Warga menggunakan perahu karet saat dievakuasi menghindari luapan Sumgai Meuse di Liege, Belgia, Kamis (15/7/2021). | AP/Valentin Bianchi
17 Jul 2021, 03:45 WIB

Banjir Sapu Sejumlah Wilayah di Jerman dan Belgia

Jerman menyerukan upaya lebih keras untuk mengatasi pemanasan global dan perubahan iklim.

BERLIN — Banjir menyapu sejumlah wilayah di Jerman dan Belgia. Hingga berita ini ditulis, Jumat (16/7), 111 orang meninggal dunia dan 1.300 orang masih belum diketahui nasib mereka.

Dari jumlah tersebut, 103 korban berasal dari Jerman. Ini menjadi kehilangan terbesar bagi Jerman dalam beberapa tahun terakhir. Sebanyak 12 orang meninggal di antara mereka adalah penghuni di panti untuk warga disabel di Sinzig, Cologne, yang terkejut karena banjir bandang datang pada malam hari.

Jumlah korban diperkirakan bertambah karena lebih banyak rumah yang runtuh. Sementara Di Belgia, sekurangnya 14 orang meninggal.

Sekitar 114 ribu rumah di Jerman kehilangan sambungan listrik dan jaringan telepon selular pun tumbang dl kawasan yang dilanda banjir. Akibatnya, orang tidak bisa mengetahui nasib anggota keluarga dan teman mereka.  

Terkait

“Mengerikan, kami tidak bisa menolong siapapun. Orang-orang melambaikan tangan dari jendela,” ujar Frank Thel, warga kawasan Schuld. Ia berdiri di depan tumpukan reruntuhan bangunan di Kota Rhineland-Palatinate. Di sana sejumlah gedung juga ambruk.

photo
Kereta lokal terendam banjir di stasiun di Kordel, jerman, Kamis (15/7/2021). Banjir itu akibat meluapnya suntai Kyll. - (AP/Sebastian Schmitt/DPA)

Laman BBC menyebutkan, sekitar 15 ribu personel polisi, tentara, dan petugas dinas layanan darurat dikerahkan untuk menggelar pencarian di Jerman. Helikopter mengangkut warga yang terjebak di atap rumah. Sedangkan tank dikerahkan untuk membersihkan jalan dari reruntuhan dan pohon yang tumbang.

Kanselir Jerman Angela Merkel yang sedang bertemu Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden, mengucapkan belasungkawa kepada para korban. Merkel menjanjikan bantuan pemerintah untuk melakukan upaya penyelamatan.

Masyarakat menumpuk reruntuhan bangunan untuk dijadikan tanggul. Air sungai yang meluap menyapu kota-kota dan desa di kawasan barat Jerman, yaitu negara bagian North Rhine-Westphalia dan Rhineland-Palatinate. Air juga menggenangi Belgia dan Belanda.

Walikota Hagen, Erik Schulz, mengatakan ada gelombang solidaritas mengalir dari kota lain dan warga sekitar. Mereka ikut membantu orang-orang yang terdampak banjir.

“Ada banyak sekali warga yang mengatakan, ‘Kami bisa menawarkan tempat tinggal, saya harus ke mana untuk memberi pertolongan, ke mana saya harus mendaftar, ke mana saya harus membawa sekop dan ember?’,” kata Schulz kepada N-tv. “Kota ini saling tolong-menolong, kita bisa merasakannya.”

photo
Traktor melintasi rumah-rumah susak akibat banjir di Pepinster, Belgia, Kamis (15/7/2021). - (AP/Olivier Matthys)

Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier mengaku terhenyak melihat kehancuran akibat banjir. Ia pun menyampaikan dukungan kepada warga yang kehilangan anggota keluarganya. Dukungan juga disampaikan kepada kota atau desa yang menderita kerusakan berat.

“Pada saat ada kebutuhan, negara kita bersatu-padu,” ujar Steinmeier, Jumat siang. “Amatlah penting kita menunjukkan solidaritas kepada mereka yang kehilangan segalanya akibat banjir,” katanya, menambahkan.

Perubahan iklim

Steinmeier menyerukan upaya lebih keras untuk mengatasi pemanasan global. “Hanya jika kita sungguh-sungguh memerangi pemanasan global maka kita bisa membatasi kondisi cuaca yang ekstrem seperti yang kita alami saat ini,” kata nya.

Sedangkan menurut para ahli, bencana semacam ini bisa kerap terjadi akibat perubahan iklim. “Sejumlah wilayah di Eropa.. menerima curah hujan dalam rentang dua hari. Yang membuat kondisi buruk adalah tanah sudah jenuh akibat hujan sebelumnya,” kata Clare Nullis, juru bicara dari the World Meteorological Organization.

Sedangkan Gubernur Negara Bagian Rhineland-Palatinate, Malu Dreyer, mengatakan bencana ini menjadi sinyal agar dunia mempercepat upaya menangani pemanasan global.

“Perubahan iklim tidak lagi hal abstrak. Kita mengalaminya begitu dekat dengan kita dan menyakitkan,” kata Dreyer kepada Gunke.

Sumber : Reuters/Associated Press


×