ILUSTRASI Kota Madinah terus mengalami perkembangan pesat sejak awal masa dakwah Nabi Muhammad SAW hingga kini. | DOK EPA Nabil Mounzer
24 Jan 2021, 08:40 WIB

Fungsi Agama Rekatkan Bangsa

Karya Imam Besar Masjid Istiqlal ini mengajak pembaca untuk merenungi peran agama dalam konteks kebangsaan.

OLEH MUHYIDDIN

Posisi dan peran umat beragama di Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Mereka memiliki kekuatan yang sangat besar dalam menjaga, memelihara, dan merawat paham keagamaan yang moderat, menebar kasih sayang dan kedamaian. Hal itu disampaikan Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof KH Nasaruddin Umar.

Bangsa Indonesia dipadati oleh umat beragama yang memegang teguh imannya masing-masing. Karena itu, lanjut rektor Institut Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ) tersebut, mereka semuanya menyimpan potensi yang luar biasa besar. Idealnya, potensi demikian harus diarahkan agar menjadi kekuatan atau daya penyatu (sentripetal), bukan justru sebagai daya pemecah-belah (sentrifugal) keutuhan negara.

“Jika posisi agama tampil sebagai faktor sentripetal, maka keutuhan integrasi bangsa sulit tergoyahkan oleh kekuatan dari mana pun. Akan tetapi, manakala agama tampil sebagai faktor sentrifugal, maka disintegrasi bangsa akan sulit dihindarkan,” katanya.

Terkait

Petikan itu bersumber dari salah satu buku karya anggota Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu. Judulnya adalah Islam Fungsional: Revitalisasi dan Reaktualisasi Nilai-nilai Keislaman (2014). Dalam bagian awal buku tersebut, Kiai Nasaruddin Umar mengingatkan tentang pentingnya mewujudkan daya sentripetal agama dala menyatukan unsur-unsur yang berbeda di tengah masyarakat.

Masalah agama adalah salah satu faktor yang sangat sensitif di Indonesia. Hal ini dapat dimaklumi karena bangsa Indonesia termasuk penganut agama yang taat. Solidaritas agama biasanya melampaui ikatan-ikatan primordial lainnya, seperti kesukuan atau kekerabatan. Oleh karena itu, menurut dia, penataan antarumat beragama dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) perlu mendapatkan perhatian khusus.

photo
Sejumlah anak belajar menyalin surat Al Fatihah pada Kitab Al Quran didampingi orang tua di rumahnya di Solo, Jawa Tengah, Selasa (28/4/2020). Kegiatan tersebut untuk melatih anak-anak belajar menulis, membaca dan memahami Al Wuran selama Bulan Ramadhan - (Maulana Surya/ANTARA FOTO)

Di samping itu, fungsi kritis agama dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara juga sangat diperlukan. Terlebih lagi, ketika hal itu dipandang dalam konteks masyarakat bangsa Indonesia yang sedang menjalani transisi reformasi. Fungsi kritis agama diperlukan bukan hanya untuk menyadarkan pola pikir dan perilaku individual di dalam masyarakat. Itu juga bertujuan untuk memberikan arahan (direction) terhadap konsep dan perencanaan pembangunan.

Melalui buku ini, Kiai Umar mengajak segenap umat Islam untuk kembali membaca dan menelaah ulang kitab suci, untuk kemudian menumbuhkembangkannya. Dengan demikian, nilai-nilai keislaman dapat lebih membumi. Prinsip rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil ‘alamin) dapat diterapkan, tidak sekadar menjadi bunga-bunga dalam perkataan.

Buku ini menyajikan berbagai macam pembahasan tentang Islam dan ajaran-ajarannya. Secara keseluruhan, kandungan dalam Islam Fungsional dibagi menjadi 10 bab. Seperti disinggung sebelumnya, bab pertama membicarakan tentang dua fungsi pemahaman agama yang saling bertolak belakang, yakni sentripetal (menyatukan) dan sentrifugal (memecah-belah).

 
Buku ini menyajikan berbagai macam pembahasan tentang Islam dan ajaran-ajarannya.
 
 

Dalam arti, seseorang atau suatu kelompok dalam memahami ajaran agamanya bisa berakibat pada kehendak menyatukan atau justru membuat riak-riak perpecahan di tengah masyarakat tempatnya berada. Jadi, pokok soalnya terletak bukan pada ajaran agama itu sendiri, melainkan umat yang memeluknya.

Karena itu, Kiai Umar sebagai seorang pakar ilmu tafsir menawarkan corak atau paradigma dalam memahami kandungan Alquran. Itulah yang disampaikannya melalui pembuka buku ini. Ia menuturkan, dahulu pada awal 1990-an seorang ahli kajian Islam sekaligus sosiolog Jaques Augustin Berque pernah menerbitkan diktat yang dipakai sebagai bahan kuliah.

Di depan mahasiswanya di Paris, diktat yang berjudul “Relire le Coran at le Bible” itu membicarakan tentang kajian atas Alquran dan Injil. Akademisi asal Prancis itu menekankan perlunya membaca ulang kedua kitab tersebut dengan harapan, terciptalah kedamaian abadi di antara kedua komunitas umat beragama.

 
Dialog lintas iman akan sulit dilakukan tanpa adanya keutuhan pemahaman atau saling pengertian antara kelompok-kelompok internal di suatu agama.
 
 

Menurut Kiai Umar, pembacaan ulang atas kitab suci, asalkan dengan sikap yang positif, sudah tentu dibutuhkan oleh bangsa Indonesia. Hasil pembacaan itu lantas dihubungan dengan situasi kontekstual dan aktual.

Dengan demikian, dapatlah dipetik hikmah dan pelajaran yang berharga. Ia menegaskan, pembacaan ulang atas kitab suci tidak hanya penting dalam usaha dialog antarumat beragama, tetapi juga di internal umat agama itu sendiri.

Dialog lintas iman akan sulit dilakukan tanpa adanya keutuhan pemahaman atau saling pengertian antara kelompok-kelompok internal di suatu agama. Bahkan, tidak jarang bahwa konflik di internal umat suatu agama lebih kuat atau gaduh daripada konflik eksternalnya.

Karena itu, pencarian metodologi terkait pembacaan kitab suci harus dianggap sebagai proses yang melampaui suatu perbaikan. Dalam bukunya ini, ia pun menjelaskan beberapa hal filosofis dan filologis yang perlu dicermati dalam membaca ulang teks kitab suci. 

Fungsi agama

Selain membahas tentang Alquran, dalam bukunya ini Prof Nasaruddin Umar juga mengulas tentang tema budaya, masyarakat madani, tasawuf, isu-isu gender, dan politik Islam. Masalah-masalah keumatan yang aktual pun turut dibicarakannya. Sebagai contoh, beberapa konten dalam bab 10 buku tersebut, yaitu artikel tentang penanganan pandemi menurut Alquran dan masjid sebagai sarana pemberdayaan umat.

Bagaimanapun, pembahasan yang cenderung paling sesuai dengan judul buku ini adalah bab 3, yakni “Beragama yang Fungsional.” Melalui bab tersebut, sang penulis menjelaskan beberapa fungsi agama dalam kehidupan masyarakat. Di antaranya adalah untuk memberikan makna hidup, sebagai sumber nilai, moral, etika, serta memberikan rasa aman dan percaya.

Agama juga dapat menimbulkan motivasi kuat untuk mewujudkan kemaslahatan umum. Di samping itu, lanjut dia, agama pun berfungsi sebagai kontrol sosial dan instrumen perekat keutuhan bangsa.

Diakui atau tidak, disadari atau tidak, kekuatan agama sebagai faktor sentripetal telah berjasa besar di dalamnya. Pemimpin atau rezim kekuasaan boleh bergonta-ganti. Namun, kekuatan nilai-nilai dan norma-norma agama sebagai living low di tengah masyarakat akan selalu tetap bekerja. Umat-umat beragama di Indonesia terus menjalankan ajaran-ajaran dan hukum agamanya masing-masing secara taat, tanpa peduli siapa pun penguasanya.

Dengan menyadari arti penting agama dalam konteks sosiologis itu, maka fungsi dan peran umat-umat agama perlu dipertahankan keberlangsungannya. Negara dapat bertindak sebagai pendukung terciptanya harmoni dalam kehidupan masyarakat. Kendati demikian, citra agama yang mengemuka sering kali menampilkan sisi-sisi yang paradoksial.

 
Citra agama yang mengemuka sering kali menampilkan sisi-sisi yang paradoksial.
 
 

Di satu sisi, agama diharapkan menjadi penyejuk kehidupan, tetapi dalam suatu kenyataan agama kerap dijadikan topeng untuk berbuat kekerasan. Menurut ulama kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, tersebut, agama yang seharusnya menawarkan kedamaian sering diatasnamakan sebagai pemicu konflik. Bahkan, konflik yang membawa-bawa agama bisa lebih dahsyat daripada konflik primordial.

Buku ini akan membuka wawasan pembaca tentang fungsi agama, khususnya di Indonesia. Dalam karyanya ini, mantan menteri agama RI itu juga menunjukkan pelbagai bukti sejarah ketika kekuatan agama pernah menghimpun daya yang begitu luar biasa dalam membangkitkan semangat juang bangsa Indonesia.

Ketika masa revolusi, para pejuang Muslim dengan gagah berani terjun di medan jihad. Di bawah seruan “Allahu Akbar”, semangat mereka membara untuk terus mempertahankan kedaulatan bangsa dan negara.

Buku ini menawarkan solusi Islam sebagai agama pemersatu bangsa. Membaca buku ini, Anda akan diajak untuk mendiskusikan berbagai masalah keumatan dan kemungkinan solusinya. Namun, dalam karya ini masih saja terdapat kesalahan eja yang agak mengganggu pembaca di sana-sini.

photo
Melalui buku Islam Fungsional ini, Imam Besar Masjid Istiqlal Prof KH Nasaruddin Umar memaparkan dengan bernas kekuatan agama sebagai faktor perubahan masyarakat. - (DOK PRI)

 

DATA BUKU

Judul: Islam Fungsional: Revitalisasi dan Reaktualisasi Nilai-nilai Keislaman

Penulis: Prof KH Nasaruddin Umar

Penerbit: PT Elex Media Komputindo

Tebal: 384 halaman


×