Petugas promosi kesehatan UPT puskemas Gadog memberi himbauan memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak kepada para santri Pondok Pesantren Baitul Hikmah, Pasirwangi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Kamis (8/10). | CANDRA YANUARSYAH/ANTARA FOTO
23 Oct 2020, 06:06 WIB

Perketat Protokol Kesehatan Pesantren

Menag berharap pesantren tetap menerapkan protokol kesehatan dalam proses pembelajaran.

KARAWANG — Munculnya klaster-klaster penularan Covid-19 di pondok pesantren masih terus terjadi. Kementerian Agama mencatat, sejauh ini sudah seribu lebih santri dan pengajar yang tertular.

Munculnya klaster pesantren baru diumumkan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Karawang, kemarin. Puluhan santri disebut positif Covid-19 dalam pelacakan terbaru itu.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Karawang Fitra Hergyana mengatakan, klaster pesantren terbaru muncul setelah salah satu santri sakit dan mengecek kesehatannya di RSUD Karawang. Gejala yang dialami mirip seperti gejala Covid-19 secara umum. Kemudian tim mengambil sampel uji usap (swab) dan hasilnya positif.

Fitra mengatakan adanya santri yang positif Covid-19 membuat pihaknya langsung melakukan pelacakan pada kontak erat di dua pesantren. Ratusan santri dan ustaz pun menjalan tes swab. “Tracing pertama 43 swab hasil 26 positif. Yang kedua hari ini kita swab 60 dan hasilnya belum keluar. Total 103 yang di-swab di dua pesantren,” kata Fitra kepada Republika, Jumat (16/10).

Terkait

Ia mengatakan adanya klaster pesantren di Karawang ini merupakan yang kedua kalinya. Sebelumnya juga didapati ada klaster pesantren di daerah Telukjambe. Namun kali ini jumlahnya lebih banyak.

Oleh karena itu, ia mengimbau kepada para pengelola pondok pesantren untuk melakukan dan melaksanakan protokol kesehatan dengan baik dan benar. Dinkes telah mengeluarkan panduan protokol kesehatan yang harus diterapkan di lingkungan pesantren.

Di antaranya soal rutin sterilisasi fasilitas pesantren seperti ruang belajar ataupun asrama dengan disinfektan, menyediakan sarana cuci tangan serta mewajibkan penggunaan masker di area pesantren. “Pesantren diimbau mengecek kesehatan santri dan ustaz secara rutin,” imbaunya.

Ia mengatakan, jika ada kasus gejala seperti Covid-19 segeralah berkoordinasi dengan Dinkes Kabupaten Karawang. Pesantren juga bisa menyiapkan ruang isolasi sementara jika ada santri yang sakit sehingga tidak menularkan pada yang lainnya.

“Bagi santri juga ada protokol kesehatan untuk individu seperti menyiapkan keperluan pribadi untuk mandi, ibadah sendiri. Makan secara teratur dan tetap jaga jarak,” ujarnya.

Sebanyak 10 santri dan tenaga pengajar di Pondok Tahfidz Insan Pratama Balaraja, Kabupaten Tangerang juga dinyatakan positif Covid-19. Pimpinan Ponpes Tahfidz Insan Pratama KH Ali Mukafi menuturkan, para santri dan tenaga pengajar di ponpesnya telah melakukan rapid test serta tes usap bagi yang reaktif. "Dari hasil swab tersebut kebanyakan hasilnya negatif, yang positif 10 orang termasuk tenaga pengajar 1 orang dan sekarang lagi isolasi mandiri," tutur Ali dalam keterangan tertulis, Kamis (15/10).

Dia menyebut, saat ini para santri pulang ke rumah masing-masing setelah dijemput oleh para orang tua. Ali mengaku pihak pesantren tidak bisa menahan ketika para orang tua menjemput santrinya dari pesantren.

Namun, sebelum pulang, para orang tua dipastikan melakukan isolasi mandiri dan swab test mandiri, sesuai dengan yang tertuang dalam surat perjanjian kepulangan santri.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, Desi Riana Dinardianti, menyayangkan kepulangan para santri ke rumah masing-masing. Menurutnya, bila di lingkungan ponpes ada yang reaktif dari hasil rapid test, harusnya santri tidak dipulangkan. Namun, melakukan isolasi mandiri dan dipisahkan dengan santri yang lain selama 14 hari agar virus tidak menyebar di lingkungan yang baru.

Begitu juga yang positif Covid-19, lanjutnya, harus diisolasi di rumah sakit yang ditunjuk atau di hotel singgah penanganan Covid-19, yakni di Hotel Yasmin, Kabupaten Tangerang. "Santri yang hasilnya reaktif harusnya dilakukan pemisahan dan tidak dicampur dengan santri-santri lain dan para santri yang reaktif tersebut tidak diizinkan untuk keluar karena dalam pengawasan," jelas Desi.

Bantuan

Terkait bermunculannya klaster di pesantren itu, Kementerian Agama menerjunkan tim satgas untuk memberikan bantuan. “Kami prihatin dengan kasus positif Covid-19 yang terjadi di pesantren. Tim Satgas Ditjen Pendidikan Islam Kemenag sudah terjun langsung ke lokasi untuk memberikan bantuan,” ujar Menteri Agama Fachrul Razi, di Jakarta, Jumat (16/10).

Menurutnya beberapa bantuan sudah disalurkan. Di antaranya berupa 38 ribu masker medis, 35.940 masker kain, 1.825 hand sanitizer, 2.460 botol suplemen, dan 2.150 sabun cuci tangan. Bantuan juga diberikan dalam bentuk disinfektan, alat fogging, isi ulang hand sanitizer, madu, dan alat pelindung diri (APD).

“Ini baru tahap awal, bantuan yang disalurkan untuk delapan pondok pesantren di kawasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Total ada 861 santri yang terkonfirmasi positif pada delapan pesantren ini,” ujarnya. Tim akan terus bergerak menyalurkan bantuan ke sejumlah pesantren lainnya, terutama yang terkonfirmasi ada kasus positif Covid-19.

Hingga kemarin, tercatat ada 1.510 santri, ustaz, dan ustazah yang terkonfirmasi positif Covid-19 dari berbagai pesantren di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 976 orang sudah dinyatakan sembuh. "Sisanya, masih dalam proses perawatan dan isolasi," katanya.

Menag menambahkan, bantuan ini tidak termasuk Bantuan Operasional Pesantren (BOP) yang diberikan oleh Kementerian Agama sejak akhir Agustus 2020 kemarin. Melalui BOP tersebut, masing-masing pesantren mendapat bantuan Rp 25 juta hingga Rp 50 juta menyesuaikan dengan jumlah santri di masing-masing pesantren. Secara total, lebih dari Rp 2 triliun bantuan yang sudah diberikan untuk membantu pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan di masa pandemi Covid-19.

Menag berharap pesantren tetap menerapkan protokol kesehatan dalam proses pembelajaran. Ini penting dilakukan sebagai upaya bersama dalam mencegah penyebaran Covid-19. Fachrul mengatakan, selama pandemi masih berlangsung, ia berharap pesantren bisa melakukan pembelajaran tatap muka dengan jumlah santri yang mengikuti kapasitas standar protokol kesehatan.

Hal ini guna meminimalisasi kemungkinan penyebaran ke depan karena virus Covid-19 bisa menimpa siapa saja. " Ini bukan aib, tapi musibah. Mari tetap patuhi protokol kesehatan demi kesehatan kita bersama," pesannya.

Sumber : Eva Rianti


,
×