Jamaah tiba di Bandara King Abdulaziz, Jeddah, menjelang pelaksanaan haji secara terbatas pada 25 Juli 2020 lalu. | AP/Yasser Bakhsh/Saudi Ministry of Media
22 Sep 2020, 02:28 WIB

Saudi Mulai Longgarkan Penerbangan

Sejauh ini belum bisa dipastikan bahwa penerbangan umrah masuk dalam paket kebijakan tersebut.

JEDDAH -- Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi menyatakan mencabut sebagian penangguhan penerbangan internasional mulai 15 September 2020. Kebijakan ini diambil setelah enam bulan lamanya Arab Saudi menutup pintu terhadap penerbangan dari luar negeri karena merebaknya pandemi Covid-19.

Arab News melansir, kemarin, pembukaan penerbangan secara sebagian nantinya akan diikuti pembukaan sepenuhnya pada awal tahun depan. “Kerajaan Saudi akan mengakhiri semua pembatasan transportasi udara, darat, dan laut setelah 1 Januari tahun depan,” demikian keterangan resmi pihak Kementerian Dalam Negeri Saudi pada Ahad (13/9).

Pihak Kementerian Dalam Negeri Arab dalam keterangannya juga menyatakan pembukaan penerbangan ini berlaku dua arah. Artinya, anggota keluarga yang terpisah akibat penutupan penerbangan nantinya boleh ke luar negeri untuk menemui keluarga mereka.

Warga Saudi yang tinggal di luar negeri juga bisa bepergian dengan pembukaan penerbangan nantinya. Hal yang tak kalah penting, menurut pihak Kementerian Dalam Negeri, akan ada kebijakan bertahap untuk mencabut penangguhan ibadah umrah yang diberlakukan sejak akhir Februari lalu.

Terkini

photo
Jamaah dibariskan di Bandara King Abdulaziz, Jeddah, sebelum menuju Makkah menjelang pelaksanaan haji secara terbatas pada 25 Juli 2020 lalu.- (AP/Yasser Bakhsh/Saudi Ministry of Media)

Kepastian pembukaan menyeluruh tersebut nantinya akan diumumkan pada Desember tahun ini. Sementara, warga negara Teluk dan non-Saudi dengan izin tinggal "iqama" atau visa kunjungan dapat memasuki Kerajaan mulai 15 September. Syaratnya, mereka telah dites negatif untuk virus korona dalam 48 jam sebelumnya.

Kategori luar biasa lainnya, seperti pegawai pemerintah dan militer, pekerja kedutaan asing, dan orang-orang yang membutuhkan perawatan medis juga akan diizinkan masuk dan keluar mulai 15 September.

Pemuda Saudi yang belajar di luar negeri juga dapat bernapas lega. Pengecualian juga mencakup siswa yang tengah belajar di mancanegara dengan beasiswa dan biaya sendiri serta peserta pelatihan dalam program beasiswa medis yang studi atau pelatihannya memerlukan perjalanan ke negara lain.

Menteri Kesehatan Saudi Tawfiq Al Rabiah sebelumnya menyatakan, pembukaan layanan penerbangan internasional adalah kebijakan yang terus dievaluasi. Kebijakan terkait hal itu akan mengikuti perkembangan penanggulangan Covid-19 di kerajaan tersebut. 

Hingga 14 September, merujuk worldometers.info, tercatat 325.651 kasus Covid-19 dengan 4.268 kematian di Saudi. Dari jumlah itu, yang sembuh mencapai 302.870 alias 93 persen. 

Sementara penularan harian pada 13 September tercatat 601 kasus, melanjutkan tren penurunan sejak Juni yang sempat mencapai 5.000 kasus per hari. Angka penularan pada 13 September juga yang paling rendah sejak 17 April lalu.

photo
Petugas mengarahkan jamaah yang tiba di Bandara King Abdulaziz, Jeddah, menjelang pelaksanaan haji secara terbatas pada 25 Juli 2020 lalu.- (AP/Yasser Bakhsh/Saudi Ministry of Media)

"Selama masih ada kasus Covid-19, langkah-langkah pencegahan harus tetap diberlakukan untuk menjamin kesehatan penumpang," kata Tawfiq Al Rabiah dalam wawancara dengan stasiun televisi lokal.

Pihak Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah menyatakan telah memantau pembukaan penerbangan internasional yang akan diberlakukan itu. Sejauh ini, belum bisa dipastikan bahwa penerbangan umrah masuk dalam paket kebijakan tersebut. "Untuk umrah belum," kata Konjen RI di Jeddah Eko Hartono saat dihubungi Republika, Senin (14/9).

Eko Hartono mengatakan, sebenarnya informasi terkini bukan pembukaan penerbangan internasional. Namun, yang diatur sekarang adalah dibolehkannya pergerakan orang untuk keperluan tertentu. "Jadi, untuk kategori orang tertentu dengan tujuan tertentu sudah boleh masuk dan keluar Saudi," kata dia.

Eko menegaskan, fasilitas penerbangan internasional reguler belum dibuka, termasuk untuk penerbangan umrah yang masuk dalam kategori penerbangan reguler. Ia meminta semua pihak yang berkepentingan dengan umrah untuk bersabar menunggu pengumuman selanjutnya dari Arab Saudi. "Penerbangan internasional reguler tetap belum ada," kata dia.

Dihubungi terpisah, Ketua Umum Sarikat Penyelenggara Umrah Haji Indonesia (Sapuhi) Syam Rersfiadi mengaku bersyukur Kerajaan Arab Saudi telah mengumumkan penerbangan internasional dibuka. Meski demikian, pengumuman itu tidak berpengaruh signifikan terhadap nasib jamaah umrah yang tertunda keberangkatannya. 

"Alhamdulillah akhirnya hasilnya keluar juga tentang pernyataan resmi dari Kerajaan Saudi Arabia," katanya. 

Menurut dia, seturut pengumuman kemarin pembukaan menyeluruh memang masih lama, yakni pada 1 Januari 2021 dan akan diumumkan 30 hari sebelumnya. Akan tetapi, informasi itu bisa menjadi langkah awal para penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU) untuk mempersiapkan pemberangkatan jamaah umrah yang tertunda. "Maka kami bisa persiapkan diri dari awal Desember 2020 selama pandemi menurun di seluruh dunia," katanya.

Syam yang juga pemilik travel Patuna Mekar Jaya ini mengatakan, kebijakan dibuka atau diperpanjang penutupan umrah berada di Kementerian Kesehatan Saudi. Kementerian lain tidak bisa memutuskan umrah akan dibuka. "Karena menteri haji siap kapan pun," ujar dia.

Sementara, Ketua Umum Kesatuan Tour Travel Haji Umrah Republik Indonesia (Kesthuri) Asrul Azis Taba mengatakan, mulai dibukanya penerbangan internasional di Arab Saudi adalah pertanda baik. Bahwa sementara umrah belum diizinkan, menurut dia dapat dimaklumi. "Mudah-mudahan setelah dibukanya penerbangan ini tidak ada lagi dampak pandemi," katanya.

Asrul menuturkan, dalam waktu dekat ini ia akan segera terbang untuk melihat situasi dan kondisi di Arab Saudi. Kedatangannya untuk memastikan sejauh mana kesiapan semua fasilitas di Arab Saudi untuk menyelenggarakan umrah. 

Sejauh ini, Saudi dipandang menjadi contoh negara yang mampu melawan Covid-19 sambil membantu negara berkembang tanpa pandang bulu. Sidang Umum PBB pada akhir pekan lalu mengadopsi resolusi yang ditawarkan Arab Saudi untuk melawan pandemi Covid-19.


×