Edisi | , 19 Juni 2019

Warga ditengah TNI Polri | Sumber Foto:Republika

‘Warga Takut OPM, Takut TNI/Polri Juga’


Warga tak tenang karena kerap melihat orang membawa senjata, baik dari pihak Tentara Pembebasan Nasional/Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM) maupun TNI/Polri.
Oleh : stevie maradona | STEVY MARADONA

Peristiwa penyerangan di Distrik Yigi, Nduga, sejauh ini nyaris sepenuhnya berdasarkan keterangan pihak kepolisian dan TNI. Nyaris tak ada pihak yang bisa ditanyai soal detail peristiwa tersebut. Keterangan kejadian selain versi kepolisian sejauh ini baru bisa didapatkan //Republika// dari Wakil Ketua DPRD Nduga, Alimin Dwijangge.

Menurut informasi kepolisian dan TNI, Dwijangge merupakan pemilik rumah yang sempat dijadikan lokasi mengungsi delapan pekerja selepas insiden pembunuhan di Distrik Yigi pada Ahad (2/12). 

Dwijangge menuturkan, ia memang memiliki kediaman di Distrik Yal. Meski begitu, rumah itu jarang ditempatinya. Sejak Sabtu (1/12) pekan lalu hingga kemarin, ia mengatakan berada di Kenyam, ibu kota Kabupaten Nduga. Lokasi tersebut sekira lima hari berjalan kaki dari lokasi insiden.

photo


Menurut Dwijangge, ia memiliki alasan tersendiri jarang berada di Yal. Ia menuturkan, distrik itu adalah satu dari sepuluh distrik yang dianggap rawan warga tempatan belakangan. Distrik-distrik lainnya adalah Distrik Mugi, Distrik Mam, Distrik Nirkuri, Distrik Inikgal, Distrik Yigi, Distrik Dal, Distrik Mbulmu Yalma, Distrim Mbua, dan Distrik Mbua Tengah.

Di distrik-distrik itu, kata Dwijangge, warga tak tenang karena kerap melihat orang membawa senjata, baik dari pihak Tentara Pembebasan Nasional/Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM) maupun TNI/Polri. Tak jarang juga kedua pihak saling tukar tembakan. “Jadi, masyarakat takut OPM juga, takut TNI-Polri juga, jadi takutnya karena itu. Jangan sampai ini (terjadi) lagi, mereka (warga) masih trauma,” tutur Dwijangge.

Pada Senin (2/12) kemudian datang kabar itu. Ia mengatakan, delapan pekerja bangunan dibawa warga mengungsi dari Distrik Yigi ke kediamannya di Yal. “Adik-adik dan masyarakat yang bawa,” ujar dia. Para pekerja itu, kata dia, terdiri atas empat pekerja bangunan puskesmas dan empat pekerja bangunan sekolah. Mereka berasal dari Manado dan Toraja dan sudah sekitar sebulan berada di Nduga.

photo


Para pekerja itu, kata Dwijangge, ketakutan mendengar ada pembunuhan tak jauh dari lokasi mereka bekerja di pinggir jalan Transpapua. “Tidak ada, mereka tidak kena apa-apa, mereka hanya takut,” kata Dwijangge. Delapan pekerja itu pada Senin (3/12) kemudian dibawa turun ke Distrik Koroptak yang memiliki lapangan terbang sembari menunggu dijemput ke ibu kota kabupaten.

Bagaimana soal korban tewas? Dwijangge menyatakan, ia hanya mengetahui jumlahnya ada sebanyak 24 orang. “Korban sementara 24 orang yang kami tahu. Pekerja PT (Istaka Karya) itu di Kali Yigi sama Kali Aurak,” ujar dia.

Alimi mengatakan, hingga kemarin sore korban masih berada di lokasi kejadian yang berada di dua lokasi yang berbeda di sekitar Gunung Kabo. Ia menyampaikan, pada Selasa (4/12) sudah melihat anggota gabungan TNI-Polri yang masuk ke Distrik Mbua menggunakan empat helikopter. Kendati demikian, rombongan itu berbalik tanpa membawa seluruh korban.

Sebelumnya, berdasarkan keterangan resmi dari Polda Papua, Senin (3/12), sebanyak 31 orang pekerja proyek Istaka Karya yang sedang membangun jembatan di Kali Yigi dan Aurak Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, tewas dibunuh. Sebanyak 24 orang dibunuh terlebih dahulu, kemudian delapan orang sempat menyelamatkan diri ke rumah seorang anggota DPRD. Namun, delapan orang itu dijemput pihak terduga pembunuh hingga menewaskan tujuh orang dan satu orang belum ditemukan.

Namun, belakangan pihak kepolisian dan TNI menyatakan belum bisa memastikan jumlah korban meninggal. Baru pada Selasa malam, pihak TNI melansir bahwa pasukan gabungan TNI-Polri telah berhasil mengevakuasi 12 masyarakat sipil dari Distrik Mbua di Nduga menuju ke Kabupaten Wamena. Dari jumlah tersebut, terdapat tiga orang yang mengalami luka tembak.

"Pukul 17.55 WIT pasukan gabungan berhasil mengevakuasi 12 masyarakat sipil ke Wamena menggunakan helikopter," ujar Wakapendam XII/Cendrawasih, Letkol Infanteri Dax Sianturi, kemarin.

Jumlah tersebut terdiri atas 4 orang karyawan PT Istaka Karya, 6 orang pekerja Puskesmas Distrik Mbua, dan 2 orang pekerja lainnya di Distrik Mbua. Di antara mereka, 3 orang yang merupakan karyawan PT Istaka Karya mengalami luka tembak. "Korban luka sedang mendapat perawatan dari tim medis. Sementara yang lain diamankan oleh aparat TNI-Polri," ujar Dax.

Pihak kepolisian dan TNI sementara ini menduga bahwa pelaku penyerangan yang menewaskan para pekerja adalah pasukan TPN/OPM yang dipimpin Egianus Kogoya. Kendati demikian, belum ada pernyataan dari gerombolan tersebut soal kejadian di Nduga.

“Kalau soal bertanggung jawab ini kami belum umumkan karena belum ada pernyataan resmi dari pimpinan militer,” kata Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Sebby Sambom ketika dihubungi //Republika//, kemarin malam.

Bagaimanapun, ia tak menutup kemungkinan bahwa penyerangan di Nduga dilakukan pasukannya. Jika hal tersebut yang terjadi, kata Sebby, penyerangan tak lain sebagai bentuk penolakan terhadap semua bentuk pembangunan yang dilakukan Pemerintah Indonesia di Papua.

Ia juga mempertanyakan status para pekerja jalur Transpapua di Nduga yang kerap disebut merupakan warga sipil. “Yang jelas, 31 orang yang bekerja di jalan Transpapua adalah anggota TNI/Polri, bukan pekerja sipil,” kata dia.

 
"Saya sebagai menteri pertahanan juga bertanggung jawab. Tanggung jawab saya juga, bukan hanya polisi dan tentara saja. Saya bertanggung jawab."
Ryamizard Ryacudu, Menteri Pertahanan (Menhan)
 


Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu menegaskan, sebagai menteri pertahanan dia ikut bertanggung jawab atas terjadinya insiden di Nduga. "Saya sebagai menteri pertahanan juga bertanggung jawab. Tanggung jawab saya juga, bukan hanya polisi dan tentara saja. Saya bertanggung jawab," ujar Ryamizard di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (4/12).

Untuk membantu proses evakuasi korban, Ryamizard menginstruksikan untuk mengirimkan helikopter dengan kapasitas yang cukup besar. Sementara itu, terkait langkah apa yang dilakukan selanjutnya, ia mengaku akan membicarakan terlebih dahulu dengan TNI dan Polri.

Ia juga menegaskan, pelaku penembakan terhadap pekerja tersebut tak bisa lagi disebut sebagai kelompok kriminal bersenjata (KKB). "Mereka itu bukan kelompok kriminal, tapi pemberontak. Mengapa saya bilang pemberontak? Ya, //kan// mau memisahkan diri Papua dari Indonesia," kata Ryamizard.

Ryamizard menilai, upaya-upaya pemberontakan yang dilakukan kelompok tersebut harus ditangani oleh TNI langsung. Berbeda jika dikatakan kelompok kriminal yang penanganannya dilakukan oleh polisi.

stevie maradona
Redaktur