Aplikasi Masahatuna tampak di layar telepon genggam seorang perempuan di Jalur Gaza, 31 Mei lalu. | MOHAMMED SALEM/Reuters

Internasional

04 Jun 2022, 03:45 WIB

Masahatuna, Aplikasi untuk Perempuan Gaza

Aplikasi ini memungkinkan perempuan mendaftar ke Masahatuna tanpa meninggalkan kontak.

OLEH RIZKY JARAMAYA

Perempuan di Jalur Gaza kini telah memiliki sebuah aplikasi di telepon genggam mereka untuk melaporkan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) secara anonim. Aplikasi ini memungkinkan para korban untuk mencari bantuan.

Aplikasi "Masahatuna" atau "Ruang Kami" dikembangkan oleh insinyur komputer setempat, Alaa Huthut. Dia menilai, perlu ada cara untuk mencari bantuan dengan aman. Selama ini, tekanan dari pihak keluarga sendiri kerap membuat banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga tidak terlihat. 

"Privasi sangat penting karena ketakutan biasanya menjadi penyebab utama wanita tidak menghubungi atau mengunjungi pusat kesehatan," kata Huthut kepada Reuters, Kamis (2/6).

Aplikasi ini memungkinkan perempuan untuk mendaftar ke layanan tanpa menuliskan nama mereka atau meninggalkan kontak mereka. "Jika ada yang melihat (catatan linimasa) telepon, mereka tidak akan tahu orang tersebut melakukan kontak," kata Huthut.

Gaza memiliki populasi sekitar 2,3 juta orang. Hampir setengah dari populasi di Gaza adalah perempuan.

photo
Aplikasi Masahatuna tampak di layar telepon genggam seorang perempuan di Jalur Gaza, 31 Mei lalu. - (MOHAMMED SALEM/Reuters)

Pada 2019, Biro Statistik Palestina (PCBS) mengatakan, 41 persen perempuan di Gaza telah menghadapi kekerasan dalam rumah tangga. Kelompok-kelompok pembela perempuan di Gaza mengatakan, masalah kekerasan dalam rumah tangga semakin memburuk selama penguncian virus korona.

"Saya menghadapi kekerasan verbal dan fisik selama bertahun-tahun," kata seorang wanita Gaza yang berusia 28 tahun dan meminta untuk tidak disebutkan namanya.

Setelah perceraiannya dua tahun lalu, wanita menghadapi ancaman dari mantan suaminya. Keluarga dari mantan suami wanita itu mengancam akan membawa pergi putranya yang berusia tujuh tahun. 

Kholoud Al-Sawalma dari Pusat Media Komunitas Gaza mengatakan, 355 wanita telah mengunduh aplikasi tersebut. Sementara 160 wanita telah menghubungi pusat bantuan yang memberikan dukungan psikologis dan hukum.

Bulan lalu, pengadilan Gaza menjatuhkan hukuman mati kepada seorang pria yang memukuli istrinya sampai meninggal. Tapi kelompok perempuan mengatakan, upaya untuk menghentikan kekerasan dalam rumah tangga di Gaza harus dilakukan lebih tegas.

Mereka mengatakan, beberapa perempuan yang melaporkan pelecehan kadang diarahkan ke pemimpin suku atau klan untuk menyelesaikannya.

Dalam beberapa kasus, sejumlah wanita meninggal karena kekerasan dalam rumah tangga. Advokat hukum mengatakan, beberapa pria mungkin mencoba melarikan diri dari hukuman berat dengan menuduh pasangan mereka melakukan perzinaan atau mengada-ngada soal masalah kesehatan mental.

Gaza disebut-sebut sebagai "penjara hidup" karena terkepung antara Israel dan Mesir. Wilayah ini dirundung sejumlah masalah sosial, termasuk soal pengangguran. Laman resmi PCBS menyebutkan, pada 2021 tingkat pengangguran di Gaza mencapai 47 persen dan di Tepi Barat 16 persen. ';

Saudi Siap Terima Jamaah Haji

Suhu panas di Saudi menjadi tantangan besar pada pelaksanaan ibadah haji tahun ini.

SELENGKAPNYA

Harga Pangan Pemicu Utama Inflasi pada Mei

Harga komoditas pangan dan energi global juga terus mengalami lonjakan sepanjang April 2022.

SELENGKAPNYA

AS ‘Diberondong’ Penembakan Massal

Kepolisian Tulsa belum mengungkap identitas pelaku penyerangan bersenjata ke Natalie Medical Building.

SELENGKAPNYA
×