ILUSTRASI Foto dokumentasi lama Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyi | DOK Pondok Pesantren Paculgowang Jombang
21 Jan 2021, 09:46 WIB

Pemerintah Siapkan Program Afirmasi Pesantren

BKSPPI mengingatkan, jati diri pesantren jangan sampai hilang.

JAKARTA -- Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas menegaskan komitmennya untuk mengafirmasi (memberikan bantuan dan penguatan) pendidikan pesantren. Untuk itu, Kementerian Agama (Kemenag) telah menyiapkan sejumlah program untuk membantu penyelenggaraan pendidikan di pesantren.

"Sejumlah program afirmasi pesantren sudah kita siapkan pada 2021. Kami menyebutnya sebagai program penguatan dan pengembangan pesantren," kata Menag melalui pesan tertulis yang diterima Republika, Rabu (20/1).

Program afirmasi pesantren mencakup aspek akademis, kelembagaan, sumber daya manusia (SDM), dan bantuan sarana prasarana. Untuk memperkuat SDM, antara lain, akan dilakukan dengan memberikan program afirmasi untuk peningkatan kualifikasi akademik pengajar pesantren, khususnya Ma'had Aly.

"Kami akan memberikan beasiswa pascasarjana bagi para dosen Ma'had Aly," ujarnya.

Terkait

Afirmasi lainnya adalah pendampingan program sertifikasi bagi ustaz pesantren, utamanya mereka yang mengajar di Ma'had Aly, diniyah formal, dan mu'adalah. Kemenag menargetkan ada enam ribu tenaga pendidik pesantren yang bisa menerima manfaat beasiswa atau sertifikasi ini.

Kemenag akan melakukan pendampingan terhadap proses akreditasi Ma'had Aly sampai pada tingkat mumtaz atau A. Untuk diketahui, saat ini ada 60 Ma'had Aly di seluruh Indonesia. Dari jumlah itu, sebanyak 52 di antaranya sudah terakreditasi maqbul (C), jayyid (B), dan mumtaz (A).

Menag menargetkan, tahun ini ada 15 Ma'had Aly terakreditasi mumtaz.

 
Kami juga tengah mendorong pembentukan lembaga akreditasi mandiri atau LAM, baik untuk Ma'had Aly maupun perguruan tinggi keagamaan negeri.
KH YAQUT KHOLIL QAUMAS, Menteri Agama RI
 

Afirmasi lainnya adalah dalam bentuk peningkatan sarana prasarana. Dalam hal ini, Kemenag telah menyiapkan bantuan untuk 1.500 pesantren, 116 pendidikan diniyah formal, 130 satuan pendidikan muadalah, 70 madrasah diniyah takmiliyah, dan 140 pendidikan Alquran.

"Bantuan sarana prasarana lainnya, yakni dalam bentuk pembangunan gedung perpustakaan dan laboratorium bagi pesantren," ujar Menag.

Direktur Pendidikan Islam Kemenag, Muhammad Ali Ramdhani, menambahkan, Kemenag juga telah mengalokasikan anggaran insentif untuk ustaz pesantren. Besarannya adalah Rp 250 ribu.

Sementara itu, untuk para santri ada dua jenis bantuan yang disiapkan. Pertama, Bantuan Operasional Sekolah (BOS) pesantren. "Kami sudah alokasikan anggaran lebih dari Rp 162 miliar untuk 160 ribu lebih santri," ujarnya.

Kedua, Program Indonesia Pintar (PIP) pesantren. Ada sekira Rp 145 miliar yang dialokasikan untuk membantu lebih dari 188 ribu santri.

Ramdhani menegaskan, program-program afirmasi terhadap lembaga pendidikan Islam tertua dan khas Indonesia ini akan terus dilakukan, bahkan ditingkatkan.

Badan Kerja Sama Pondok Pesantren Indonesia (BKSPPI) mengapresiasi sekaligus memberikan masukan terhadap program afirmasi pesantren tersebut. Ketua Umum BKsPPI, Prof KH Didin Hafidhuddin, mengatakan, pada prinsipnya program itu bagus untuk penguatan pesantren, tetapi jati diri dari pesantren jangan sampai hilang.

"Jati diri pesantren dalam bidang ideologi, misalnya, ideologinya harus tetap ahlussunah waljamaah, jangan berubah menjadi sekuler atau liberal atau pluralisme dan lain sebagainya," ujar Kiai Didin kepada Republika, Rabu (20/1).

 
Jati diri pesantren dalam bidang ideologi, misalnya, ideologinya harus tetap ahlussunah waljamaah.
 
 

Para santri adalah kader ulama yang akan memimpin umat dan bangsa pada masa yang akan datang. Karena itu, pendekatan akademisnya harus pendekatan yang komprehensif, bukan sekadar yang berkaitan dengan teori. Kemudian, implementasinya harus dipraktikkan dalam kehidupan.

Ia juga memberikan masukan untuk program afirmasi pesantren. Menurut dia, perlu juga dikembangkan infrastruktur teknologi di pesantren pada zaman digital seperti sekarang ini.

Kiai Didin menyampaikan, sekarang banyak dai yang berdakwah secara daring. Karena itu, semua santri harus memiliki kemampuan dan keahlian dalam bidang teknologi digital.

Ia juga mengingatkan, ulama harus mengetahui perkembangan dan keadaan zaman. Ulama tidak boleh ketinggalan zaman, termasuk dalam bidang teknologi.


×