersejarah di Konya, Turki, tak hanya Museum Mevlana. Di samping itu, terdapat banyak situs lainnya. Misalnya, Madrasah Ince Mineret yang berdiri sejak abad ke-13. - (DOK WIKIPEDIA)

Pesona Konya tentunya bukan hanya pada Museum Mevlana. Bentang kota tersebut juga dipenuhi berbagai bangunan ikonik dan bersejarah. Misalnya, Masjid Besarebey, Masjid Abdulaziz, dan Masjid Hasbey Darulhuffaz. Begitu pula dengan Madrasah Ince Mineret. Meskipun berusia kuno, bangunan-bangunan cagar budaya itu selalu terawat dengan baik.

Tambahan pula, karakteristik masyarakat lokal sangat ramah. Tidak jarang, mereka akan mengajak wisatawan untuk makan bersama atau bertamu ke rumah. Ketika melihat pelajar atau pelancong yang kesusahan, dengan ringan tangan mereka tergerak untuk membantu. Konsep cinta universal Rumi, yang jelas terinspirasi dari Islam, dipraktikkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

 


×