Didin Hafidudin | Daan Yahya | Republika
20 Feb 2021, 03:00 WIB

Menguatkan Karakter Prasangka Baik Anak Bangsa

Mari kita mengedepankan sifat berbaik sangka kepada sesama anak bangsa.

OLEH PROF DIDIN HAFIDHUDDIN

Dengan nada prihatin kita ingin sampaikan bahwa kita melihat dan merasakan, semakin banyak isu yang dimunculkan yang berisikan hujatan antarsesama anak bangsa yang bertujuan memfitnah dan membunuh karakter seseorang atau sekelompok orang.

Yang lebih menyedihkan dan menyesakkan napas, kadangkala isu tersebut hanya sekedar isu, tanpa didukung fakta atau alasan rasional yang bisa diterima akal sehat, pikiran waras, dan nurani kemanusiaan yang lurus dan utuh.

Dalam perspektif ajaran Islam, cara-cara tersebut bersumber dari sebuah karakter yang buruk dan jahat, yaitu karakter hasad. Sebuah karakter yang termasuk akhlak madzmumah atau akhlak sayyiah yang sangat dilarang agama karena sangat membahayakan dan merusak tatanan kehidupan masyarakat.

Terkait

Perhatikan firman-Nya dalam QS al-Hujurat [49] ayat 10-12: “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat (10). Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim (11).

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang (12).”

 
Setiap anak bangsa dan terlebih lagi setiap Muslim, harus berusaha semaksimal mungkin menjauhi sifat dengki dan iri pada orang lain dan menggantinya dengan siafat husnuzan.
 
 

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Thabrani, Rasulullah SAW bersabda: “Bukan umatku orang yang memiliki sifat hasad dan dengki, bukan pula umatku yang suka mengadu domba dan bukan pula umatku yang suka meramal yang gaib.”

Dalam sebuah hadits yang lain yang diriwayatkan Abu Daud dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: "Jauhilah oleh kamu sekalian sifat hasad (dengki) karena hasad ini akan membakar (menghabiskan) kebaikan, seperti membakarnya (menghabiskannya) api terhadap kayu bakar."

Dalam hadits lain riwayat Imam Muslim, Rasulullah menasihati kaum Muslimin, "Agar kalian jangan saling menghasut, jangan saling menipu, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi dan jangan menjual barang yang sudah dijual kepada orang lain. Dan jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara."

Setiap anak bangsa dan terlebih lagi setiap Muslim, harus berusaha semaksimal mungkin menjauhi sifat dengki dan iri pada orang lain dan menggantinya dengan siafat husnuzan, berbaik sangka pada sesama anak bangsa, walaupun berbeda organisasi, berbeda asal daerah, berbeda profesi dan keahlian, bahkan mungkin berbeda agama.

Sifat husnuzan, berbaik sangka ini harus semakin diperkuat. Apalagi pada saat masyarakat dan bangsa kita sedang menghadapi berbagai masalah atau problem yang berat, sebagai dampak dari pandemi Covid-19.

 
Allah SWT mengisahkan umat yang datang sesudahnya agar selalu mendoakan ampunan buat umat yang lebih dulu wafatnya dan dijauhkan dari sifat dan hasad kepada sesama orang yang beriman.
 
 

Karakater berbaik sangka kepada sesama,  akan melahirkan dua karakter lain yang sangat positif dan sangat berguna bagi kehidupan bangsa, yaitu karakter hubbul khair dan karakter al-itsaar. Hubbul khair artinya cinta dan responsif pada setiap kebaikan, seperti senang menolong, senang berbagi, senang bertaawun dan bersinergi atas dasar iman dan takwa. Sedangkan al-itsaar artinya senang mendahulukan kepentingan orang lain yang lebih memerlukan daripada diri sendiri.

Kedua sifat inilah (hubbul khair dan al-itsar) yang mendasari dan melandasi ukhuwwah Islamiyyah yang kuat dan soliditas yang tinggi antara sahabat Muhajirin yang berasal dari Makkah, dengan sahabat Anshar yang merupakan penduduk asli Kota Madinah.

Allah SWT mengisahkan persaudaraan yang indah ini dalam QS al-Hasyr [59] ayat 8 dan 9 yang artinya: “(Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan (Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar (8).

Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung (9).”

Pada ayat berikutnya (QS al-Hasyr [59] ayat 10) Allah SWT mengisahkan umat yang datang sesudahnya agar selalu mendoakan ampunan buat umat yang lebih dulu wafatnya dan dijauhkan dari sifat dan hasad kepada sesama orang yang beriman.

Perhatikan firman-Nya: “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: "Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”

 
Mari kita songsong masa depan bangsa dan negara yang kita cintai ini, dengan mengedepankan sifat berbaik sangka kepada sesama anak bangsa.
 
 

Ada kabar gembira yang diberikan oleh Allah SWT (al busyraa) kepada para ahli surga nanti (mudah-mudahan kita termasuk di dalamnya). Yaitu salah satu nikmat-Nya adalah dicabut dan dihilangkan sifat dengki antar sesama mereka. Suatu nikmat yang penuh dengan keindahan dan kenyamanan.

Perhatikan firman-Nya dalam QS al-Araaf [7] ayat 43: “Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: 'Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran'. Dan diserukan kepada mereka: 'Itulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan'."

Limpahan nikmat yang sangat luar biasa itu dikaitkan dengan perilaku mereka ketika dunia yang saling mencintai dan menjauhkan diri dari sifat saling bertentangan dan saling membenci karena hasad dan dengki. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari Muslim dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: "Rombongan pertama yang akan masuk surga secara bersama-sama wajahnya berseri-seri seperti bulan purnama. Disusul rombongan kedua sesudahnya bagaikan bintang-bintang di langit yang bercahaya. Hati mereka menyatu seperti hati seseorang (di dunia) yang tidak bertentangan, tidak ada saling membenci dan tidak saling menghasut."

Mari kita songsong masa depan bangsa dan negara yang kita cintai ini, dengan mengedepankan sifat berbaik sangka kepada sesama anak bangsa serta menjauhkan diri dari sifat iri dan dengki.

Wallahu a’lam bi ash-shawab.


×