Edisi | , 20 Maret 2019

TNI menangkap salah seorang OPM | Sumber Foto:Antara

Teror di Nduga


Menko Polhukam memerintahkan pelaku dikejar habis-habisan.
Oleh : fitrian zamzami | fitrian zamzami

NDUGA -- Sejumlah pekerja proyek pembangunan jembatan yang menghubungkan jalan Transpapua di Kabupaten Nduga dilaporkan aparat keamanan menjadi korban pembunuhan. Meski jumlah korban belum bisa dipastikan, peristiwa itu disebut terkait dengan upacara peringatan kemerdekaan Papua Barat yang dirayakan Tentara Pembebasan Nasional/Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM) tak jauh dari lokasi kejadian.

“Ada 31 orang yang menjadi korban (pembunuhan),” kata Kapolres Jayawijaya, AKBP Yan Pieter Reba, saat dihubungi Republika, kemarin. Insiden tersebut terjadi di sekitar pengerjaan jembatan Kali Yigi-Kali Aurak di Distrik Yigi, Nduga, pada Ahad (2/12).

Yan Pieter menuturkan, pembunuhan tersebut terjadi lantaran ada salah seorang pekerja proyek yang tidak sengaja mengambil foto kegiatan upacara kelompok teroris TPN/OPM. Hal tersebut membuat anggota kelompok bersenjata tersebut marah dan  mencari kemudian membunuh para pekerja proyek.

“Kami belum tahu pasti di sana masih ada yang hidup atau tidak, tapi yang jelas SOP kami melakukan upaya-upaya penyelamatan korban,” ujar Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Muhammad Iqbal, di Jakarta Selatan, Selasa (4/12).  

"Habis-habisan sampai ketemu, dikerahkan (pasukan)."
 
 

Kepala Penerangan Daerah Militer XVII/Cendrawasih, Kolonel Inf Muhammad Aidi, juga menyebutkan, informasi mengenai jumlah pekerja yang dibunuh di Nduga belum dapat benar-benar dipastikan. Laporan awal yang ia terima, 24 orang pekerja menjadi korban pembunuhan. Kemudian laporan dari PT Istaka Karya menyebutkan, ada 31 personel mereka yang bekerja di lokasi tersebut. "Tapi, kami belum bisa pastikan yang benarnya yang mana, korbannya berapa. Apakah seluruhnya jadi korban atau ada yang selamat karena kami belum bisa mendapatkan informasi lebih detail lagi," tutur Aidi, kemarin sore.

Pada Selasa (4/12) pagi, sekitar 150-an pasukan TNI/Polri dikerahkan untuk melakukan evakuasi korban. Kendati demikian, hingga malam hari evakuasi belum berhasil dilakukan. "Karena faktor cuaca sehingga aparat keamanan saat ini dipusatkan di Mbua," kata Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Kamal di Jayapura, kemarin.

Namun, tercatat empat orang dari Distrik Mbua sudah dievakuasi ke Wamena, termasuk dua karyawan PT Istaka yang mengalami luka tembak. Sedangkan, dua lainnya merupakan petugas telekomunikasi dan petugas puskesmas setempat.

Dari informasi keempat orang tersebut diketahui bahwa Pos TNI di Distrik Mbua hancur diserang dan satu anggota TNI gugur. "Diduga, penyerang adalah kelompok KKB pimpinan Egianus Kogoya," ucap Kamal. Keempat penyintas juga menuturkan bahwa penyerangan dilakukan TPN/OPM dengan dukungan sekitar 250 warga setempat.

Pihak TPN/OPM sejauh ini belum mengklaim terlibat dalam insiden di Distrik Yigi ataupun penyerangan pos di Mbua. Sebelumnya, pihak TPN/OPM lekas merilis lansiran ke media selepas penyerangan-penyerangan disertai foto-foto.

 
Pembunuhan terhadap para pekerja yang sedang membangun jembatan merupakan aksi yang amat biadab. "Artinya, mereka sudah berbakti berjuang untuk kebaikan Papua, kebaikan masyarakat Papua."
Wiranto
 

Target warga sipil dalam jumlah besar ini juga jarang dilakukan TPN/OPM yang biasanya menyasar personel TNI/Polri. Jika jumlah korban meninggal yang diduga aparat sebanyak 31 orang benar, itu adalah penyerangan dengan korban terbanyak sejauh ini. Jumlah tersebut melampaui 30 personel polisi yang gugur diserang TPN/OPM sepanjang 2010 hingga 2018.

Menko Polhukam Wiranto mengatakan, telah berbicara kepada Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto terkait pembunuhan di Nduga. "Habis-habisan sampai ketemu, dikerahkan (pasukan)," ujar Wiranto, di Jakarta, kemarin.

Menurut Wiranto, pembunuhan terhadap para pekerja yang sedang membangun jembatan merupakan aksi yang amat biadab. "Artinya, mereka sudah berbakti berjuang untuk kebaikan Papua, kebaikan masyarakat Papua. Lalu ditembakin, dibunuh gitu, ini tentu hal yang sangat tak terpuji," kata dia.
 

fitrian zamzami
Redaktur
fitrian zamzami
Redaktur
Hikmah

Kenikmatan Semu

Gunakan harta kekayaan, jabatan dan kekuasaan yang kita peroleh untuk beribadah dan berbagai amal saleh, agar dapat meraih ridha Allah SWT.
Oleh : AGUS SOPIAN