Perjalanan dakwah Ustazah Hasanah telah menapakkan jejak berarti. | Facebook

Uswah

16 Jan 2022, 07:31 WIB

Jadi Ibu untuk Anak-Anak Pekerja Migran

Perjalanan dakwah Ustazah Hasanah telah menapakkan jejak berarti.

OLEH IMAS DAMAYANTI

 

Ustazah Mar’ah Hasana (56 tahun)  mengabdikan diri untuk menjadi ‘ibu’ dari anak-anak yang ditinggal orang tuanya bekerja di luar negeri. Mereka sudah dianggap sebagai amanah dakwah yang wajib untuk diemban.

“Kalau orang biasanya KK (kartu keluarga)-nya cuma satu lembar, kalau saya ada lima lembar. Jadi anak-anak yatim itu masuk di KK saya semua,” kata Ustazah Mar’ah saat dihubungi Republika, Rabu (12/1).

Bermula saat usianya baru menginjak 20 tahun, Ustazah Mar’ah yang baru menyelesaikan pendidikan pesantrennya di Balikpapan, Kalimantan Timur, segera menerima panggilan dakwah ke Nunukan sejak 1993. Kala itu, ia bersama almarhum sang suami berangkat ke daerah perbatasan RI-Malaysia tersebut untuk melakukan pembinaan kepada anak-anak pekerja migran yang telantar.

Ustazah Mar’ah menyebut, setiap anak memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan pembinaan agama. Dengan telaten, dia mengajarkan dasar-dasar agama Islam kepada anak-anak itu karena mereka tidak bisa mendapatkannya dari orang tua yang bekerja di luar negeri.

“Saya berpikir bagaimana kita harus mengisi relung dan diri mereka dengan pendidikan Islam. Mulai dari belajar Alqurannya seperti apa, akhlaknya, semuanya kita ajarkan,” kata dia.

 
Saya berpikir bagaimana kita harus mengisi relung dan diri mereka dengan pendidikan Islam. Mulai dari belajar Alqurannya seperti apa, akhlaknya, semuanya kita ajarkan.
 
 

Nunukan memang terkenal dengan daerah pekerja migran. Artinya, ujar Ustazah Mar’ah, tak sedikit dari anak-anak mereka yang telantar dan membutuhkan kasih sayang. Mereka pun amat haus akan pendidikan agama.

Menurut dia, kondisi anak-anak pekerja migran bukan berarti hidup dalam serba kekurangan. Justru, jika dilihat secara ekonomi, mereka hidup berkecukupan. Hanya saja, jiwa mereka kering dengan nilai-nilai agama.

Dia menjelaskan, saat awal melakukan dakwah, wilayah Nunukan dan sekitarnya belum memiliki lembaga pendidikan. Berangkat dari situ, Ustazah Mar’ah menginisiasi pembangunan TPQ dan TK yang kelak menjadi sumber ilmu bagi mereka.

Hari demi hari, perjalanan dakwah Ustazah Mar’ah telah menapakkan jejak berarti. Kini, tak sedikit dari pekerja migran yang sudah kembali ke Tanah Air dan bisa memeluk anak-anaknya kembali dengan bangga.

Anak-anak itu menjadi pribadi yang cerdas dan karena sentuhan agama. “Alhamdulillah ketika para TKW ini kembali, mereka berkumpul lagi. Mereka jadi ‘keluarga’ lagi dan melihat bahwa anak-anak mereka sudah begitu mengenali agamanya,” ujar dia.

photo
Perjalanan dakwah Ustazah Hasanah telah menapakkan jejak berarti. - (Facebook)

Dari Nunukan, perjalanan dakwah Ustazah Mar’ah berlanjut ke Tanjung Pinang pada 2003. Di sana, dia mendirikan panti asuhan di bawah asuhan Hidayatullah. Terhitung sejak pertama kali melakukan dakwah, lebih dari separuh hidupnya dihabiskan untuk membina dan mendidik yatim dan anak-anak pekerja migran.

Ustazah Mar’ah mengakui bahwa mengasuh anak-anak yatim bukanlah tanpa hambatan. Dukungan dari pemerintah dinilai masih kurang. Namun demikian, dia meyakini bahwa tak sedikit masyarakat Indonesia yang berhati lapang dalam membantu perjuangan dakwah di ujung negeri ini.

Bagi anak-anak yatim di Pangkal Pinang maupun anak-anak pekerja migran di Nunukan, sosok Ustazah Mar’ah adalah cerminan seorang ibu yang tanpa pamrih. Segenap kasih sayang, perjuangan, pendidikan, ia curahkan untuk mereka.

PROFIL

Nama lengkap: Mar'ah Hasanah

Tempat, tanggal lahir: Nunukan, 15 Juli 1967

Riwayat aktivitas: Pengurus Muhammadiyah Makassar, Pengurus Muslimat Hidayatullah sejak 1989 hingga sekarang


×