IMAN SUGEMA | Daan Yahya | Republika

Analisis

29 Nov 2021, 03:28 WIB

Prank Yana dan Covid-19

Sebaiknya prank yang dilakukan oleh Yana tidak begitu saja kita lewatkan hikmahnya.

 

OLEH IMAN SUGEMA

Apa hubungan antara prank yang dilakukan oleh Yana, seorang pria asli Sumedang, dengan Covid-19? Tentu pertalian keduanya hanya sebatas bikin geger gempar. Tetapi kegemparan yang dibikin Yana jauh lebih heboh karena meliputi tiga dunia, yakni dunia nyata, maya, dan dunia gaib.

Nah bukan itu yang ingin saya bahas. Ada pelajaran penting yang bisa kita tarik dari kasus Yana agar kemudian penanganan pandemi Covid-19 menjadi lebih efektif.

Cerita Yana menyuguhkan dua sisi yang saling kontradiktif dan seru. Sisi yang pertama adalah keberhasilan dia meyakinkan pihak istri dan keluarga besarnya bahwa dia sedang dirundung masalah seolah sedang disakiti oleh pihak tertentu. Niatnya mungkin hanya sebatas meminta permakluman dari istri bahwa dia tidak pulang ke rumah akibat suatu keadaan yang memaksa. Tak lebih dari itu.

Sisi yang kedua justru menyajikan episode sama sekali tidak terduga. Karena tidak pulang ke rumah, keluarga merasa khawatir dengan keselamatan dia dan akhirnya medorong mereka melakukan pengaduan orang hilang kepada pihak berwajib.

Penemuan motor Yana di Cadas Pangeran menimbulkan spekulasi bahwa ia telah diculik dan mungkin dibunuh oleh pihak tertentu. Polisi akhirnya mengerahkan pasukan pelacak sampai dasar jurang Cadas Pangeran yang memang dipersepsikan sebagai tempat angker oleh masyarakat.

 
Cerita Yana menyuguhkan dua sisi yang saling kontradiktif dan seru.
 
 

Spekulasi berkembang liar ketika pegiat media konvesional dan sosial mulai terlibat dalam mengekspos kasus Yana. Para dukun dunia gaib ikut terlibat dan menghubungkan keangkeran Cadas Pangeran dengan spekulasi nasib Yana. Bahkan ada dukun yang bilang bahwa mayat Yana sudah ditelan ular. Spekulasi berakhir dengan antiklimaks ketika Yana kepergok oleh polisi di daerah Majalengka.

Cerita Yana sungguh bertolak belakang dengan kesulitan kita semua dalam menangani Covid-19 akibat disinformasi berkembang liar di masyarakat, baik melalui media konvensional maupun media sosial. Banyak pihak yang tidak memiliki kompetensi teknis tentang SARS-Cov 2 ikut nimbrung memberi penjelasan kepada masyarakat.

Yang terjadi kemudian adalah adanya sekelompok masyarakat yang menganggap remeh persoalan pandemi yang dihadapi oleh seluruh dunia. Hal ini kemudian mengakibatkan jangkitan di gelombang kedua menjadi lebih parah.

Dari sini kita kemudian sangat khawatir dengan kemungkinan gelombang ketiga pasca liburan akhir tahun. Kalau saja rakyat awam merasa bahwa bahaya Covid-19 sudah sirna dari bumi maka protokol kesehatan dan imbauan untuk tidak bepergian mungkin tidak akan dipatuhi.

Maka dari itu, kita akan sangat khawatir bahwa gelombang ketiga akan betul-betul terjadi akibat masyarakat tidak menganggap ancaman gelombang ketiga adalah tidak nyata.

 
Kita kemudian sangat khawatir dengan kemungkinan gelombang ketiga pasca liburan akhir tahun.
 
 

Kalau kita semua yakin bahwa gelombang ketiga tidak akan terjadi, maka justru gelombang ketiga semakin besar peluangnya untuk terjadi. Karena itu, untuk mencegah gelombang ketiga menjadi kenyataan pemerintah harus meyakinkan masyarakat bahwa ancaman itu betul-betul nyata.

Ada pelajaran yang kita bisa ambil dari kasus Yana. Pertama, Yana secara sengaja memproduksi informasi yang lebih dramatis dibandingkan dengan yang sesungguhnya terjadi. Bahaya Covid-19 adalah ancaman nyata.

Persoalannya adalah tidak semua pihak percaya bahwa itu nyata. Karena itu, fabrikasi informasi menjadi semakin penting. Berbagai drama kepahitan yang dialami oleh orang yang terjangkit dan meninggal adalah fakta.

Tetapi fakta seperti ini harus dikemas sedemikian rupa untuk membangkitkan kesadaran bahwa situasi sekarang adalah benar-benar genting. Agar masyarakat manjadi sangat yakin, tampaknya teknik fabrikasi informasi yang dilakukan Yana perlu diadopsi. Dramatisasi adalah komponen utamanya.

Kedua, kasus Yana menyuguhkan dramatisasi yang lebih heboh ketika orang-orang memberikan spekulasi yang liar. Maklum banyak pihak yang tidak kompeten terlibat dalam mengembangkan spekulasi.

 
Masyarakat kita pada umumnya sangat partisipatif dalam mengolah informasi dan bahkan cenderung memberi bumbu yang kelihatannya tidak masuk akal.
 
 

Masyarakat kita pada umumnya sangat partisipatif dalam mengolah informasi dan bahkan cenderung memberi bumbu yang kelihatannya tidak masuk akal sekalipun.

Nah, untuk kasus Covid-19 tampaknya kita perlu memicu terjadinya efek bola salju agar kemudian masyarakat terbelalak bahwa memang situasi di depan adalah betul-betul genting. Pemerintah tidak perlu memberikan bumbu dan melakukan orkestrasi informasi. Masyarakat akan dengan sendirinya berkontribusi memberikan bumbu yang dramatis.

Mungkin yang perlu dilakukan oleh pemerintah hanyalah sebatas pada upaya untuk memberikan booster terhadap bumbu informasi yang lebih menguntungkan bagi terciptanya persepsi kegentingan situasi. Jika arus informasi yang lebih genting banyak diserap oleh masyarakat, maka dengan sendirinya disinformasi yang menyepelekan Covid-19 akan kalah ditelan bumi.

Intinya adalah mengelola arus informasi supaya masyarakat menjadi lebih waspada. Bumbu kewaspadaan inilah yang harus lebih diutamakan.

Setiap peristiwa memberikan pelajaran hidup bagi kita semua. Terkadang kejadian yang sangat lucu sekalipun bisa membuka wawasan kita dalam menghadapi masalah yang sangat pelik seperti Covid-19.

Tak ada peristiwa yang sia-sia kalau saja kita mampu mengungkap hikmah di dalamnya. Sebaiknya prank yang dilakukan oleh Yana tidak begitu saja kita lewatkan hikmahnya. Prank Yana itu lucu, tapi perlu.


×