Kompas yang kita kenal sekarang merupakan salah satu bukti pencapaian peradaban Islam. Meskipun dirintis kebudayaan Cina, peradaban Islamlah yang mengembangkannya hingga menjadi seperti saat ini | DOK PXHERE
18 Oct 2020, 04:00 WIB

Kompas dalam Peradaban Islam

Muslim diyakini sebagai yang pertama kali menggunakan magnet sebagai alat navigasi.

OLEH HASANUL RIZQA 

Bekerja dengan prinsip magnetis, kompas berfungsi menentukan arah mata angin. Sejarah alat navigasi ini merentang lebih dari 2.000 tahun silam. Perkembangannya kian pesat sejak diadopsi peradaban Islam.

Di luar Cina, catatan yang paling awal membicarakan kompas ialah The Nature of Things karya sarjana Inggris Alexander Neckam (1157-1217 M). Dalam buku yang ditulis antara tahun 1190 dan 1200 itu, Neckam menuturkan kebiasaan seorang pelaut yang pernah diceritakan kepadanya.

Si pelaut dikatakan membuat alat penunjuk arah mata angin dari sebuah jarum yang telah digosokkan secara searah berulang-ulang pada batu magnet (lodestone). Jarum tersebut lantas mengapung pada permukaan air dalam bejana dan selalu menunjuk pada utara.

Terkait

photo
Batu magnet yang menarik sekumpulan paku besi. - (DOK Wikipedia)

Adapun manuskrip tertua yang menyebut tentang kompas dalam aksara Arab ialah Jawami ul-Hikayat, terbit pada 1232, karya Zahiriddin Nashr Muhammad Awfi (1171-1242 M). Sastrawan Muslim Persia itu telah berkelana ke banyak negeri Islam. Mulai dari kota tempat kelahirannya, Bukhara, hingga Samarkand, Delhi, Khorasan, Nishapur, dan Ghaznin.

Dalam mahakaryanya yang berbahasa Persia itu, Awfi menghimpun berbagai pengalaman, cerita, dan informasi yang ia temukan di sepanjang perjalanannya. Salah satunya menuturkan kisah beberapa pelaut yang ditemuinya dalam perjalanan antara Teluk Persia dan Laut Merah.

Mereka kerap menggosok sekeping besi berbentuk ikan pada sebuah batu magnet. Sama seperti kesaksian Neckam, benda logam itu kemudian diapungkan dan memberi petunjuk arah mata angin.

Penulis Muslim lainnya yang menyinggung perihal kompas ialah Bailak al-Qabajagi pada 1282. Sekitar 40 tahun sebelumnya, sarjana asal Kairo, Mesir, itu mengaku pernah menyaksikan seorang kapten kapal memanfaatkan magnet besi yang diambangkan di atas air sebagai kompas. Benda itu memandunya selama pelayaran di Samudra Hindia. Persis seperti keterangan Awfi, kepingan besi yang dijadikan magnet juga berbentuk seperti ikan.

Bangsa Cina telah menggunakan kompas magnet setidaknya sejak abad pertama, yakni berupa sinan. Berbeda dengan kompas yang muncul sejak abad ke-13 instrumen itu bukanlah bejana tempat besi yang telah bermuatan magnet diapungkan. Karena itu, alat itu juga dinamakan kompas kering.

Akan tetapi, penggunaannya masih sebagai alat pembacaan Fengshui belaka. Barulah pada Dinasti Song (960-1279 M) benda itu disempurnakan dan difungsikan sebagai perangkat navigasi.

photo
Benda ini dinamakan sinan. Bentuknya menyerupai sendok, tetapi fungsinya menunjukkan arah mata angin. Selayaknya kompas, alat itu juga memanfaatkan gaya magnetis. Bagaimanapun, orang Cina kala itu belum menggunakannya demi keperluan navigasi, melainkan fengshui - (DOK WIKIPEDIA)

Para sejarawan meyakini, tersebarnya teknologi kompas dari dalam ke luar Tiongkok melalui jalur darat. Masyarakat Eropa mengenalnya berkat para pengelana yang melewati dataran Rusia dan Franka.

Adapun bangsa Arab-Muslim sudah banyak mengadopsi teknologi buatan Cina, setidaknya sejak abad kedelapan. Sebagai contoh, pembuatan kertas yang diinisiasi Dinasti Abbasiyah sejak kekhalifahan itu berhasil mengalahkan Dinasti Tang dalam Perang Talas pada 751. Dalam pertempuran tersebut, beberapa orang Cina yang ditawan Abbasiyah ternyata pengrajin kertas. Dari sana, pengetahuan dan keterampilan membuat kertas pun mulai menyebar ke penjuru dunia Islam dan akhirnya Eropa.

Maka, tak menutup kemungkinan bahwa peradaban Islam sesungguhnya sudah mengenal fungsi magnet sebagai penunjuk arah mata angin jauh sebelum terbitnya Jawami ul-Hikayat pada abad ke-13. Apalagi, masa keemasan Islam dalam bidang sains sudah mengemuka sejak abad kesembilan.

Kecanggihan intelektual Islam pada era itu tercermin, misalnya, dari kehebatan sarjana serbabisa (polymath) abad ke-11, Abu Rayhan al-Biruni (973-1050 M). Ia diketahui berhasil menghitung keliling bumi berdasarkan perhitungan trigonometris.

Husain Heriyanto dalam Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam (2011) mengatakan, perhitungan al-Biruni menunjukkan, jarak keliling bumi adalah 25.000 2/7 mil atau setara 40.225 kilometer. Sementara, perhitungan modern masa kini mengungkapkan, keliling bumi adalah 40.074 km. Jadi, hasil perhitungan sang “Bapak Ilmu Geodesi” mencapai ketepatan hingga 99,62 persen!

photo
al-Biruni - (DOK Wikipedia)

Berkat Islam

George Sarton dalam karya monumentalnya Introduction to the History of Science (tiga jilid, 1931) mengatakan, penggunaan kompas dalam navigasi merupakan penemuan Muslim yang mengadopsi teknologi sinan dari Cina. Mengapa keterangan tertulis tentang kompas di luar Cina justru muncul dari Eropa, bukan Islam (Arab-Persia)?

Menurut Sarton, hal itu menunjukkan penggunaan kompas di negeri-negeri Islam sudah dianggap sebagai pengetahuan umum, setidaknya sejak abad ke-10.

Dia juga menggarisbawahi, bangsa Cina boleh jadi dipandang sebagai penemu pertama kompas yakni sinan. Akan tetapi, dalam penilaiannya, mereka kurang bisa menggunakan benda itu untuk berbagai keperluan yang lebih rasional daripada Fengshui. Penggunaan kompas sebagai perangkat navigasi justru dirintis peradaban Islam.

Sarton mengingatkan, jalur maritim di Samudra Hindia yang menghubungkan Cina, Nusantara, India, Persia, Arab, dan Afrika Timur merupakan monopoli Muslim pada abad pertengahan. Sementara, pengetahuan tentang kompas lebih dahulu terpublikasi di Inggris pada 1190-1200, bukan misalnya Italia atau negeri-negeri di kawasan Eropa Selatan.

Artinya, teknologi kompas yang dipakai para pelaut Muslim kurang disambut antusias orang-orang Eropa pengelana lautan masa itu ketimbang mereka yang melalui rute darat—mulai dari Kaukasus, Rusia, hingga Eropa Utara dan Barat. Sarton menduga, di antara alasannya ialah perjalanan jalur darat itu jauh lebih sulit—untuk tidak mengatakan mustahil—dilakukan tanpa dipedomani alat semisal kompas. Maka ketika mengetahui fungsi kompas magnet, mereka menyambut salah satu hasil inovasi peradaban Islam itu secara antusias.

Tidak seperti kompas saat ini, sinan dari Cina maupun kompas yang dipakai Muslimin pada abad pertengahan memakai arah selatan sebagai pedoman. Dalam hal ini, menurut Sarton, peradaban Islam mungkin tak sekadar mengikuti tradisi Tiongkok dalam pembuatan kompas.

Sebab, bagi kebanyakan Muslim utamanya di Turki Utsmaniyah arah selatan merujuk pada Ka’bah di Makkah al-Mukarramah, yakni kiblat shalat. Bahkan, kebanyakan kompas buatan Utsmaniyah mata angin selatan disebut pula sebagai al-qibla kalau bukan al-janub.

Pada akhir abad ke-13, sultan Yaman sekaligus pakar ilmu perbintangan Al-Malik al-Ashraf menulis kitab pertama yang memaparkan fungsi kompas sebagai “alat penunjuk kiblat”. Selain itu, dalam kitab yang sama ia juga menjelaskan langkah-langkah pembuatan alas jarum kompas (thasa).

Benda buatannya tidak hanya berguna untuk menentukan letak arah mata angin, tetapi juga garis meridian dan tentunya kiblat. Ihwal astrolab dan jam bayangan matahari yang dipakai untuk menentukan masuknya waktu shalat juga turut dibicarakannya.

Mengikuti al-Ashraf, pada 1300, seorang astronom Mesir Ibnu Sim’un juga mendedah perihal kompas sebagai penunjuk arah kiblat. Bedanya, ia kali ini memakai kompas kering.

Selama abad ke-14, kompas kering memang cukup marak dipakai di Negeri Piramida, terutama sebagai alat mengetahui posisi kiblat. Ibnu al-Syatir (1304-1375 M) membuat alat yang memadukan fungsi pencatatan waktu (timekeeping), jam bayangan matahari, dan kompas. Tujuannya untuk menemukan waktu shalat dan arah kiblat di manapun berada. Karena memakai kompas kering, perangkat buatannya ini terbilang praktis dan mudah dibawa ke mana-mana.

Kompas yang dipergunakan pada abad keemasan Islam umumnya memiliki tidak hanya delapan, melainkan hingga 32 titik petunjuk mata angin. Sejarah mencatat, pada abad ke-11 atau mungkin sebelumnya para pelaut Arab-Muslim menggunakan kompas marinir untuk mempedomani arah berlayar.

Laksamana Ma He atau Cheng Ho (1371-1435 M) merupakan pengelana Muslim asal Cina yang turut memanfaatkan kompas. Lebih dari 70 tahun sebelum Christoper Columbus “menemukan” Amerika, tepatnya pada 1421 sang admiral yang juga duta kaisar Dinasti Ming itu telah memimpin misi maritim ke berbagai penjuru dunia.

photo
Laksamana Cheng Ho - (DOK Wikipedia)

Armadanya lebih besar dari yang dipakai Columbus. Panjang kapalnya mencapai 160 meter. Dalam misinya itu, ia memimpin sekitar 208 unit kapal ukuran besar, menengah, hingga kecil dengan disertai sekitar 27.800 awak kapal.

Cheng Ho mengarungi lautan selama 28 tahun, yakni antara 1405 dan 1433 M. Demi kesuksesan perjalanan, ia tentunya sangat mengandalkan pengetahuan navigasi yang mumpuni. Alhasil, kompas yang digunakannya merupakan inovasi terbaru pada zamannya. Benda itu disebut-sebut berasal sejak era Dinasti Song (960-1279) yang telah disempurnakan sehingga lebih presisi dalam menunjukkan arah mata angin.

Popularitas kompas dari dunia Islam mulai merambah ke Eropa Selatan sekitar permulaan abad ke-14. Pelaut Italia, Flavio Gioja disebut-sebut sebagai yang pertama memperkenalkan kompas kepada masyarakat Barat Mediterania pada 1300. Ia berasal dari Amalfi, sebuah daerah Italia di pesisir Laut Adriatik.

Nama Amalfi kemudian menjadi legenda karena dipercaya sebagai kota tempat ditemukannya kompas. Padahal, jauh sebelum Gioja lahir para pelaut Cina dan Arab sudah memanfaatkannya sebagai panduan dalam berlayar.

Bahkan, nakhoda Italia itu sudah keduluan oleh sesama orang Eropa dalam memperkenalkan kompas kepada publik Benua Biru. Petrus Peregrinus sejak 1269 sudah menjelaskan cara kerja kepingan jarum besi yang telah digosokkan sebelumnya pada batu magnet. Jarum tersebut bila dibiarkan terapung pada permukaan air akan selalu menunjukkan arah utara—dan pangkalnya pada arah selatan.

Uraian tersebut dituliskannya dalam sebuah surat bertajuk “Epistola Petri Peregrini de Maricourt ad Sygerum de Foucaucourt, militem, de magnete” (Surat Peter Peregrinus dari Maricourt kepada Sigerus dari Foucaucourt, tentara, mengenai magnet). Naskah yang lebih dikenal sebagai “Epistola de Magnete” (Surat Magnet) itu merupakan teks tertulis pertama di Eropa yang membicarakan ihwal magnet—serta kompas—dengan begitu detail.

Di samping kompas, masih banyak perkakas navigasi lainnya yang dikembangkan peradaban Islam. Sebut saja, baculus dan caravel yang digunakan untuk astronomi-nautika; serta kamal yang dipakai untuk mengukur ketinggian dan garis lintang bintang.

photo
Teknologi GPS memungkinkan penggunanya untuk mengetahui posisi diri dan letak tujuan - (DOK WIKIPEDIA)

Dari Jarum ke GPS

 

Lain dahulu, lain sekarang. Pesatnya perkembangan teknologi membuat kompas agaknya mulai ditinggalkan saat ini. Orang-orang cenderung mengandalkan Sistem Pemosisi Global atau Global Positioning System (GPS) sebagai alat penunjuk arah. Tidak seperti kompas yang memiliki jarum magnetis analog, GPS umumnya menampilkan data digital.

Cikal-bakal teknologi itu adalah Navstar Global Positioning System (GPS) yang dimiliki Amerika Serikat (AS) pada periode Perang Dingin. Sistem tersebut dapat menentukan koordinat dan posisi sebuah objek di bumi dengan bantuan satelit. Mulanya, Navstar GPS dirancang hanya untuk kepentingan militer dan intelijen Negeri Paman Sam. Washington DC terus berupaya meningkatkan kemampuan spionasenya agar mengungguli Uni Soviet, saingannya pada periode tersebut.

photo
Logo Navstar - (DOK Wikipedia)

Ketika Uni Soviet meluncurkan Sputnik 1 pada 1957, dua orang fisikawan AS, William Guier dan George Weiffenbach, memutuskan untuk memantau pergerakan transmisi radio satelit buatan itu. Keduanya bekerja di Laboratorium Fisika Terapan (APL) Universitas Johns Hopkins.

Suatu hari, mereka menyadari bahwa posisi real-time Sputnik I dapat ditunjukkan di sepanjang orbitnya karena efek Doppler. Temuan itu kemudian dilaporkan kepada pihak kampus, yang lantas mengizinkan keduanya untuk mengakses superkomputer UNIVAC guna melakukan kalkulasi berat yang diperlukan.

Awal tahun berikutnya, wakil direktur APL saat itu Frank McClure meminta Guier dan Weiffenbach untuk menyelidiki masalah kebalikannya: apakah mungkin satelit dapat menunjukkan lokasi si penggunanya. Akhirnya, APL Universitas Johns Hopkins mulai mengembangkan sistem navigasi satelit yang dinamakan Transit. Riset tersebut pun disokong Kementerian Pertahanan AS sejak 1959.

AS meluncurkan untuk pertama kalinya satelit GPS pada 1978. Waktu itu, penerapan sistem navigasi satelit tersebut hanya dikhususkan bagi angkatan bersenjata.

Berakhirnya Perang Dingin pada 1990-an tidak menyudahi geliat riset sistem navigasi berbasis satelit. Justru, berbagai penelitian semakin digiatkan.

Penggunaan GPS akhirnya dibuka untuk umum setelah Kongres AS merestuinya. Khususnya sejak merebaknya teknologi informasi digital, perkembangan GPS kian pesat. Fungsi utamanya untuk menunjukkan secara presisi, terkini, dan gamblang posisi suatu objek yang berada di darat, laut, dan udara. Kalau dahulu niatnya untuk melacak “musuh”, kini lebih sebagai alat komunikasi yang memudahkan aktivitas sehari-hari masyarakat penggunanya.

Sistem GPS semata-mata mengandalkan satelit dan tidak mengirimkan data sama sekali. Dengan demikian, sistem ini dapat tetap bekerja meskipun, misalnya, jaringan internet tidak aktif. Oleh karena itu, teknologi ini sangat berguna untuk memetakan kawasan terpencil, semisal perdesaan atau pegunungan.

photo
GPS yang digunakan di dunia pelayaran - (DOK Wikipedia)

Cara kerjanya pertama-tama, satelit menyiarkan sinyal yang mengandung kode pseudo-random dan waktu tranmisi. Gawai penerima lantas menentukan lokasi serta jarak dirinya dari sekurang-kurangnya empat buah satelit yang terhubung dengannya. Setelah itu, angka-angka yang menunjukkan posisi perangkat tersebut di Bumi akan ditampilkan, lengkap dengan garis bujur dan lintangnya.

Berdasarkan rupa fisiknya, ada macam-macam model GPS yang marak beredar saat ini. Ada yang cukup praktis dan muat masuk kantong. Sering kali, GPS menjadi bagian yang terpasang langsung (built-in ) dalam ponsel pintar, laptop, atau gawai lainnya.

Aplikasi untuk menampilkan koordinat GPS juga amat mudah diakses, semisal Google Maps atau Google Earth. Model lainnya biasanya diperuntukkan bagi keperluan di luar ruangan (outdoor), seperti mendaki gunung atau eksplorasi hutan belantara. Alatnya sering kali dilengkapi dengan lapisan perlindungan yang kedap air dan tahan benturan.

Keluaran terbaru bahkan sudah memiliki layar warna dan sentuh, dengan jaringan komunikasi radio jarak pendek (family radio service, FRS). Tentunya, harga yang dipatok akan semakin mahal seiring dengan kecanggihan fitur-fitur yang ditawarkan.


,
×