Relawan Dompet Dhuafa memakaikan masker kepada bayi dari ibu penyintas Covid-19 di kawasan Kramat Jati, Jakarta, Kamis (5/8). Ada disnpensasi puasa bagi ibu hamil dan menyusui. | Republika/Putra M. Akbar

Fikih Muslimah

22 May 2022, 04:15 WIB

Ibu Hamil dan Menyusui, Bayar Fidyah atau Meng-qadha Puasa?

Mereka yang berhak dispensasi adalah wanita yang sedang haid, nifas, ibu hamil, ibu menyusui.

 

OLEH IMAS DAMAYANTI

Saat menjalankan ibadah puasa Ramadhan, ada syarat sah dan kriteria yang harus dipenuhi. Setiap yang memenuhi kriteria tersebut wajib menunaikan puasa. Sebaliknya, bagi mereka yang tidak memenuhi kriteria tersebut atau dalam kondisi kesulitan (masyaqah) maka bisa mendapatkan dispensasi.

Di antara mereka yang berhak atas dispensasi tersebut adalah wanita yang sedang haid, nifas, ibu yang sedang hamil, ibu yang sedang menyusui, dan orang yang dalam kondisi sakit.

Ustaz Oni Sahroni dalam buku Fikih Muamalah Kontemporer menjelaskan, seorang wanita yang haid atau nifas tidak boleh berpuasa karena salah satu syarat wajib puasa itu adalah dalam kondisi suci. Namun demikian, kewajiban berpuasa tidak gugur, sehingga wanita yang haid atau nifas harus meng-qadha (mengganti) puasanya di hari lain sejumlah waktu yang ditinggalkan.

Sementara itu, ibu hamil dan ibu menyusui diperbolehkan untuk berbuka atau tidak berpuasa. Jika alasan berbuka tersebut karena ketidakmampuannya untuk menunaikan puasa, maka cukup baginya meng-qadha atau menggantinya di lain hari yang ditinggalkannya saat Ramadhan.

Namun demikian, jika berbuka dilakukan karena motivasi adanya kekhawatiran akan janin atau bayinya sementara dia mampu untuk menunaikannya, maka berkewajiban baginya untuk mengganti atau meng-qadhanya juga membayar fidyah. Kesimpulan hukum tersebut berdasarkan telaah terhadap hadis-hadis Rasulullah SAW, maqashid syariah, dan pendapat para ulama ahli tafsir, hadis, berikut ahli fikih.

photo
ILUSTRASI. Mereka yang berhak dispensasi adalah wanita yang sedang haid, nifas, ibu hamil, ibu menyusui. Republika/Putra M. AKbar - (Republika/Putra M. Akbar)

Hal ini sebagaimana termaktub dalam firman Allah dalam QS al-Baqarah ayat 184, “Wa alalladzina yuthiqunahu fidyatun tha’aamun miskin.” Yang artinya, “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yakni) memberi makan seorang miskin.”

Menurut ulama ahli tafsir, lafaz “wa alalladzina yuthiqunahu” adalah orang yang mampu menunaikan puasa tapi dengan susah payah. Oleh karena itu, mereka diberikan dispensasi untuk tidak berpuasa pada hari-hari tersebut dan diperkenankan untuk meng-qadha atau menggantinya pada lain hari.

Sementara itu, kewajiban untuk menunaikan puasa disesuaikan dengan kondisi orang yang berpuasa agar kewajiban ini mempertimbangkan masyaqqah dan kondisi orang yang berpuasa. Adanya pengaruh kondisi hamil dan menyusui pada kesehatan fisik ibu dan janin membuat mereka mendapatkan dispensasi atau keringanan dengan menggantinya pada hari-hari lain atau membayar fidyah.

Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam kaidah ushul fikih al-masyaqqatu tujlibu at-taysira. Yang artinya, “Adanya kesulitan akan memunculkan adanya kemudahan.”

Bagi mereka yang sakit tetap bisa menunaikan puasa, tetapi dengan masyaqqah atau jika berpuasa akan memperparah atau menambah sakitnya, maka diperkenankan untuk berbuka puasa. Namun, ia wajib menggantinya atau meng-qadhanya di hari lain pada saat sudah sembuh dan mampu berpuasa.

Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Alquran surah al-Baqarah ayat 184 yang artinya, “Maka siapa saja di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yakni) memberi makan seorang miskin.”


Keajaiban Syukur

Tanpa hidup bersyukur, sejatinya kita akan gagal dan jauh dari kesuksesan hidup.

SELENGKAPNYA

Iklan Kuota Kurban Terbatas

Setiap informasi dan konten iklan harus jujur dan tidak boleh ada manipulasi atau kebohongan.

SELENGKAPNYA

Kesucian Jiwa

Setelah jiwa kita bersih dari kotoran, kita harus mengisinya dengan kebaikan.

SELENGKAPNYA
×